Prof. Xueqin : Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran disebut berpotensi menjadi jebakan strategis
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran disebut berpotensi menjadi jebakan strategis yang jauh lebih mahal dari perkiraan awal pemerintahan Donald Trump. Peringatan keras ini datang dari Prof. Jiang Xueqin, seorang analis politik Tionghoa-Kanada yang dikenal karena prediksinya yang akurat mengenai kemenangan Trump dan serangan ke Iran.
Dalam analisisnya yang dikutip oleh Breaking Points, Prof. Xueqin mengungkapkan bahwa Iran tidak sedang bersiap melawan militer AS secara konvensional. Sebaliknya, Teheran telah menghabiskan 20 tahun terakhir untuk mempersiapkan diri melawan “sistem global” yang menjadi tumpuan Amerika.
Strategi “Perang Asimetris” Iran: Menyerang Jantung Ekonomi Global
Menurut Xueqin, strategi Iran difokuskan untuk melumpuhkan infrastruktur vital di kawasan Teluk. Targetnya bukan hanya pangkalan militer, melainkan instalasi energi, fasilitas desalinasi air, dan jalur impor pangan. Dengan menghancurkan sektor-sektor ini, Iran dapat menjerumuskan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, UEA, Qatar, dan Bahrain ke dalam krisis eksistensial.
“Jika Teluk runtuh, maka petrodolar runtuh,” tegas Xueqin. Ia menjelaskan bahwa mesin keuangan AS yang menopang pasar global dan nilai dolar sangat bergantung pada stabilitas kawasan tersebut. Gangguan besar di Teluk dapat memutus “bahan bakar” yang menjaga dominasi mata uang AS.
Biaya Perang yang Tak Seimbang dan Senjata yang Menipis
Dari sisi militer, Xueqin menyoroti ketidakseimbangan biaya yang mencolok. Amerika Serikat terpaksa menggunakan pencegat (interceptor) bernilai jutaan dolar untuk menembak jatuh drone Iran yang hanya berharga sekitar 50 ribu dolar per unit. Praktik ini tidak hanya boros secara finansial tetapi juga menguras persediaan amunisi AS.
Kekhawatiran akan menipisnya stok senjata memicu skenario di mana negara-negara Asia mungkin harus “memakan” (menggunakan) cadangan amunisi buatan AS mereka sendiri, yang justru dapat melemahkan pertahanan sekutu-sekutu Amerika di kawasan Indo-Pasifik.
Jebakan Darat: Skenario Terburuk yang Mulai Mendekat
Xueqin menegaskan bahwa serangan udara semata tidak akan mampu meruntuhkan rezim Iran. Satu-satunya jalan untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan mengerahkan pasukan darat—sebuah skenario yang selama ini diperingatkan oleh para jenderal AS sebagai mimpi buruk.
Namun, paradoksnya, tekanan dari negara-negara Teluk yang mulai “kewalahan” akibat serangan balasan Iran justru dapat mendorong mereka untuk mendesak AS melakukan invasi darat. Jika itu terjadi, AS akan terseret ke dalam perang besar di kawasan yang kompleks, sebuah situasi yang oleh Xueqin disebut sebagai “perang yang tidak bisa dimenangkan.”
Dari tiga prediksi utama Xueqin pada 2024—Trump menang, AS menyerang Iran, dan AS terseret ke dalam perang yang tidak bisa dimenangkan—dua poin pertama telah menjadi kenyataan. Kini, dunia mengamati apakah skenario ketiga, yaitu Amerika yang terjebak dalam perang berkepanjangan di Iran, benar-benar akan terjadi.

