Mengapa Perkaderan Bukan Pengkaderan
Oleh Hatib Rachmawan – Dosen Ilmu Hadis FAI UAD, MPKSDI PP Muhammadiyah
Dalam rihlah Darul Arqam PWM Sumut saya bertemu salah satu peseta terlucu. Namanya Jufri. Lengkapnya saya lupa. Di balik karakter yang jenaka, ternyata ia sangat produktif dalam tulisan.
Tulisan ini ingin merespons salah satu tulisannya yang berjudul “Menjalani Hidup yang Excellent, Bukan Sok Paten”. Namun bukan pada substansi isinya yang keren. Melain pada satu kata yang digunakan di dalam esai tersebut. Kata itu adalah pengkaderan.
Di Muhammadiyah tidak menggunakan kata _pengkaderan._ Dari kata kader ditambah prefiks (peng-) menjadi pengkaderan. Mengapa? Kata ini maknanya sama seperti kaleng kemudian ditambah prefiks (peng-) menjadi pengalengan, ada huruf K yang luluh. Bukan itu yang penting, melainkan maknanya. Pengalengan bermakna ada sesuatu yang menjadi objek. Misal “pengalengan ikan”. Artinya ikan menjadi objek yang dikalengkan.
Peserta pelatihan seperti DA kemarin adalah orang dewasa. Ciri orang dewasa adalah sudah memiliki pengalaman dan pengetahuan. Karakter orang dewasa dalam belajar tidak suka digurui. Orang dewasa lebih senang berdialog. Pemahamannya juga rasional.
Berdasar itulah pelatihan di Muhammadiyah menjadikan peserta sebagai subjek, bukan objek pasif, kosong seperti botol yang perlu diisi. Melainkan orang dewasa yang memiliki segudang pengalaman dan pemahaman. Sehingga Tim instruktur hanyalah fasilitator yang hanya mengorkestrasi semua pengalaman dan pemahaman peserta menjadi sebuah dinamika belajar.
Oleh sebab itu falsafah Andragogi (pembelajaran orang dewasa) digunakan dalam perkaderan. Konsekuensinya Muhammadiyah tidak boleh mengunakan kata “pengkaderan” yang memiliki makna menjadikan peserta pelatihan sebagai objek. Kata yang digunakan dan yang paling tepat adalah “perkaderan” yang bermakna peserta adalah subjek aktif yang selalu memberikan makna. (***)

