• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Menjadi Ketua di Negeri Para Ketua:   Sebuah Renungan tentang Marwah Kepemimpinan Muhammadiyah

Kaderisasi dalam Perspektif Ideologi Muhammadiyah Menjaga Ruh Persyarikatan di Tengah Perubahan Zaman

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
26 Mei 2026
in Kolom
0

Kaderisasi dalam Perspektif Ideologi Muhammadiyah Menjaga Ruh Persyarikatan di Tengah Perubahan Zaman

(Tulisan ke-57 dari Beberapa Tulisan Terkait Kaderisasi)

Oleh: Amrizal – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumut / Dosen Universitas Negeri Medan

 

Di dalam sejarah Muhammadiyah, ada satu hal yang sering tidak tampak tetapi justru menjadi kekuatan utama Persyarikatan: KADERISASI.

Orang sering melihat Muhammadiyah dari: sekolahnya, rumah sakitnya, universitasnya, atau amal usahanya yang tersebar di seluruh Indonesia. Padahal seluruh amal usaha itu sesungguhnya berdiri di atas satu fondasi penting: keberhasilan kaderisasi.

Muhammadiyah menjadi besar bukan hanya karena memiliki gedung megah atau system organisasi modern, tetapi karena mampu melahirkan kader dari generasi ke generasi.

Dari rahim kaderisasi itulah lahir: ulama, intelektual, guru, dokter, aktivis sosial, hingga pemimpin bangsa. Karena itu, memahami kaderisasi Muhammadiyah tidak cukup hanya sebagai program organisasi. Kaderisasi harus dipahami sebagai: bagian dari ideologi gerakan.

KH Ahmad Dahlan dan Fondasi Kaderisasi

Ketika Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah tahun 1912, beliau sebenarnya tidak hanya membangun organisasi dakwah. Beliau sedang membangun: MANUSIA.

KH Ahmad Dahlan memahami bahwa perubahan sosial tidak mungkin terjadi tanpa manusia yang tercerahkan. Karena itu dakwah beliau tidak berhenti pada ceramah. Beliau: mendidik, membina, mendampingi, dan membentuk karakter murid-muridnya.

Sejarah mencatat bagaimana KH Ahmad Dahlan mengajarkan: surat Al-Ma’un, pentingnya ilmu, kepedulian sosial, dan keberanian berpikir maju.

Murid-murid beliau kemudian tumbuh menjadi kader pelopor Muhammadiyah. Di sinilah sebenarnya kaderisasi Muhammadiyah bermula: dari proses pembentukan manusia berkemajuan.

Karena itu kaderisasi dalam Muhammadiyah bukan sekadar rekrutmen anggota.
Ia adalah: proses ideologisasi, internalisasi nilai, dan pembentukan karakter gerakan.

Ideologi Muhammadiyah dan Spirit Kaderisasi

Dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah ditegaskan bahwa Muhammadiyah adalah: Gerakan Islam, Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Tajdid. Kalimat ini sangat penting dalam memahami kaderisasi Muhammadiyah. Karena Muhammadiyah adalah gerakan dakwah dan tajdid, maka Muhammadiyah membutuhkan kader yang: memahami Islam, memiliki kesadaran ideologis, berakhlak, dan mampu menghadapi perubahan zaman.

Kaderisasi bukan sekadar aktivitas rutin organisasi. Ia adalah: proses menjaga kesinambungan ideologi Muhammadiyah. Tanpa kaderisasi, organisasi hanya akan menjadi: administratif, birokratis, dan kehilangan ruh gerakan.

Karena itu seluruh organisasi otonom Muhammadiyah sebenarnya adalah ekosistem kaderisasi: IPM, IMM, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Hizbul Wathan, hingga Tapak Suci.

Semua dirancang untuk: menyiapkan kader Persyarikatan.

Muhammadiyah dan Tradisi Kader Ideologis

Salah satu kekuatan Muhammadiyah sejak awal adalah kemampuannya melahirkan kader ideologis. Kader Muhammadiyah tidak hanya dibentuk untuk: pandai berorganisasi,  atau terampil memimpin rapat.

Tetapi juga dibina agar: memiliki keikhlasan, semangat pengabdian, tradisi ilmu, dan orientasi dakwah. Karena itu kita mengenal tokoh-tokoh besar Muhammadiyah seperti: AR Fakhruddin, Amien Rais, Ahmad Syafii Maarif, Din Syamsuddin, hingga Haedar Nashir. Mereka lahir dari tradisi kaderisasi panjang. Yang menarik, walaupun memiliki gaya kepemimpinan berbeda, mereka tetap memiliki benang merah yang sama: ideologi Muhammadiyah, tradisi ilmu, dan semangat tajdid. Itulah hasil kaderisasi Persyarikatan.

Kaderisasi Bukan Sekadar Formalitas

Hari ini tantangan terbesar kaderisasi Muhammadiyah bukan pada kurangnya kegiatan, tetapi: hilangnya ruh kaderisasi. Tidak sedikit kaderisasi yang berubah menjadi:,seremonial,  administratif, bahkan sekadar agenda rutin.

Padahal kaderisasi Muhammadiyah seharusnya melahirkan: kader ideologis, kader intelektual, kader penggerak, dan kader peradaban.

Kaderisasi harus mampu: menanamkan nilai, membangun tradisi berpikir, memperkuat spiritualitas, dan membentuk karakter pengabdian.

Karena itu kaderisasi Muhammadiyah tidak boleh hanya sibuk pada: teknis pelatihan, sertifikat, atau kegiatan formal. Yang lebih penting adalah: transformasi manusia.

Islam Berkemajuan dan Tantangan Kaderisasi

Dalam konsep Islam Berkemajuan yang dikembangkan Haedar Nashir, Muhammadiyah diharapkan menjadi: gerakan ilmu dan peradaban.

Tetapi gerakan peradaban tidak mungkin lahir tanpa kader unggul. Muhammadiyah abad kedua membutuhkan kader yang: kuat ideologi, menguasai ilmu pengetahuan, adaptif terhadap teknologi, tetapi tetap memiliki akhlak dan ruh pengabdian.

Hari ini dunia berubah sangat cepat: digitalisasi, kecerdasan artifisial, krisis moral,  individualisme, dan banjir informasi.

Jika kaderisasi Muhammadiyah tidak mampu menjawab perubahan ini, maka Muhammadiyah akan mengalami: krisis regenerasi ideologis.

Karena itu kaderisasi hari ini harus bergerak menuju: digitalisasi pengkaderan, penguatan literasi,  ekosistem intelektual, dan pengembangan SDI Persyarikatan.

Muhammadiyah harus melahirkan kader yang: membaca kitab sekaligus membaca realitas, memahami ideologi sekaligus teknologi, dan mampu berdakwah di ruang digital maupun sosial.

MPK-SDI dan Masa Depan Muhammadiyah

Dalam konteks itu, keberadaan Majelis Pengembangan Kader dan Sumber Daya Insani menjadi sangat strategis. MPK-SDI bukan sekadar pelaksana pelatihan. Ia adalah: penjaga kesinambungan ideologi Muhammadiyah.

Tugas besar MPK-SDI hari ini bukan hanya menyelenggarakan Baitul Arqam atau Darul Arqam, tetapi: membangun sistem kaderisasi modern, memperkuat sekolah kader, menyiapkan instruktur, dan membangun manajemen talenta kader Muhammadiyah.

Muhammadiyah abad kedua membutuhkan: database kader, roadmap kepemimpinan, digitalisasi kaderisasi, dan penguatan budaya literasi. Karena masa depan Muhammadiyah sangat ditentukan oleh kualitas manusianya.

Menjelang Muktamar Medan 2027

Menjelang Muktamar Muhammadiyah Medan 2027 dengan tema:

“Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya,”

kaderisasi menjadi agenda yang sangat penting. Muhammadiyah tidak cukup hanya menjadi organisasi besar secara kuantitatif. Muhammadiyah harus menjadi: rumah kader, pusat ilmu, dan kawah candradimuka peradaban Islam modern. Karena itu kaderisasi harus kembali ditempatkan sebagai: jantung Persyarikatan.

Mungkin kita perlu kembali mengingat pesan KH Ahmad Dahlan: bahwa dakwah sejatinya adalah membentuk manusia. Dan manusia-manusia itulah yang nanti akan: menjaga Muhammadiyah, merawat amal usaha, memperkuat ideologi, dan menerangi zaman.

Sebab sesungguhnya:

masa depan Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh gedung-gedung besar yang dimiliki,
tetapi oleh kader-kader yang lahir dari ruh keikhlasan, ilmu, dan pengabdian.

Wallahu a’lam bish shawab

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: amrizalKaderisasikolom
Previous Post

Pemuda, Kritik, dan Martabat Demokrasi

Next Post

Meneladani Pengorbanan Nabi Ibrahim: Dari Sejarah Menuju Kebangkitan Umat

Next Post
Talkisman Tanjung

Meneladani Pengorbanan Nabi Ibrahim: Dari Sejarah Menuju Kebangkitan Umat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.