• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Agus Sani

Agus Sani

Less of East: Antara Harmoni Budaya dan Keterbukaan Evaluasi

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
22 September 2025
in Opini
0
Less of East: Antara Harmoni Budaya dan Keterbukaan Evaluasi
Oleh : Agus Sani – Dosen Fakuktas Ekonomi dan Bisnis UMSU
Kita yang lahir dan tumbuh dalam budaya ketimuran, khususnya di Indonesia, sering kali dididik untuk lebih mengutamakan harmoni ketimbang konfrontasi. Dalam keluarga, sekolah, bahkan di dunia kerja, kejujuran yang terlalu blak-blakan kerap dipandang tidak sopan, atau dalam istilah sehari-hari, “kurang ajar”. Karena itu, banyak persoalan diselesaikan dengan bahasa yang melingkar, metafora yang halus, atau bahkan sengaja ditutup rapat demi menjaga “muka” bersama. Model komunikasi seperti ini tidak salah, karena lahir dari nilai luhur kebersamaan. Namun, di era platform digital, pola ini menghadapi tantangan besar.
Di dunia digital, harmoni tidak lagi dibangun dengan menyembunyikan masalah, tetapi dengan membuka data apa adanya. Seorang konsumen yang kecewa tidak akan menunggu forum resmi untuk bicara; ia cukup menuliskan keluhannya di kolom komentar atau ulasan aplikasi, yang kemudian bisa dibaca ribuan orang. Di media sosial, satu kelalaian kecil bisa menjadi sorotan publik dalam hitungan menit. Di sisi lain, data performa bisnis, engagement kampanye digital, hingga review produk tercatat secara otomatis dan sulit dimanipulasi. Transparansi menjadi “paket bawaan” ekosistem digital, terlepas dari budaya organisasi yang terbiasa menutupi kelemahan.
Persoalannya, bagaimana perusahaan yang berakar dalam budaya ketimuran memaknai realitas baru ini? Jika cara lama, yaitu membungkam kritik internal,tetap dipertahankan, maka akan terjadi jurang besar antara apa yang “dikatakan” organisasi dengan apa yang “dilihat” publik. Akibatnya, perusahaan tidak hanya kehilangan kendali narasi, tetapi juga kehilangan kepercayaan. Transparansi digital memaksa kita untuk menerima kenyataan apa adanya, meskipun pahit.
Namun, keterbukaan ini justru dapat ditransformasikan menjadi nilai bersama yang lebih sehat. Kritik tidak lagi diposisikan sebagai ancaman, melainkan sebagai masukan yang memperkuat. Data kegagalan tidak dilihat sebagai aib, tetapi sebagai bahan bakar inovasi. Dengan begitu, evaluasi bukan sekadar ritual tahunan yang penuh basa-basi, melainkan denyut nadi organisasi yang hidup. Proses ini menggeser cara pandang dari evaluasi yang menekan menjadi evaluasi yang memberdayakan.
Perusahaan yang mampu menginternalisasi paradigma ini akan menemukan bentuk “harmoni baru”. Harmoni di era digital bukan berarti tanpa kritik, melainkan terbangunnya ruang di mana kritik dipandang sebagai tanda kepedulian. Karyawan merasa aman untuk menyampaikan ide maupun kegagalan, manajemen terbuka mendengar suara pasar, dan konsumen merasa dihargai karena masukannya benar-benar diperhatikan. Inilah wujud kolaborasi yang lebih tulus, karena semua pihak berdiri pada landasan nilai yang sama: keterbukaan untuk tumbuh bersama.
Transformasi budaya ini bukan hal yang mudah. Ia membutuhkan kepemimpinan yang berani, sistem insentif yang adil, serta infrastruktur digital yang mendukung. Pemimpin harus memberi teladan bahwa keterbukaan bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan. Tim manajemen perlu menata ulang sistem penghargaan agar tidak hanya menilai “hasil sempurna”, tetapi juga menghargai proses belajar dari kegagalan. Sementara itu, teknologi digital seperti dashboard analitik, sistem feedback real-time, hingga platform komunikasi internal dapat menjadi sarana untuk menyalurkan evaluasi secara sehat dan konstruktif.
Jika semua itu terwujud, maka budaya ketimuran tidak hilang, melainkan berkembang. Nilai menjaga perasaan, kesantunan, dan kebersamaan tetap hidup, tetapi dipadukan dengan transparansi digital. Harmoni versi baru ini menempatkan kejujuran sebagai bentuk penghormatan, bukan penghinaan; dan menempatkan kritik sebagai ruang belajar, bukan permusuhan. Dengan begitu, organisasi tidak hanya relevan di tengah perubahan zaman, tetapi juga mampu menjadikan nilai budayanya sebagai fondasi yang memperkaya perjalanan digitalnya. (***)

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: agus saniharmoni budayaopini
Previous Post

FKIK UMSU Alami Perkembangan, Kini Persiapkan Buka Beberapa Program Spesialis

Next Post

Kemenag Akan Resmikan Ditjen Pesantren Tahun Ini

Next Post
Kemenag Akan Resmikan Ditjen Pesantren Tahun Ini

Kemenag Akan Resmikan Ditjen Pesantren Tahun Ini

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.