Konferensi dan Silatnas Ulama Aisyiyah: Teguhkan Peran Ulama Perempuan untuk Keumatan
INFOMU.CO | Yogyakarta – Pimpinan Pusat Aisyiyah (PPA) melalui Majelis Tabligh dan Ketarjihan (MTK) menyelenggarakan Konferensi dan Silaturahim Nasional (Silatnas) Ulama ‘Aisyiyah pada Senin (18/5/26) secara luring di SM Tower Yogyakarta dan daring melalui Zoom Meeting.
Kegiatan bertema “Konstruksi Pemikiran Ulama Aisyiyah: Respons terhadap Isu Keumatan dan Kebangsaan” ini diikuti sekitar 200 kader ‘Aisyiyah dari berbagai daerah di Indonesia.
Ketua PP Aisyiyah, Siti Aisyah dalam sambutannya menyampaikan bahwa ulama perempuan memiliki peran penting dalam kehidupan umat dan telah menjadi bagian dari sejarah panjang gerakan ‘Aisyiyah sejak awal berdiri. Ia menegaskan bahwa perempuan juga memiliki ruang yang sama dalam tradisi keilmuan Islam.
“Dalam Surah Ali Imran disebutkan bahwa ulama tidak hanya laki-laki, tetapi juga perempuan. Banyak sahabiah yang diberi ruang belajar oleh Nabi yang kemudian mengajarkan ilmunya kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ‘Aisyiyah sejak awal digerakkan oleh para perempuan berilmu yang lahir dari tradisi pesantren dan pendidikan Muhammadiyah. Menurutnya, sosok seperti Nyai Ahmad Dahlan menjadi bukti bahwa ulama perempuan memiliki kontribusi besar dalam dakwah dan pembinaan masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Siti Aisyah juga memaparkan lima karakter ulama ‘Aisyiyah, yakni memiliki kesalehan individual dan sosial, mampu menggerakkan masyarakat, mendalami ilmu-ilmu keislaman secara kolektif dan lintas disiplin, menguasai bahasa asing terutama Arab dan Inggris, serta memiliki pemahaman Islam wasathiyah atau moderat.
Sementara itu, Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah menegaskan bahwa konferensi ini menjadi momentum penting untuk mengonsolidasikan ulama perempuan ‘Aisyiyah di seluruh Indonesia. Ia menyebut, forum tersebut merupakan yang pertama, namun bukan yang terakhir.
“Pertemuan ini penting untuk mengabarkan bahwa ‘Aisyiyah memiliki ribuan ulama perempuan di seluruh Indonesia,” ujarnya saat membuka acara.
Salmah menambahkan, ulama tidak cukup hanya memahami agama, tetapi juga harus hadir di tengah masyarakat dan peduli terhadap persoalan sosial. Ia menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi keluarga dan generasi muda saat ini, sehingga membutuhkan pemikiran Islam yang mampu menghadirkan kemaslahatan.
“Kita membutuhkan fikih yang menghadirkan kemaslahatan, pemikiran Islam yang mewujudkan perdamaian dan memuliakan manusia,” tegasnya.
Ia berharap forum ini dapat melahirkan rekomendasi strategis serta konstruksi pemikiran ulama ‘Aisyiyah yang mampu menjawab berbagai isu keumatan dan kebangsaan ke depan.
“Semoga dari forum ini lahir ulama-ulama ‘Aisyiyah yang mampu melampaui kesyarahan Siti Walidah dan menghadirkan langkah konkret untuk membangun bangsa yang berkemajuan,” pungkasnya. (SA)

