• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Amrizal

Amrizal

Menyinari Tanpa Mengharap Pujian

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
29 September 2026
in Kolom
0

Menyinari Tanpa Mengharap Pujian

(Tulisan ke-75 dari Beberapa Tulisan Bertema Kaderisasi)

Oleh: Amrizal – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumatera Utara / Dosen Universitas Negeri Medan

 

Pernahkah kita menghitung berapa kali matahari terlambat terbit? Tidak pernah. Sejak Allah menciptakan langit dan bumi, matahari menjalankan tugasnya dengan ketepatan yang menakjubkan. Ia hadir setiap pagi tanpa perlu diingatkan. Ia tidak meminta penghargaan. Tidak menunggu tepuk tangan. Tidak pula memilih siapa yang layak menerima cahayanya. Ia hanya terus bersinar. Mungkin karena itu Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia memperhatikan matahari. Bukan semata sebagai benda langit, tetapi sebagai tanda kebesaran Allah dan pelajaran bagi orang-orang yang mau berpikir.

Allah berfirman,

“Dan Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya serta ditetapkan-Nya tempat-tempat orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar…” (QS. Yunus: 5)

Di ayat lain Allah menegaskan,

“Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan, dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yasin: 40)

Matahari ternyata sedang mengajarkan sesuatu yang sangat penting. Tentang disiplin. Tentang pengabdian. Tentang kepemimpinan. Dan tentang keikhlasan.

Tidak ada makhluk yang lebih disiplin daripada matahari. Ia tidak pernah berkata, “Hari ini aku lelah.” Ia tidak menunda terbit karena cuaca buruk. Ia tidak berhenti bersinar karena manusia tidak menghargainya. Ia tetap menjalankan amanahnya. Begitulah seorang kader Muhammadiyah. Disiplin bukan sekadar datang tepat waktu ke rapat. Disiplin adalah kesetiaan terhadap amanah. Kesungguhan menjaga komitmen. Istikamah dalam dakwah, meskipun tidak selalu terlihat hasilnya.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.

Sejarah Muhammadiyah pun dibangun oleh istiqamah. Bukan oleh ledakan semangat sesaat. Tetapi oleh kerja panjang yang dilakukan terus-menerus selama lebih dari satu abad.

Cahaya matahari tidak pernah bertanya, “Siapa agamamu?” “Apa organisasimu?” “Siapa pilihan politikmu?” Ia menyinari rumah orang kaya dan gubuk orang miskin. Ia menghangatkan orang saleh dan pendosa. Ia tidak memilih kepada siapa manfaat itu diberikan. Betapa agung pelajaran tersebut. Kader Muhammadiyah tidak boleh membatasi manfaat hanya kepada kelompoknya sendiri. Islam Berkemajuan mengajarkan rahmat bagi seluruh alam. Sekolah Muhammadiyah menerima siapa pun yang ingin belajar. Rumah sakit Muhammadiyah melayani siapa pun yang membutuhkan pertolongan. Lembaga zakat Muhammadiyah menjangkau siapa pun yang memerlukan bantuan. Karena cahaya dakwah tidak boleh berhenti pada tembok organisasi. Ia harus menerangi masyarakat.

Ada kenyataan yang menggetarkan. Setiap detik, matahari melepaskan energi yang luar biasa besar agar kehidupan di bumi tetap berlangsung. Tanpa panas dan cahayanya, tumbuhan tidak dapat berfotosintesis. Air tidak menguap. Hujan tidak turun. Sawah tidak menghasilkan padi. Tidak ada kehidupan. Matahari seakan berkata, “Hidupku bermakna ketika orang lain hidup karenanya.” Bukankah ini hakikat pengabdian? Seorang guru menghabiskan waktu agar muridnya tumbuh. Seorang dokter berjaga malam agar pasiennya sembuh. Seorang dai mengorbankan kenyamanan agar umat memperoleh hidayah. Seorang kader mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan waktunya agar Muhammadiyah terus hidup. Pengorbanan memang melelahkan. Tetapi dari pengorbanan itulah kehidupan lahir.

Matahari tidak membutuhkan cahayanya. Yang menikmati adalah bumi. Yang tumbuh adalah tanaman. Yang hidup adalah manusia. Yang memperoleh manfaat adalah seluruh makhluk.

Begitulah seorang kader. Ilmu yang dimiliki bukan untuk dipamerkan. Jabatan bukan untuk meninggikan diri. Kepemimpinan bukan untuk dilayani. Semuanya harus menjadi cahaya bagi orang lain. Semakin banyak kehidupan yang tumbuh karena kehadiran kita, semakin bermakna hidup kita.

Allah menciptakan matahari dan bulan dengan tugas yang berbeda. Matahari tidak iri kepada bulan yang indah di malam hari. Bulan tidak berusaha menggantikan matahari pada siang hari. Masing-masing berjalan pada orbitnya. Tidak saling bertabrakan. Tidak saling menjatuhkan. Tidak saling merebut peran. Inilah adab berjamaah. Dalam Muhammadiyah, tidak semua kader dipanggil menjadi ketua. Tidak semua menjadi dosen. Tidak semua menjadi mubaligh. Tidak semua memimpin amal usaha. Namun setiap amanah memiliki kemuliaannya sendiri. Persoalan muncul ketika seseorang ingin keluar dari orbit pengabdiannya hanya demi memperoleh pengakuan. Padahal Allah menciptakan keteraturan justru karena setiap makhluk setia kepada tugasnya.

Kadang langit tampak gelap. Matahari seolah menghilang. Padahal sesungguhnya ia tetap bersinar. Yang berubah hanyalah pandangan kita. Demikian pula seorang kader. Ada masa ketika pengorbanannya tidak dihargai. Karyanya tidak dilihat. Namanya tidak disebut. Bahkan mungkin ia dikritik. Namun jika niatnya karena Allah, cahaya itu tidak pernah padam. Ia hanya tertutup oleh awan sesaat. Tidak semua amal harus segera terlihat oleh manusia. Allah melihatnya. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Ada orang yang hanya bersemangat ketika dipuji. Ada yang rajin ketika memperoleh jabatan. Ada yang aktif ketika berada di depan kamera. Namun setelah sorotan hilang, semangatnya ikut redup.

Matahari mengajarkan kebalikan. Ia tidak membutuhkan tepuk tangan untuk tetap bersinar. Ia tetap memberi meski tidak disebut. Ia tetap hadir meski tidak dipuji. Muhammadiyah membutuhkan kader seperti itu. Kader yang bekerja karena panggilan iman. Bukan karena panggilan popularitas.

Suatu hari nanti, masa kepengurusan akan selesai. Jabatan akan berganti. Nama kita mungkin hanya tersisa dalam lembar sejarah. Namun cahaya yang pernah kita nyalakan dapat terus menerangi generasi sesudah kita. Ia hidup dalam sekolah yang kita bangun. Dalam kader yang kita didik. Dalam buku yang kita tulis. Dalam masjid yang kita makmurkan. Dalam masyarakat yang kita layani. Barangkali itulah sebabnya Allah menciptakan matahari. Bukan sekadar untuk menerangi bumi. Tetapi agar manusia belajar bahwa kemuliaan sejati bukanlah menjadi pusat perhatian. Melainkan menjadi sumber kehidupan. Maka jadilah seperti matahari. Istikamah dalam amanah. Disiplin dalam pengabdian. Menyinari tanpa memilih. Memberi tanpa menghitung. Berkorban tanpa mengeluh. Dan tetap bercahaya meski tidak ada seorang pun yang bertepuk tangan. Sebab kader Muhammadiyah yang sejati bukanlah mereka yang paling sering tampil di hadapan manusia. Melainkan mereka yang, seperti matahari, diam-diam menghadirkan kehidupan bagi umat, menerangi jalan peradaban, dan menghangatkan dunia dengan cahaya ilmu, amal, serta keikhlasan yang tidak pernah padam.

 

Wallāhu a’lam bi al-shawāb.

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: amrizalKaderisasikolommengharap pujian
Previous Post

Kasus Influenza A di Sumut dan Medan Meningkat, Masyarakat Diimbau Waspada

Next Post

Budaya 3S sebagai Wujud Karakter Islami Siswa SMK Mutu Kota Mojokerto

Next Post
Budaya 3S sebagai Wujud Karakter Islami Siswa SMK Mutu Kota Mojokerto

Budaya 3S sebagai Wujud Karakter Islami Siswa SMK Mutu Kota Mojokerto

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.