Kepemimpinan Generasi EMAS di UMSU: Momentum Transformasi, Regenerasi, dan Penguatan Kaderisasi Muhammadiyah
Oleh Prof Dr Hasrat Efendi Samosir MA/Wakil Ketua PWM Sumut
Pendahuluan
Sabtu, 25 Juli 2026, menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan kelembagaan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Bertempat di Auditorium Utama Kampus UMSU, Jalan Kapten Mukhtar Basri, dilaksanakan pelantikan para Wakil Rektor periode baru. Prosesi tersebut tidak sekadar merupakan agenda seremonial pergantian pejabat struktural, melainkan menjadi penanda dimulainya babak baru kepemimpinan yang diharapkan mampu memperkuat akselerasi kemajuan universitas di tengah dinamika pendidikan tinggi yang semakin kompetitif.
Pengangkatan para Wakil Rektor tentu telah melalui mekanisme seleksi yang ketat sesuai dengan sistem tata kelola Persyarikatan Muhammadiyah. Proses fit and proper test yang dilakukan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Utara bersama Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah tidak hanya menilai aspek administratif, tetapi juga mengukur kapasitas kepemimpinan, kompetensi akademik, rekam jejak kaderisasi, integritas moral, serta kemampuan membangun kerja sama kolektif di bawah kepemimpinan Rektor UMSU, Prof. Dr. Akrim, M.Pd. Dengan demikian, komposisi kepemimpinan baru ini diharapkan menjadi representasi dari perpaduan antara kapasitas akademik, pengalaman organisasi, dan komitmen terhadap kemajuan institusi.
Transformasi Kepemimpinan UMSU di Tangan Generasi Produktif
Jika ditinjau dari aspek demografis, para Wakil Rektor yang dilantik berada pada rentang usia sekitar lima puluh tahun. Dalam perspektif kepemimpinan modern, usia tersebut merupakan fase produktif yang memadukan kematangan pengalaman dengan energi untuk melakukan inovasi. Mereka berada pada titik ideal untuk menghadirkan kepemimpinan yang adaptif, progresif, dan responsif terhadap perubahan zaman.
Perguruan tinggi saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan satu dekade sebelumnya. Kompetisi tidak lagi hanya berlangsung antarperguruan tinggi negeri dan swasta, tetapi juga dalam ranah global melalui indikator mutu, inovasi, digitalisasi, internasionalisasi, serta daya saing lulusan. Oleh karena itu, kepemimpinan yang dibutuhkan adalah kepemimpinan transformasional (transformational leadership) yang mampu melahirkan berbagai terobosan strategis, mempercepat pengambilan keputusan, membangun budaya inovasi, serta mengakselerasi pencapaian visi institusi.
Dalam konteks tersebut, kepemimpinan generasi produktif di UMSU diharapkan mampu menyempurnakan implementasi Rencana Induk Pengembangan (RIP) dan peta jalan (roadmap) universitas agar lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kebutuhan industri, dan perubahan sosial masyarakat.
Menguatkan Kembali IMM sebagai Tuan Rumah di Perguruan Tinggi Muhammadiyah
Salah satu aspek yang menarik dari komposisi kepemimpinan baru UMSU adalah kuatnya representasi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Para Wakil Rektor yang dilantik bukan sekadar pernah menjadi anggota IMM, tetapi merupakan tokoh-tokoh yang memiliki rekam jejak kepemimpinan dan kontribusi nyata dalam membangun organisasi tersebut.
Nama-nama seperti Dr. Marah Dolly Nasution dan Dr. Faisal dikenal sebagai aktivis sekaligus pemimpin IMM pada masanya yang berperan dalam memperkuat identitas kader Muhammadiyah di lingkungan kampus. Demikian pula Prof. Dr. M. Qorib, M.A., yang tidak hanya dikenal sebagai kader IMM, tetapi juga memiliki kiprah luas di Persyarikatan Muhammadiyah sebagai Bendahara PWM Sumatera Utara dan pernah menjadi anggota PWM termuda pada zamannya. Di luar Persyarikatan, beliau juga aktif sebagai Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan, Guru Besar dalam bidang Studi Islam, serta dikenal luas sebagai pemikir Islam dan tokoh kaderisasi Muhammadiyah.
Kehadiran para alumni IMM pada jajaran pimpinan universitas memiliki makna simbolik sekaligus strategis. Hal ini menunjukkan bahwa proses kaderisasi Muhammadiyah mampu melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas dan dipercaya memimpin institusi pendidikan tinggi. Lebih dari itu, momentum ini semakin meneguhkan kembali posisi IMM sebagai “tuan rumah” di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, bukan dalam arti eksklusivitas organisasi, melainkan sebagai manifestasi keberhasilan sistem kaderisasi Muhammadiyah dalam menyiapkan pemimpin-pemimpin masa depan.
Filosofi
Kepemimpinan Daun Pisang: Regenerasi sebagai Keniscayaan
Salah satu kekuatan Muhammadiyah adalah sistem regenerasi kepemimpinan yang diatur secara konstitusional melalui pembatasan masa jabatan. Regulasi dua periode kepemimpinan pada hakikatnya bertujuan menciptakan kesinambungan organisasi, memperkuat kaderisasi, serta membuka ruang bagi lahirnya generasi pemimpin berikutnya.
Dalam tradisi kader Muhammadiyah dikenal filosofi “daun pisang”. Daun pisang akan tetap melekat pada batangnya hingga memasuki fase tua, mengering, bahkan membusuk, sebelum akhirnya terlepas atau dipisahkan. Filosofi tersebut mengandung pelajaran bahwa seorang pemimpin hendaknya memahami siklus kepemimpinan secara bijaksana. Kepemimpinan bukanlah sesuatu yang bersifat permanen, melainkan amanah yang memiliki batas waktu. Setiap pemimpin akan datang dan pergi (come and go), sementara institusi harus terus berjalan melampaui individu yang memimpinnya.
Karena itu, pembatasan masa jabatan merupakan instrumen penting dalam menjaga dinamika organisasi agar tetap sehat. Meskipun regulasi saat ini masih memberikan ruang pengecualian atas izin Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ketentuan tersebut kerap menjadi ruang interpretasi yang memunculkan berbagai perdebatan. Ke depan, pembahasan mengenai penyempurnaan regulasi tersebut dapat menjadi salah satu agenda strategis dalam Muktamar Muhammadiyah, sehingga prinsip regenerasi dapat semakin diperkuat demi keberlanjutan kepemimpinan Persyarikatan.
Menuju UMSU yang Lebih Maju, Unggul, dan Transformatif
Dalam beberapa tahun terakhir, UMSU telah menjelma sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terbaik, tidak hanya di Sumatera Utara tetapi juga di kawasan Sumatera bahkan di tingkat nasional. Berbagai capaian akademik, kelembagaan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta prestasi mahasiswa menjadi jejak sejarah kepemimpinan Prof. Dr. Agussani yang telah membawa UMSU mencapai posisi yang sangat kompetitif.
Saat ini, dikotomi antara perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta semakin memudar. Tolok ukur utama bukan lagi status kelembagaan, melainkan kualitas institusi, akreditasi, reputasi akademik, inovasi, serta kemampuan menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Demikian pula pada tingkat program studi, daya tarik tidak lagi hanya ditentukan oleh nama besar, tetapi oleh kualitas layanan akademik, prospek lulusan, dan kemampuan menjawab kebutuhan Generasi Z maupun Generasi Alpha.
Di tengah persaingan penerimaan mahasiswa baru yang semakin ketat—bahkan turut dirasakan oleh banyak perguruan tinggi negeri—UMSU tetap menunjukkan daya saing yang tinggi dengan animo masyarakat yang terus meningkat. Kondisi tersebut merupakan modal sosial yang sangat berharga dan harus dijaga melalui tata kelola universitas yang semakin profesional.
Karena itu, para Wakil Rektor yang baru dilantik diharapkan mampu membangun kepemimpinan kolektif yang solid bersama Rektor. Penguatan transformasi digital, internasionalisasi, hilirisasi hasil riset, peningkatan mutu akademik, pengembangan sumber daya manusia, serta perluasan jejaring kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, dunia industri, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi agenda strategis yang harus diwujudkan secara berkelanjutan.
Penutup
Pelantikan para Wakil Rektor UMSU bukan sekadar pergantian struktur organisasi, melainkan momentum konsolidasi menuju kepemimpinan yang lebih progresif dan berorientasi masa depan. Komposisi kepemimpinan yang didominasi generasi produktif, diperkuat oleh pengalaman kaderisasi Muhammadiyah dan kapasitas akademik yang mumpuni, menjadi modal strategis dalam melanjutkan estafet kemajuan universitas.
Harapan besar kini tertuju pada lahirnya kepemimpinan yang tidak hanya mampu mempertahankan berbagai prestasi yang telah diraih, tetapi juga menghadirkan inovasi dan transformasi yang membawa UMSU semakin unggul di tingkat nasional maupun internasional. Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah kepemimpinan tidak semata diukur dari lamanya memegang amanah, melainkan dari seberapa besar nilai, sistem, dan peradaban akademik yang berhasil diwariskan kepada generasi berikutnya, wallahu a’lam bissawab..salam inspirasi (***)

