Kritik, Peci, dan Keikhlasan dalam Kerja Dakwah
Oleh : Jufri – Pegiat Sosial politik dan dakwah kebangsaan
Pada rapat Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tebing Tinggi, Rabu kemarin, Buya Abu Hasyim Siregar menyampaikan sebuah kisah sederhana, namun sarat makna. Kisah ini bukan teori manajemen organisasi, melainkan hikmah hidup yang lahir dari pengalaman panjang dalam dakwah dan persyarikatan.
Buya Abu Hasyim mengutip ungkapan almarhum Ustadz Anas Kari Sutan, Ketua PDM Muhammadiyah Tebing Tinggi periode 1985–1990. Kata beliau:
“Kalau orang membeli peci, yang pertama kali dia lihat bukan bagusnya, tetapi cacat dan kurangnya. Mengapa? Karena dia menyukai peci itu.” Kata Buya sambil memegang peci Pak Khairul Saleh Harahap yang terletak disampingnya.
Ungkapan ini tampak ringan, tetapi sesungguhnya sangat dalam. Orang yang tidak suka, biasanya tidak peduli. Ia berlalu begitu saja. Sebaliknya, orang yang peduli dan merasa memiliki, justru memperhatikan detail—termasuk kekurangan.
Dalam kerja dakwah dan organisasi, hal serupa sering kita alami. Ketika Muhammadiyah bergerak, berbuat, dan mengambil peran di tengah umat, selalu ada penilaian. Ada apresiasi, ada dukungan. Namun bersamaan dengan itu, akan muncul pula kritik, masukan, bahkan penilaian negatif. Itu adalah keniscayaan dalam kerja sosial dan gerakan.
Nasihat Ustadz Anas Kari Sutan yang disampaikan kembali oleh Buya Abu Hasyim mengajarkan kita satu hal penting: tidak semua kritik lahir dari kebencian. Banyak kritik justru muncul karena rasa cinta, kepedulian, dan harapan agar dakwah berjalan lebih baik.
Secara personal, pengalaman saya di PDM Muhammadiyah Tebing Tinggi menguatkan pelajaran itu. Dalam dinamika organisasi, dengan beragam latar belakang, karakter, dan cara pandang, kritik dan perbedaan adalah bagian dari keseharian. Ada masukan yang menyejukkan, ada pula yang terasa kurang nyaman di hati. Namun seiring waktu, saya belajar bahwa kerja dakwah memang menuntut kelapangan dada.
Buya Abu Hasyim juga sering mengingatkan kami agar dalam berdakwah dan berorganisasi, selalu berupaya mencontoh Nabi Muhammad ﷺ. Tetapi dengan kejujuran yang menundukkan ego, beliau menambahkan: “Jangankan mencontoh Nabi Muhammad, mencontoh KH Ahmad Dahlan saja kita ini sebenarnya belum sanggup.”
Kalimat ini menghentak sekaligus menyadarkan. Dakwah bukan panggung kesempurnaan, melainkan ruang pembelajaran yang panjang. Kita masih dalam proses, masih sering salah, masih membutuhkan nasihat dan kritik—bukan untuk saling menjatuhkan, tetapi untuk saling meneguhkan.
Muhammadiyah sejak awal bukan sekadar organisasi, melainkan jalan perjuangan. Cita-citanya luhur: mengantarkan manusia menuju kebaikan, keselamatan, dan—dengan rahmat Allah—ke depan pintu surga. Karena itu, menjadi ironi besar jika dalam ber-Muhammadiyah, kita justru mempertajam ego, membangun jarak, atau menanam benih permusuhan.
Buya Abu Hasyim mengingatkan dengan sangat tegas namun penuh kasih:
“Jangan sampai karena ber-Muhammadiyah, kita malah diantarkan ke depan pintu neraka.”
Bagi saya, ini adalah peringatan moral yang mendalam. Bahwa sebesar apa pun amal usaha, setinggi apa pun jabatan, dan sekeras apa pun aktivitas dakwah, semuanya bisa kehilangan makna jika tidak disertai keikhlasan, akhlak, dan kerendahan hati.
Pada akhirnya, kritik, masukan, dan perbedaan pandangan adalah bagian dari proses pendewasaan dalam berorganisasi. Ia menguji niat, membersihkan tujuan, dan mengingatkan kita agar tetap istiqamah. Sebab dakwah bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan siapa yang paling sungguh-sungguh memperbaiki diri dan memberi manfaat bagi sesama.
Di PDM Muhammadiyah Tebing Tinggi, kami belajar bahwa berorganisasi adalah latihan akhlak. Dan barangkali, di situlah letak dakwah yang paling hakiki. Sebagaimana lazimnya belajar, tentu bukan soal kehebatan apalagi kesempurnaan, ini adalah soal bagaimana berusaha menjalankan amanah ditengah keterbatasan, tidak ada anggaran seperti di pemerintahan, namun kami bergerak karena kami adalah kader, bukan sekadar penghias dan pelengkap struktur organisasi.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

