Ketika Pencapaian Bukan Sekadar Gelar
Oleh : Jufri
Mungkin plakat, karangan bunga, dan berbagai ucapan selamat yang diposting oleh bang Hasrat Efendi Samosir terasa begitu banyak, bahkan bagi sebagian orang terlihat berlebihan. Tidak sedikit yang bertanya-tanya, mengapa semua itu perlu ditampilkan, termasuk dipertanyakan kepada saya yang juga sempat menyimpan pertanyaan yang sama. Namun belakangan, jawabannya menjadi semakin terang: pencapaian sebagai Guru Besar bukan sekadar capaian akademik biasa bagi Bang Hasrat, melainkan puncak dari perjalanan hidup yang panjang, terjal, dan penuh keterbatasan. Bagi sebagian orang, mungkin itu tampak biasa. Tetapi bukankah nilai dari sebuah pencapaian selalu berbeda—ditentukan oleh siapa yang meraihnya dan bagaimana jalan yang ditempuh untuk sampai ke sana?
Kisah Bang Hasrat tidak dimulai dari ruang-ruang kuliah yang nyaman, melainkan dari ruang hidup yang sangat sederhana. Kehilangan ibu sejak usia 3,5 tahun bukan hanya menyisakan kekosongan emosional, tetapi juga membentuk ketangguhan yang tidak banyak terlihat dari luar. Ia bahkan tidak memiliki foto ibunya—sebuah kemewahan kecil yang bagi banyak orang mungkin biasa, tetapi baginya menjadi sesuatu yang tak pernah dimiliki. Ia mengenal sosok ibu justru melalui wajah kakaknya, cecek, sebagaimana yang dituturkan ayahnya.
Kehidupan kemudian berjalan dengan segala keterbatasannya. Tinggal di rumah yang bukan milik sendiri, menumpang di lingkungan dinas perikanan di dusun tepi air, dengan kondisi ekonomi yang jauh dari cukup. Pendidikan dalam keluarga pun tidak berjalan dengan kemewahan pilihan—kakak hanya tamat SD, ada yang sampai SMA, ada pula yang berhenti di tingkat Tsanawiyah, bahkan tidak menamatkan pendidikan formal. Tetapi dari ruang yang sempit itulah tumbuh satu hal yang tidak sempit: kegigihan.
Dan kegigihan itulah yang menjadi pembeda.
Dalam banyak kisah sukses, kita sering mencari faktor besar: akses, jaringan, atau privilese. Namun pada kisah ini, justru yang menonjol adalah daya tahan. Sebuah kemampuan untuk tidak menyerah, bahkan ketika hampir tidak ada alasan untuk terus berharap. Bang Hasrat tidak sedang melawan orang lain; ia sedang menantang batas-batas yang diletakkan oleh keadaan.
Maka ketika hari pengukuhan itu tiba, semua yang terlihat “banyak”—karangan bunga, ucapan, dokumentasi—sebenarnya bukanlah berlebihan. Itu adalah bentuk syukur yang mencari ruangnya sendiri. Itu adalah ekspresi dari perjalanan panjang yang akhirnya menemukan titik terang. Bahkan momen ketika cecek yang sederhana itu menyuapi istri dan anak-anaknya, menjadi lebih bermakna daripada seluruh simbol seremoni akademik. Di sanalah letak kemuliaan yang sesungguhnya—pada cinta yang tidak berubah oleh waktu dan keadaan.
Benar kata Mas Mas Muhammad Qorib dalam perbincangan kami kemarin, bahwa kita harus banyak dan pandai memahami, karena setiap orang berbeda dan istimewa. Kalimat sederhana itu terasa menemukan relevansinya dalam kisah ini. Apa yang tampak berlebihan di permukaan, sering kali menyimpan kedalaman makna yang tidak langsung terlihat.
Kita sering lupa bahwa pencapaian tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu membawa serta cerita, luka, doa, dan harapan dari banyak orang di belakangnya. Gelar Guru Besar, dalam konteks ini, bukan hanya milik satu orang, tetapi milik sebuah keluarga yang bertahan dalam keterbatasan.
Pada akhirnya, kisah ini mengingatkan kita pada satu hal sederhana namun mendalam: jangan pernah meremehkan perjalanan orang lain. Apa yang tampak biasa bagi kita, bisa jadi adalah luar biasa bagi mereka. Dan mungkin, di situlah letak keadilan hidup, bahwa setiap pencapaian memiliki maknanya sendiri, sesuai dengan perjuangan yang mengantarkannya.
Sebab benar adanya, jangan menyerah pada nasib. Biarkan nasib yang pada akhirnya menyerah pada kegigihan.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

