Kuat Dari Dalam, Ketika Akar Kaderisasi Menentukan Masa Depan Muhammadiyah
(Tulisan ke-72 dari Beberapa Tulisan Bertema Kaderisasi)
Oleh: Amrizal, S.Si., M.Pd. – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumatera Utara / Dosen Universitas Negeri Medan
Pernahkah kita mengagumi sebuah pohon besar? Kita memuji batangnya yang kokoh. Kita berteduh di bawah rindangnya. Kita menikmati buahnya. Kita mengabadikan keindahannya dalam foto. Namun hampir tidak pernah ada yang bertanya, bagaimana keadaan akarnya? Padahal justru di sanalah seluruh kehidupan pohon dimulai. Akar bekerja dalam sunyi. Ia tidak terlihat. Tidak berbunga. Tidak berbuah. Tidak pernah menjadi pusat perhatian. Tetapi seluruh kemegahan pohon berdiri di atas pengorbanannya. Allah kembali mengajari manusia melalui sesuatu yang tersembunyi. Sebab tidak semua yang menentukan kehidupan harus tampak di permukaan.
Allah berfirman,
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya menghunjam kuat dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap musim dengan izin Tuhannya…” (QS. Ibrahim: 24–25)
Perhatikan urutannya. Allah tidak memulai dengan buah. Bukan pula dengan batang.
Allah memulai dari akar. Karena pohon yang kuat selalu dimulai dari sesuatu yang tidak terlihat.
Begitu pula manusia.
Semakin Tinggi Pohon, Semakin Dalam Akarnya
Ada hukum alam yang tidak pernah berubah. Pohon yang menjulang tinggi selalu memiliki akar yang menghunjam lebih dalam. Semakin besar beban yang dipikul, semakin luas akar yang dibutuhkan. Mengapa? Karena angin akan selalu menguji pohon yang tinggi. Begitulah kehidupan. Semakin besar amanah seseorang, semakin besar pula godaan yang datang kepadanya. Godaan kekuasaan. Godaan popularitas. Godaan harta. Godaan merasa diri paling benar. Jika akar keimanan, ilmu, dan keikhlasan tidak cukup kuat, pohon itu akan roboh oleh badai yang sebenarnya tidak terlalu besar. Bukankah kita sering menyaksikan orang-orang yang tampak hebat di luar, tetapi runtuh hanya karena pujian atau jabatan? Yang roboh sesungguhnya bukan batangnya. Yang rapuh adalah akarnya.
Akar Selalu Mencari Air
Pernahkah kita bertanya mengapa akar terus tumbuh ke bawah? Karena di sanalah sumber kehidupan berada. Akar memiliki kemampuan mencari air, bahkan ketika tanah tampak kering. Ia tidak menunggu air datang. Ia mencarinya. Bukankah ini pelajaran bagi seorang kader?
Air kehidupan seorang mukmin adalah wahyu. Al-Qur’an. As-Sunnah. Ilmu. Zikir. Pengajian. Tarbiyah. Seorang kader tidak boleh menunggu disuapi ilmu. Ia harus mencarinya. Membacanya. Mendatanginya. Mendiskusikannya. Mengamalkannya. Pohon yang berhenti mencari air akan mati. Kader yang berhenti mencari ilmu sesungguhnya sedang mengering, meskipun jabatannya semakin tinggi.
Akar Tidak Pernah Meminum Air untuk Dirinya Sendiri
Ada keajaiban lain yang sering luput dari perhatian. Akar menyerap air. Tetapi air itu tidak berhenti di akar. Ia mengalirkannya ke batang. Ke daun.Ke bunga. Ke buah. Seluruh bagian pohon hidup karena pengorbanan akar. Begitulah seorang kader. Ilmu yang ia pelajari bukan untuk disimpan. Pengalaman yang ia miliki bukan untuk dibanggakan. Jabatan yang ia peroleh bukan untuk dinikmati. Semuanya harus mengalir. Menjadi pengajian. Menjadi tulisan. Menjadi pendidikan. Menjadi kader baru. Menjadi amal usaha. Menjadi solusi bagi umat. Ilmu yang berhenti pada diri sendiri ibarat air yang membusuk. Ilmu yang mengalir akan melahirkan kehidupan.
Akar Tidak Pernah Berebut Cahaya
Pohon berlomba menuju langit. Daun berebut sinar matahari. Bunga memancarkan keindahan.
Buah menjadi incaran manusia. Namun akar tidak pernah iri. Ia tetap bekerja di tempat yang gelap. Tidak ada yang memotretnya. Tidak ada yang memujinya. Tidak ada tepuk tangan. Tetapi ia tetap setia menjalankan tugasnya. Betapa indah akhlak akar. Di dalam organisasi, tidak semua orang akan berdiri di depan mimbar. Tidak semua orang akan menjadi ketua. Tidak semua orang dikenal. Namun justru orang-orang yang bekerja dalam diam sering kali menjadi penyangga utama organisasi. Mereka menyusun administrasi. Mengelola keuangan. Membersihkan masjid. Mendidik anak-anak. Menyiapkan pengajian. Menyusun kurikulum. Membina kader. Mereka seperti akar. Tidak tampak. Tetapi tanpanya pohon akan tumbang.
Ketika Akar Mulai Membusuk
Tidak ada pohon yang tumbang secara tiba-tiba. Ia roboh jauh sebelum batangnya patah. Kerusakan selalu dimulai dari akar. Begitu pula organisasi. Kemunduran Muhammadiyah tidak akan dimulai dari berkurangnya gedung. Bukan pula dari berkurangnya amal usaha. Kemunduran akan dimulai ketika akar kaderisasi melemah. Ketika tradisi membaca digantikan budaya slogan.
Ketika pengajian digantikan rapat tanpa ruh. Ketika jabatan lebih dicari daripada pengabdian. Ketika loyalitas kepada nilai berubah menjadi loyalitas kepada tokoh. Ketika ideologi mulai dianggap tidak penting. Pohon yang akarnya busuk mungkin masih tampak hijau. Tetapi ia hanya menunggu waktu untuk tumbang. Begitu pula organisasi. Yang paling berbahaya bukanlah badai dari luar. Melainkan pembusukan dari dalam.
Akar Tidak Pernah Berhenti Bertumbuh
Menariknya, akar tidak berhenti tumbuh ketika pohon telah besar. Ia terus mencari sumber air yang baru. Terus memperluas jangkauannya. Terus memperkokoh cengkeramannya. Demikian pula kader. Belajar tidak berhenti setelah menjadi pengurus. Tidak berhenti setelah memperoleh gelar. Tidak berhenti setelah memimpin. Semakin tinggi amanah, semakin dalam akar ilmu yang harus dimiliki. Muhammadiyah menjadi besar bukan karena banyak tokoh. Tetapi karena setiap generasi terus memperdalam akarnya. Mereka membaca. Mengkaji. Menulis. Berdialog. Berijtihad. Dan terus memperbarui pemahaman tanpa melepaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber utama.
Jadilah Akar yang Menguatkan Pohon
Suatu hari nanti, nama kita mungkin tidak lagi dikenang. Foto-foto kepengurusan akan menguning dimakan waktu. Jabatan akan berganti. Pidato-pidato akan terlupakan. Namun akar yang kita tanam akan tetap hidup. Ia tumbuh dalam kader yang pernah kita didik. Dalam anak-anak yang pernah kita ajar. Dalam masjid yang kita hidupkan. Dalam sekolah yang kita bangun. Dalam nilai yang kita wariskan. Barangkali itulah sebabnya Allah memulai perumpamaan pohon yang baik dari akar, bukan dari buah. Karena buah hanya dapat dipetik selama akarnya tetap hidup. Maka jadilah seperti akar. Bekerjalah meski tidak terlihat. Menguatkan tanpa meminta pujian. Mengalirkan kehidupan tanpa mengharap balasan. Menghunjamkan iman, ilmu, dan keikhlasan sedalam mungkin. Sebab kader Muhammadiyah yang sejati bukanlah mereka yang paling tinggi berdiri di atas panggung. Melainkan mereka yang paling dalam menghunjamkan nilai-nilai Islam ke dalam dirinya, sehingga mampu menopang tegaknya persyarikatan dari generasi ke generasi.
Karena sesungguhnya, masa depan Muhammadiyah tidak pertama-tama ditentukan oleh seberapa tinggi pohonnya tumbuh. Melainkan oleh seberapa dalam akar kaderisasinya menghunjam.
Wallāhu a’lam bi al-shawāb.

