Mata Air Pancasila, Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya: Komitmen Darul Ahdi wa Syahadah dalam Membangun Indonesia Berkarakter
Oleh: Jufri
Subuh ini pikiran saya terasa sedikit lebih berat. Ada beberapa pekerjaan yang harus segera diselesaikan, tetapi semuanya harus dimulai dengan berpikir. Saya teringat petuah orang bijak bahwa sebelum bekerja harus dipikirkan, dan setelah dipikirkan barulah dikerjakan. Kalimat sederhana itu kembali mengingatkan bahwa kualitas sebuah tindakan sering kali ditentukan oleh kualitas cara kita berpikir.
Di tengah suasana hening menjelang pagi, pandangan saya kemudian tertuju pada dua buku karya Dr. Yudi Latif yang saya peroleh melalui cara yang berbeda. Satu saya beli karena memang ingin memilikinya, sementara yang satu lagi saya dapatkan sebagai hadiah dari seorang sahabat. Meski hadir melalui jalan yang berbeda, keduanya seolah saling melengkapi karena mengangkat tema yang sama: Indonesia dan Pancasila. Membaca kedua buku itu bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga mengajak saya merenungkan kembali makna menjadi warga negara Indonesia yang beragama, berakhlak, mencintai tanah air, dan bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa.
Membaca dua karya Dr. Yudi Latif membuat saya semakin memahami bahwa Pancasila bukan sekadar dasar negara yang dihafalkan di sekolah atau dibacakan dalam upacara. Pancasila adalah mata air kebangsaan yang terus mengalir memberi kehidupan bagi Indonesia yang majemuk. Di dalamnya terdapat nilai-nilai yang telah hidup jauh sebelum republik ini berdiri, kemudian dirumuskan menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kang Yudi menjelaskan sejarah lahirnya Pancasila dengan bahasa yang mudah dipahami, tetapi tetap kaya makna. Ia menggambarkan bagaimana hubungan Pancasila dengan bangsa Indonesia, bagaimana relasi agama dan negara dalam Negara Pancasila, serta mengapa Pancasila mampu menjadi titik temu bagi berbagai suku, agama, budaya, dan golongan.
Yang paling menarik bagi saya adalah penjelasan bahwa mengamalkan Pancasila sesungguhnya tidak memerlukan teori yang rumit. Keteladanan jauh lebih penting daripada pidato panjang. Ketika seseorang berlaku jujur, menepati janji, menghormati sesama, bekerja keras, menolong orang lain, serta menjaga persatuan, pada hakikatnya ia sedang mengamalkan Pancasila.
Di sinilah saya melihat adanya titik temu antara Pancasila dan ajaran agama. Seseorang yang sungguh-sungguh mengamalkan ajaran agamanya dengan benar hampir pasti akan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Kejujuran, keadilan, kasih sayang, amanah, musyawarah, serta kepedulian terhadap sesama merupakan nilai yang hidup dalam agama sekaligus menjadi ruh Pancasila. Karena itu, menjadi seorang yang taat beragama tidak bertentangan dengan menjadi seorang nasionalis. Justru keduanya saling menguatkan.
Pemikiran tersebut mengingatkan saya pada konsep Darul Ahdi wa Syahadah yang menjadi pandangan Muhammadiyah terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Indonesia adalah negara hasil konsensus nasional yang harus dijaga bersama, sekaligus ruang pengabdian untuk menghadirkan karya terbaik bagi kemajuan bangsa. Mencintai Indonesia bukan sekadar pilihan kebangsaan, tetapi juga bagian dari pengamalan nilai-nilai Islam Berkemajuan.
Refleksi ini terasa semakin relevan ketika Muhammadiyah bersiap menyelenggarakan Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara dengan tema “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.” Tema tersebut mengandung pesan yang sangat mendalam. Bangsa yang cerdas bukan hanya diukur dari tingginya angka pendidikan atau pesatnya kemajuan teknologi, tetapi juga dari kualitas karakter manusianya. Kecerdasan harus berjalan seiring dengan kejujuran, integritas, kepedulian, serta tanggung jawab moral.
Di sinilah pentingnya membangun manajemen sumber daya manusia yang berkelanjutan. Indonesia tidak cukup hanya membangun jalan, pelabuhan, bendungan, atau gedung-gedung megah. Yang jauh lebih penting adalah membangun manusia yang berkarakter. Manusia yang terus belajar sepanjang hayat, mampu beradaptasi terhadap perubahan, memiliki kompetensi, berintegritas, dan menjadikan agama serta Pancasila sebagai pedoman hidup. Sebab, sebesar apa pun kekayaan alam yang dimiliki, masa depan Indonesia pada akhirnya akan ditentukan oleh kualitas manusianya.
Muhammadiyah telah lama memberikan teladan melalui ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai amal usaha yang tersebar di seluruh Indonesia. Semua itu merupakan investasi jangka panjang dalam membangun sumber daya manusia yang unggul, berakhlak, dan mampu memberi manfaat bagi semesta. Inilah wujud nyata pengamalan Pancasila yang tidak banyak berbicara, tetapi banyak berkarya.
Sayangnya, dalam kehidupan berbangsa kita masih sering menyaksikan Pancasila berhenti sebagai slogan. Tidak sedikit orang yang lantang mengaku Pancasilais, tetapi masih akrab dengan dusta, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, intoleransi, dan berbagai bentuk ketidakjujuran. Padahal, Pancasila tidak membutuhkan teriakan. Pancasila membutuhkan keteladanan.
Karena itu, membaca buku-buku Yudi Latif menjadi pengalaman yang menyegarkan. Ia mengajak kita kembali kepada substansi, bahwa Pancasila harus hadir dalam setiap aktivitas kehidupan, mulai dari keluarga, sekolah, kampus, organisasi, tempat kerja, hingga penyelenggaraan negara. Nilai-nilai Pancasila harus tampak dalam keputusan, kebijakan, dan perilaku sehari-hari.
Sebagai anak bangsa, kita memikul amanah sejarah yang tidak ringan. Tugas kita bukan sekadar mewarisi Indonesia dari para pendiri bangsa, tetapi juga merawat dan menyempurnakannya. Ada nilai-nilai luhur yang harus terus kita teruskan, dan ada penyimpangan yang harus kita luruskan. Tugas kita adalah meneruskan yang benar dan meluruskan yang bengkok. Meneruskan tradisi kejujuran, gotong royong, persatuan, penghormatan terhadap konstitusi, serta semangat mencerdaskan kehidupan bangsa. Meluruskan praktik-praktik yang menyimpang dari nilai-nilai Pancasila, seperti kebohongan, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, politik yang menghalalkan segala cara, serta lunturnya keteladanan dalam kehidupan publik.
Mencerdaskan bangsa bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga pendidikan. Ia merupakan panggilan moral seluruh anak bangsa. Setiap guru yang mengajar dengan ikhlas, setiap orang tua yang mendidik dengan kasih sayang, setiap pemimpin yang berlaku adil, setiap mahasiswa yang belajar dengan sungguh-sungguh, setiap aparatur yang bekerja dengan jujur, sesungguhnya sedang menyalakan cahaya bagi Indonesia.
Subuh pun perlahan berganti pagi. Dua buku itu masih tergeletak di meja, tetapi pikiran saya terasa jauh lebih ringan. Saya menyadari bahwa membangun Indonesia tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat dimulai dari cara kita berpikir, cara kita bekerja, cara kita memperlakukan sesama, dan cara kita menjaga kepercayaan.
Mata air Pancasila tidak boleh dibiarkan mengering. Ia harus terus mengalir melalui ilmu pengetahuan, keteladanan, pengabdian, dan amal nyata. Itulah makna terdalam dari komitmen Darul Ahdi wa Syahadah, sekaligus ruh tema Muktamar Muhammadiyah ke-49: “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.” Ketika ilmu menjadi cahaya, agama menjadi pedoman, Pancasila menjadi arah, dan keteladanan menjadi budaya, di sanalah Indonesia akan melahirkan manusia-manusia unggul yang mampu meneruskan yang benar, meluruskan yang bengkok, serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari sanalah Indonesia akan melangkah menuju masa depan yang maju, adil, bermartabat, dan benar-benar bercahaya.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

