Menyemai Arah, Meneguhkan Kader: Dari Tebing Tinggi Menuju Dakwah Berkelanjutan
Oleh : Jufri
Sore Rabu sebagaimana biasanya , adalah rapat rutin PDM Tebing Tinggi. Kali ini ruang rapat PDM Tebing Tinggi terasa lebih hidup dari biasanya. Bukan sekadar rutinitas organisasi, melainkan ruang di mana harapan berdenyut pelan namun pasti. Setiap gagasan yang disampaikan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi menjelma menjadi ikhtiar kolektif untuk merawat dan menguatkan gerakan dakwah.
Pembahasan tentang rencana Training of Trainers (TOT) Majelis Tabligh Wilayah Sumatera Utara yang akan digelar pada 14–16 Mei 2026 di Tebing Tinggi menjadi titik temu antara kesadaran akan tanggung jawab dan kebutuhan akan peningkatan kapasitas kader. TOT ini tidak bisa dipandang sekadar agenda teknis atau rutinitas pelatihan. Ia adalah ruang pembentukan arah—tempat para penggerak tabligh ditempa bukan hanya untuk menyampaikan pesan, tetapi juga untuk menggerakkan perubahan.
Di tengah dinamika zaman yang terus bergerak, dakwah tidak lagi cukup berdiri di atas mimbar semata. Ia harus hadir dalam ruang-ruang sosial yang lebih luas, menjawab persoalan masyarakat, merespons perubahan budaya, bahkan mampu menavigasi dunia digital yang semakin kompleks. Karena itu, pelatihan yang terstruktur, sistematis, dan berkelanjutan menjadi sebuah keniscayaan, bukan pilihan.
Diskusi kemudian mengalir pada agenda berikutnya: rencana pengkaderan yang akan dilaksanakan pada Juni 2026 di Parapat, Sumatera Utara. Di titik ini, terasa jelas bahwa organisasi tidak hanya berpikir tentang hari ini, tetapi juga tentang hari esok. Jika TOT adalah penguatan peran, maka pengkaderan adalah penyiapan generasi. Keduanya saling menguatkan, tidak bisa dipisahkan.
Parapat, dengan lanskap alamnya yang tenang dan menghadirkan ruang kontemplasi, menjadi pilihan yang seakan memiliki makna tersendiri. Pengkaderan bukan hanya soal transfer pengetahuan, tetapi juga tentang pembentukan karakter, penajaman kesadaran, dan peneguhan nilai. Di sana, kader tidak hanya belajar tentang struktur dan program organisasi, tetapi juga belajar memahami dirinya, menimbang tanggung jawabnya, dan menemukan arah pengabdiannya.
Kedua kegiatan ini merupakan bagian dari gebyar Muktamar Muhammadiyah ke-49 Sumatera Utara dengan tema, “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.” Sebuah tema yang tidak hanya indah secara naratif, tetapi juga menegaskan arah gerakan—bahwa kecerdasan harus melahirkan pencerahan, dan pencerahan itu harus dirasakan oleh semesta.
Dari rapat yang tampak sederhana itu, tersirat satu kesadaran penting: bahwa gerakan ini tetap hidup karena ada kemauan bersama untuk merawatnya. Keberlanjutan tidak pernah terjadi dengan sendirinya. Ia harus dirancang dengan visi, dipersiapkan dengan kesungguhan, dan dijalankan dengan komitmen yang konsisten.
Barangkali inilah makna kaderisasi yang berkemajuan dan berkelanjutan—sebuah proses yang tidak hanya menyiapkan individu untuk mengisi posisi, tetapi juga membentuk jiwa yang siap mengemban amanah. Dari Tebing Tinggi, langkah-langkah itu sedang disusun. Mungkin tampak kecil, tetapi mengandung harapan besar—untuk Sumatera Utara, dan untuk masa depan dakwah yang lebih mencerahkan, lebih membumi, dan lebih relevan dengan zaman.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

