• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Masih Perlukah Mahasiswa Belajar Menulis di Era AI?

Masih Perlukah Mahasiswa Belajar Menulis di Era AI?

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
15 Februari 2026
in Majelis Pustaka & Informasi, Technology
0
Masih Perlukah Mahasiswa Belajar Menulis di Era AI?

Pakar Sosiologi Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Moh Mudzakkir PhD menyoroti tren ketergantungan mahasiswa kepada akal imitasi atau artificial intelligence (AI) dalam aktivitas menulis. Menurutnya, ini berbahaya sebab berpotensi melemahkan kemampuan berpikir kritis hingga skill berkomunikasi.

“AI itu membantu sebagai teman dialog. Tetapi kedalaman pengetahuan tetap manusianya yang menentukan. Kalau mahasiswa hanya mengandalkan AI, nanti juga akan terlihat, apalagi kalau dosennya juga paham AI,” ujarnya kepada wartawan Maklumat.id di Surabaya pada Rabu (14/2/2025).

Mudzakkir menegaskan bahwa perlu ada pembedaan yang jelas antara AI sebagai alat bantu dan ketergantungan terhadap AI. Adapun perbedaan keduanya terletak pada siapa yang menjadi aktor utama dalam proses berpikir.

Jika AI digunakan sebagai alat bantu, manusia tetap memegang kendali. Individu tersebut sudah memiliki dasar kemampuan membaca, menulis, dan memahami materi, lalu menggunakan AI untuk membantu sistematisasi ide hingga mencari celah pada tulisan yang sudah dibuat.

Dalam posisi ini, AI hanya memperkuat kemampuan yang sudah ada. Mudzakkir menjelaskan bahwa individu dengan tipe ini tetap berpikir sendiri. Sebab individu tersebut mampu menilai jawaban AI serta bertanggung jawab atas hasil akhirnya.

“AI juga sangat tergantung pada prompt atau umpan yang diberikan. Maka aktor utamanya tetap manusia. Semakin banyak stock of knowledge-nya, maka artikulasi pertanyaannya juga berbeda. AI membantu sistematisasi, iya. Membantu sebagai teman dialog, iya,” katanya.

Baca Juga  Warek Unesa Sarankan Langkah Ini untuk Jamin Keberlangsungan Sekolah Swasta dalam Penerapan Putusan MK

Ketergantungan kepada AI

Mudzakkir lalu menjelaskan bahwa ketergantungan terjadi ketika AI menggantikan proses berpikir itu sendiri. Individu dengan tipe ini adalah mereka yang langsung meminta AI membuatkan tulisan atau jawaban tanpa benar-benar memahami isinya.

Tipe ini tidak memiliki bekal pengetahuan yang cukup untuk menilai apakah jawaban tersebut tepat atau tidak. Lebih dari itu, tipe ini kehilangan daya kritis untuk melihat susunan bahasa dalam konteks bagaimana cara menyampaikan sesuatu.

“Kalau hanya memberi prompt, ‘Buatkan saya artikel dengan kategori ini, ini, ini,’ itu bukan sekadar membantu. Ini tentu tantangan bagi dunia akademik. Namun masing-masing bidang keilmuan mungkin punya standar berbeda,” ujarnya.

Dalam kondisi ini, AI bukan lagi alat bantu, melainkan menjadi “pengganti” usaha belajar. Mudzakkir mengingatkan jika kebiasaan ini terus berlangsung, maka kemampuan berkomunikasi dapat melemah karena tidak pernah benar-benar dilatih.

Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretair sPWM Jatim itu menjelaskan bahwa dosen kini dapat dengan sekali lihat membedakan mana tulisan yang sepenuhnya hasil AI dan mana yang tidak. Hal itu dapat terlihat, misalnya, dari gaya bahasa yang digunakan dalam tulisan tersebut.

Ia juga menambahkan bahwa batas sejauh mana AI diperbolehkan dalam proses penulisan masih diperdebatkan. Belum ada konsensus umum karena setiap bidang keilmuan memiliki latar belakang dan standar yang beragam.

Baca Juga  Siapa Pun Capres-Cawapres Akan Menang Kalau Menggandeng Muhammadiyah, Ini Syaratnya

“Di beberapa kampus sekarang sudah ada aturan. Dalam publikasi jurnal pun ada yang menerima penggunaan AI, tetapi dalam batas tertentu dan harus dijelaskan di mana posisi bantuan AI tersebut secara jujur,” jelasnya.

Menulis Sebagai Skill Penting

Mudzakkir menjelaskan bahwa kemampuan menulis adalah bagian dari komunikasi. Hal ini penting sebab melalui menulis, seseorang belajar menyampaikan gagasan yang dapat dipahami oleh orang lain.

“Kemampuan berkomunikasi itu penting, apa pun bidang keilmuan Anda. Menulis itu kemampuan dasar. Siapa pun itu, ini bagian dari life skill yang harus dimiliki. Teknik mesin pun harus bisa berkomunikasi, baik written communication maupun oral communication. Karena ini kebutuhan,” jelasnya.

Menurutnya, jika individu tidak mampu menulis dengan baik, maka pesan yang sebenarnya bagus bisa gagal dipahami atau bahkan diabaikan. Pembaca bisa salah menangkap maksud yang sebenarnya.

Ketika seseorang menulis apa yang ada di dalam pikirannya, sebenarnya ia sedang menyusun logika, memilih kata, hingga menata argumen. Proses inilah yang melatih cara berpikir kritis dan sistematis. AI bisa membantu, tetapi tidak bisa menggantikan proses mental yang terjadi ketika seseorang benar-benar menulis sendiri.

“Di mana pun, kemampuan menulis itu menjadi kemampuan yang penting. Saya kira itu kemampuan dasar yang harus digembleng. Itu semua perlu dibiasakan. Beda cerita kalau terbiasanya malah bergantung dengan AI,” tandasnya. (maklumat)

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: aimenulis
Previous Post

Saat Berwudu, Apakah Boleh Berbicara?

Next Post

Monsun Asia Menguat, Waspada Potensi Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah Indonesia

Next Post
BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem Enam Hari di Sumut akibat IOD Negatif

Monsun Asia Menguat, Waspada Potensi Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah Indonesia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.