LUNAS: Ketika Muhammadiyah dan Aisyiyah Berjalan Berdampingan
Oleh: Jufri
Dalam setiap perjalanan pengkaderan, selalu ada pelajaran yang disampaikan melalui materi di ruang kelas. Namun, tidak sedikit pula pelajaran yang justru hadir dari pemandangan sederhana yang terjadi di luar materi. Salah satunya saya temukan dalam Darul Arqom yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara di Parapat.
Di forum itu, bukan hanya para pimpinan Muhammadiyah yang hadir. Para ibu dari Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sumatera Utara juga mengikuti pengkaderan dengan semangat yang sama. Kehadiran mereka memberikan pesan yang sangat kuat bahwa membangun peradaban tidak mungkin hanya mengandalkan satu kekuatan. Muhammadiyah dan Aisyiyah adalah dua sayap yang membuat gerakan dakwah ini mampu terbang tinggi dan menjangkau masyarakat lebih luas.
Aisyiyah telah membuktikan hal tersebut sejak awal berdirinya. Organisasi perempuan Muhammadiyah ini tidak sekadar menjadi pelengkap, tetapi menjadi pelopor dalam pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, hingga pembinaan keluarga. Tahun 2026, Aisyiyah telah memasuki usia 109 tahun. Usia yang menunjukkan kematangan sebuah organisasi yang telah melahirkan begitu banyak perempuan berilmu, berakhlak, dan berkemajuan.
Yang menarik perhatian saya selama Darul Arqom adalah bagaimana para ibu Aisyiyah tampil dengan penuh percaya diri. Mereka menyampaikan pengalaman, gagasan, dan pandangan dengan keluasan ilmu dan kematangan organisasi. Namun, semua itu tidak menjadikan mereka kehilangan jati diri sebagai perempuan. Sebaliknya, mereka justru memperlihatkan bahwa menjadi perempuan berkemajuan berarti mampu menjalankan berbagai peran secara seimbang sebagai pendidik keluarga, penggerak organisasi, dan pelayan masyarakat.
Di sinilah saya melihat bahwa Risalah Islam Berkemajuan dan Risalah Perempuan Berkemajuan bukanlah dua konsep yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya saling menguatkan. Islam memuliakan perempuan, sementara perempuan yang tercerahkan akan menjadi penguat lahirnya keluarga yang kokoh, masyarakat yang beradab, dan bangsa yang maju.
Ada satu hal yang secara pribadi selalu menghadirkan rasa bahagia bagi saya pada kepemimpinan Muhammadiyah dan Aisyiyah Sumatera Utara periode ini. Setiap kali saya melihat Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara, Prof. Dr. Hasyimsyah Nasution, berdampingan dengan Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sumatera Utara yang bermarga Lubis, saya melihat lebih dari sekadar dua orang pemimpin. Saya melihat harmoni kepemimpinan yang saling melengkapi.
Keduanya adalah orang tua sekaligus guru saya dalam ber-Muhammadiyah. Dari mereka saya belajar bahwa kepemimpinan bukanlah tentang kedudukan, melainkan tentang keteladanan, keikhlasan, kesederhanaan, dan kesabaran dalam menggerakkan persyarikatan.
Karena kedekatan itulah, saya sering mencandai mereka dengan istilah “LUNAS”, singkatan dari Lubis dan Nasution. Sebuah gurauan sederhana yang selalu disambut dengan senyum. Namun, di balik candaan itu tersimpan doa yang tulus.
Semoga LUNAS bukan hanya menjadi singkatan dua marga, tetapi juga menjadi simbol bahwa setiap amanah yang diemban dapat ditunaikan dengan tuntas. Lunas dalam pengabdian kepada umat. Lunas dalam memajukan pendidikan. Lunas dalam memperkuat dakwah. Lunas dalam menjaga persaudaraan. Dan lunas dalam melahirkan kader-kader yang mampu meneruskan estafet perjuangan Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Darul Arqom kembali mengingatkan saya bahwa kekuatan Muhammadiyah tidak hanya lahir dari banyaknya amal usaha atau besarnya organisasi. Kekuatan itu justru lahir dari kebersamaan, saling menghormati, saling menguatkan, dan saling percaya antara Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Apabila laki-laki dan perempuan sama-sama diberi ruang untuk berkarya sesuai tuntunan Islam, maka akan lahir generasi yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.
Semoga sinergi Muhammadiyah dan Aisyiyah Sumatera Utara terus menjadi teladan bagi daerah-daerah lain. Sebab, ketika keduanya berjalan berdampingan, kita tidak hanya sedang membangun organisasi, tetapi juga sedang membangun peradaban.
Dan saya percaya, dengan semangat kebersamaan itu, Muhammadiyah akan terus meneguhkan dirinya sebagai gerakan Islam Berkemajuan, sementara Aisyiyah akan terus menjadi pelopor Perempuan Berkemajuan. Bersama-sama mewujudkan cita-cita besar Persyarikatan: Mencerahkan, Memberdayakan, dan Menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semesta.

