Melintasi Tahun, Meneguhkan Perjuangan: Baitul Arqam, Hijrah, dan Kaderisasi yang Tak Pernah Berhenti
Oleh Jufri
Ternyata pengkaderan Baitul Arqam yang berlangsung di Komplek Perguruan Muhammadiyah Serbelawan memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar agenda pelatihan kader. Kegiatan ini berlangsung sejak 28 Zulhijjah 1447 H hingga 1 Muharram 1448 H, melintasi pergantian tahun Hijriah. Sebuah momentum yang jarang terjadi, tetapi sarat makna. Para peserta tidak hanya mengikuti proses pengkaderan dalam rentang waktu yang berbeda, melainkan juga menjadi saksi perpindahan satu tahun ke tahun berikutnya dalam kalender Islam. Seakan mengingatkan bahwa kaderisasi adalah proses yang terus berlanjut, menyambungkan semangat perjuangan dari masa lalu menuju masa depan, dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Pergantian tahun biasanya menjadi momentum refleksi. Ada kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan yang telah dilalui, merenungkan berbagai capaian dan kekurangan, serta memperbarui niat untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Dalam Islam, pergantian tahun Hijriah tidak dimaknai sebagai perayaan semata, melainkan sebagai waktu untuk bermuhasabah, memperkuat keimanan, dan memperteguh komitmen dalam beribadah serta beramal saleh.
Di saat yang sama, para peserta Baitul Arqam menjalani proses kaderisasi. Mereka mempelajari nilai-nilai Islam, memahami gerakan Muhammadiyah, memperkuat ideologi, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa menjadi kader bukanlah soal status, melainkan amanah dan tanggung jawab untuk menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan masyarakat.
Pengkaderan yang berlangsung melintasi tahun Hijriah mengandung pesan yang kuat. Waktu boleh berganti, generasi boleh berubah, dan tantangan boleh berkembang, tetapi kaderisasi tidak boleh berhenti. Sebab setiap zaman membutuhkan kader yang siap melanjutkan perjuangan, menjaga nilai-nilai kebaikan, dan menghadirkan solusi bagi persoalan kehidupan.
Peristiwa hijrah Rasulullah SAW yang menjadi awal penanggalan Hijriah sesungguhnya juga mengandung pelajaran penting tentang pembinaan manusia. Rasulullah SAW tidak hanya membangun masyarakat Madinah, tetapi juga membentuk generasi yang beriman, berilmu, berakhlak, dan mampu memikul tanggung jawab dakwah. Dari proses pembinaan itulah lahir para sahabat yang menjadi penggerak perubahan dan pembangun peradaban.
Muhammadiyah memahami bahwa amal usaha yang besar tidak akan bertahan tanpa kader. Sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, masjid, dan berbagai amal usaha lainnya membutuhkan generasi penerus yang memahami nilai, cita-cita, dan semangat perjuangan yang melahirkannya.
Karena itu, Baitul Arqam bukan sekadar ruang belajar. Ia adalah tempat menanam benih-benih kepemimpinan, pengabdian, dan pencerahan. Di dalamnya tumbuh semangat untuk belajar, berorganisasi, berdakwah, dan mengabdi kepada masyarakat.
Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, tantangan kaderisasi semakin kompleks. Generasi muda hidup dalam era yang penuh informasi, namun sering kali menghadapi krisis keteladanan dan arah hidup. Karena itu, kaderisasi harus mampu membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual, matang secara emosional, dan peduli terhadap persoalan sosial.
Kader Muhammadiyah tidak cukup hanya memiliki pengetahuan. Mereka juga harus memiliki integritas, kepekaan sosial, semangat melayani, dan kemampuan membangun kerja sama. Dakwah dan gerakan kemajuan membutuhkan kolaborasi, sinergi, dan kesediaan untuk bekerja bersama demi kemaslahatan yang lebih luas.
Pergantian tahun 1447 H menuju 1448 H mengingatkan bahwa perjalanan hidup memiliki batas. Setiap pergantian waktu adalah pengingat agar tidak menunda kebaikan, tidak menunda belajar, dan tidak menunda memberikan manfaat kepada sesama. Sebab sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Lebih dari itu, Baitul Arqam yang berlangsung dari 28 Zulhijjah hingga 1 Muharram seakan mengajarkan bahwa hijrah bukan hanya peristiwa sejarah yang diperingati setiap tahun. Hijrah adalah semangat perubahan yang harus terus hidup dalam diri setiap muslim. Berpindah dari ketidakpedulian menuju kepedulian, dari kemalasan menuju produktivitas, dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kepentingan pribadi menuju kemaslahatan bersama.
Ketika Baitul Arqam berlangsung melintasi tahun Hijriah, tersirat pesan bahwa perjuangan tidak mengenal batas kalender. Dakwah tidak berhenti karena pergantian tahun. Kaderisasi tidak selesai dalam satu kegiatan. Ia adalah proses panjang yang akan terus berlangsung dari generasi ke generasi.
Semoga tahun 1448 Hijriah menjadi tahun yang melahirkan lebih banyak kader yang berilmu, berakhlak, berintegritas, dan siap mengabdi untuk kemajuan umat dan bangsa. Kader yang memahami sejarah perjuangan Muhammadiyah, mencintai Indonesia sebagai tanah air, serta mampu menjawab tantangan zaman dengan ilmu, hikmah, dan keteladanan.
Karena sesungguhnya, pergantian tahun bukan hanya tentang bertambahnya angka. Ia adalah kesempatan untuk memperbarui komitmen, memperkuat pengabdian, dan meneguhkan langkah menuju masa depan yang lebih baik.
Sebagaimana tema besar Muhammadiyah, “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya”, kaderisasi adalah investasi peradaban. Dari ruang-ruang Baitul Arqam akan lahir guru, pemimpin, intelektual, aktivis, dan penggerak masyarakat yang menghadirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Islam Berkemajuan bukan hanya slogan, tetapi kerja nyata yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Dari kader yang belajar hari ini akan lahir pemimpin masa depan yang membawa Muhammadiyah terus mencerahkan, mencerdaskan, dan memajukan kehidupan.
Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

