• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Amrizal

Amrizal

Kaderisasi Pertama Tidak Pernah Lupa

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
15 September 2026
in Kolom
0

KADERISASI PERTAMA TIDAK PERNAH LUPA

(Tulisan ke 73 dari beberapa Tulisan Bertema Kaderisasi)

Oleh : Amrizal – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumatera Utara/Dosen Universitas Negeri Medan

 

Saya masih mengingat dengan jelas hari pertama mengikuti Training Centre Taruna Melati I Ikatan Remaja Muhammadiyah. Saat itu saya masih siswa SMA—lebih tepatnya remaja yang datang dengan semangat besar, tetapi pemahaman yang terbatas. Saya belum benar-benar tahu apa itu kaderisasi. Yang saya tahu hanyalah satu hal: saya ingin terlibat, ingin belajar, ingin menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri saya sendiri.

Ruang tempat kami berkumpul sederhana. Tidak ada fasilitas yang membuat kami merasa istimewa. Kursi seadanya, papan tulis yang mulai pudar, dan wajah-wajah muda yang sebagian tampak gugup, sebagian lain sok percaya diri. Saya duduk di antara mereka dengan perasaan campur aduk—antara bangga bisa ikut, dan takut tidak mampu mengikuti. Di sanalah, tanpa saya sadari, proses pertama pembentukan batin itu dimulai.

Kaderisasi pertama selalu berkesan bukan karena ia paling rapi, tetapi karena ia mempertemukan kita dengan diri sendiri. Di TM I IRM, saya mulai belajar mendengar lebih banyak daripada berbicara. Belajar menahan diri ketika ingin menonjol. Belajar menerima koreksi tanpa merasa direndahkan. Dan perlahan-lahan, saya mulai memahami bahwa menjadi kader Muhammadiyah bukan tentang seberapa cepat kita bicara tentang nilai, tetapi seberapa sabar kita menjalani proses.

Pada masa itu, kaderisasi terasa lebih sebagai perjumpaan daripada kurikulum. Para instruktur tidak datang dengan jarak yang kaku. Mereka duduk bersama kami, makan bersama kami, dan berbagi cerita tanpa pretensi. Dari mereka saya belajar bahwa keteladanan sering kali jauh lebih kuat daripada ceramah. Cara mereka bersikap—tenang, tidak tergesa, tidak merasa paling benar—menjadi pelajaran yang jauh lebih dalam daripada materi apa pun.

Namun, ada satu momen yang hingga hari ini masih saya simpan rapat-rapat dalam ingatan: malam refleksi.

Malam itu, setelah diskusi panjang dan tubuh mulai lelah, kami diminta duduk melingkar. Lampu diredupkan. Suasana mendadak sunyi. Seorang instruktur berdiri di tengah, tidak dengan suara tinggi, tidak pula dengan kalimat yang mengancam. Ia hanya bercerita. Tentang Muhammadiyah yang lahir dari kegelisahan. Tentang kader-kader yang bekerja tanpa nama. Tentang orang-orang yang memilih setia, meski tidak selalu dimengerti dan sering kali disalahpahami.

Lalu ia mengucapkan satu kalimat yang hingga kini masih terngiang di kepala saya:

“Jika suatu hari kalian merasa lelah, jangan tinggalkan nilai. Kalau harus pergi, pergilah dengan baik. Tapi kalau memilih bertahan, bertahanlah dengan utuh.”

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorakan. Hanya diam yang panjang. Di sanalah saya pertama kali menyadari bahwa kesetiaan bukan sesuatu yang bisa didoktrinkan, apalagi dipaksakan. Ia adalah pilihan batin. Keputusan sunyi yang hanya bisa dibuat seseorang ketika berhadapan jujur dengan dirinya sendiri.

Malam itu kami tidak diminta bersumpah. Tidak ada janji yang harus diucapkan keras-keras. Yang ada hanyalah ajakan untuk jujur: apakah Muhammadiyah akan menjadi jalan hidup, atau sekadar persinggahan sementara. Saya kembali ke tempat istirahat dengan hati gelisah dan pikiran penuh. Untuk pertama kalinya saya mengerti bahwa ber-Muhammadiyah bukan sekadar ikut organisasi, tetapi kesiapan memikul nilai—bahkan ketika tidak ada yang melihat, tidak ada yang memuji.

Perjalanan kaderisasi saya berlanjut. Dari IRM ke IMM, dari IMM ke Pemuda Muhammadiyah. Dari ruang remaja ke ruang mahasiswa dan keruang pemuda. Darul Arqam, Darul Arqam Madya, hingga Darul Arqam Paripurna bukan lagi sekadar jenjang formal. Ia menjadi ruang pergulatan yang lebih serius. Pertanyaan-pertanyaan mulai berubah: bukan lagi “apa itu Muhammadiyah?”, tetapi “di mana posisi saya di dalamnya?”. Bukan lagi “apa peran kader?”, tetapi “nilai apa yang harus saya jaga ketika peran berubah?”.

Darul Arqam Paripurna menjadi fase yang paling sunyi. Tidak ada lagi euforia. Tidak ada lagi romantisme awal. Yang tersisa hanyalah pilihan: bertahan atau berhenti. Di fase ini, kaderisasi tidak lagi terasa sebagai kegiatan, tetapi sebagai cermin. Saya melihat diri saya sendiri—dengan kelelahan, ambisi, dan keraguan yang mulai nyata. Di titik itu saya memahami bahwa kaderisasi sejati tidak sedang menyiapkan kita untuk jabatan, melainkan untuk tanggung jawab moral yang panjang.

Kini, setelah puluhan tahun berlalu, setelah melewati berbagai posisi struktural, pujian, fitnah, kelelahan, bahkan luka yang tidak selalu bisa dijelaskan, ingatan tentang kaderisasi pertama itu tidak pernah benar-benar pergi. Terutama ingatan tentang malam refleksi itu. Ia tidak memberi jawaban atas semua persoalan. Tetapi ia selalu mengingatkan: bahwa yang saya pilih sejak awal bukan jalan yang ramai, melainkan jalan yang menuntut kesadaran.

Kaderisasi pertama tidak pernah lupa, karena di sanalah niat pertama kali diuji. Di sanalah seseorang memutuskan apakah ia ingin berjalan jauh atau hanya singgah. Dan mungkin itulah sebabnya, hingga hari ini, saya masih percaya bahwa tugas kita sebagai kader senior bukan mempercepat orang sampai, melainkan menemani mereka berjalan—dengan sabar, dengan jujur, dan dengan tetap menjaga nilai.

Karena pada akhirnya, kaderisasi bukan tentang lulus atau tidak lulus. Ia adalah tentang kesediaan untuk bertahan di jalan sunyi—jalan yang mungkin tidak selalu menjanjikan apa-apa, kecuali kesempatan untuk tetap setia pada nurani sendiri.

Wallahu a’lam bish shawab

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: amrizalKaderisasikolomtulisan ke 73
Previous Post

Sinergi Lazismu Sumut, Lazismu dan PDM Labuhanbatu: Optimalkan Potensi Zakat Daerah Lewat Pembinaan Internal

Next Post

UMSU Jadi Tuan Rumah PP Muhammadiyah Kukuhkan Raja Muda Perlis sebagai Canselor UMAM

Next Post
UMSU Jadi Tuan Rumah PP Muhammadiyah Kukuhkan Raja Muda Perlis sebagai Canselor UMAM

UMSU Jadi Tuan Rumah PP Muhammadiyah Kukuhkan Raja Muda Perlis sebagai Canselor UMAM

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.