Kader Organik dan Non-Organik : Menimbang Akar, Merawat Arah
(Tulisan ke-54 dari Beberapa Tulisan Terkait Kaderisasi )
Oleh: Amrizal – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumatera Utara/Dosen Universitas Negeri Medan
Di dalam denyut panjang gerakan Muhammadiyah, kaderisasi bukan sekadar agenda rutin, melainkan jantung kehidupan organisasi. Dari sanalah ideologi ditanam, nilai dihidupkan, dan kepemimpinan dilahirkan. Namun, di tengah dinamika zaman yang serba cepat, muncul satu pertanyaan reflektif: apakah semua yang memimpin Muhammadiyah benar-benar lahir dari proses kaderisasi?
Pertanyaan ini membawa kita pada dua istilah yang sering diperbincangkan kader organik dan apa yang kerap disebut sebagai kader instan. Namun, alih-alih terjebak pada dikotomi yang kaku dan bernada menghakimi, tulisan ini mencoba mengajak pembaca menelusuri makna di balik keduanya, dengan bahasa yang lebih jernih: kader organik dan kader non-organik.
Kader Organik: Tumbuh dari Akar, Menyatu dengan Nilai
Kader organik adalah mereka yang tumbuh dari dalam rahim Muhammadiyah itu sendiri. Ia tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan melalui proses Panjang, ditempa dalam pengkaderan, diuji dalam dinamika organisasi, dan diperkaya oleh pengalaman kolektif.
Dari ranting hingga wilayah, dari forum pengkaderan seperti Baitul Arqam hingga ruang-ruang musyawarah, kader organik menyerap lebih dari sekadar pengetahuan struktural. Ia menginternalisasi nilai: keikhlasan dalam berkhidmat, keteguhan dalam prinsip, serta keluasan dalam berpikir.
Yang membedakan kader organik bukan hanya pada “lama waktu” berproses, tetapi pada kedalaman keterhubungan. Ia memahami Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan tajdid, bukan sekadar organisasi. Ia memiliki memori ideologis, mampu membaca arah, menjaga marwah, dan menempatkan keputusan dalam kerangka nilai.
Kader Non-Organik: Antara Kebutuhan dan Tantangan
Di sisi lain, realitas organisasi modern seringkali menghadirkan apa yang dapat disebut sebagai kader non-organik. Mereka adalah individu yang masuk ke dalam struktur Muhammadiyah tanpa melalui proses kaderisasi formal yang berjenjang.
Kehadiran mereka tidak selalu problematis. Bahkan dalam banyak situasi, mereka dibutuhkan membawa keahlian profesional, jejaring luas, dan perspektif segar. Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah memang tidak pernah menutup diri terhadap potensi dari luar.
Namun, tantangan muncul ketika kehadiran dalam struktur tidak diiringi dengan upaya memahami nilai. Ketika Muhammadiyah dipandang semata sebagai “organisasi kerja”, bukan “gerakan ideologis”, maka yang terjadi adalah reduksi makna. Program berjalan, tetapi ruh bisa saja hilang. Keputusan diambil, tetapi arah bisa kabur.
Di titik ini, persoalannya bukan pada asal-usul kader, melainkan pada kesadaran untuk berproses. Sebab, tanpa itu, jabatan berpotensi menjadi sekadar posisi administratif, bukan amanah ideologis.
Dari Label Menuju Kesadaran
Menyederhanakan persoalan menjadi “organik” versus “non-organik” seringkali justru menutup ruang refleksi. Karena pada kenyataannya, kualitas kader tidak ditentukan semata oleh jalur masuknya, tetapi oleh kesediaannya untuk terus bertumbuh.
Seorang kader non-organik hari ini bisa menjadi penggerak ideologis yang kuat di masa depan jika ia membuka diri untuk belajar, menyerap, dan beradaptasi dengan nilai-nilai Muhammadiyah. Sebaliknya, kader organik pun tidak otomatis unggul, jika ia berhenti berproses dan hanya mengandalkan masa lalu. Di sinilah pentingnya memindahkan fokus: dari siapa kita menjadi bagaimana kita berproses.
Kader Organik dalam Pandangan Tokoh Muhammadiyah
Gagasan tentang kader organik sejalan dengan pandangan para tokoh Muhammadiyah tentang pentingnya proses, nilai, dan kesinambungan gerakan. Kader tidak cukup hanya hadir dalam struktur. Ia harus tumbuh bersama nilai, memahami sistem, dan sanggup menjaga arah persyarikatan.
Haedar Nashir menekankan bahwa Muhammadiyah harus dipahami sebagai gerakan yang bertumpu pada nilai. Nilai menjadi dasar tindakan, pikiran, dan orientasi hidup warga persyarikatan. Ia juga mengingatkan bahwa kader harus menjadi bagian dari sistem Muhammadiyah, bukan menempatkan diri di atas sistem. Dalam pandangan ini, kader organik adalah orang yang tidak hanya bekerja untuk Muhammadiyah, tetapi juga membiarkan dirinya dibentuk oleh nilai dan sistem Muhammadiyah.
Abdul Mu’ti melihat kaderisasi sebagai syarat keberlanjutan organisasi. Menurutnya, banyak organisasi besar hanya tinggal sejarah karena proses kaderisasinya berhenti. Ia juga menyebut bahwa kader Muhammadiyah memiliki fungsi melanjutkan, mengembangkan, dan menyempurnakan cita-cita para pendiri serta misi Muhammadiyah. Artinya, kader organik bukan sekadar penerus jabatan. Ia adalah penerus cita-cita. Ia hadir untuk memastikan gerakan tidak kehilangan arah.
Pandangan ini diperkuat oleh Khoiruddin Bashori. Ia menjelaskan bahwa kaderisasi diperlukan agar kultur dan corak persyarikatan tidak luntur. Sasaran perkaderan mencakup pembinaan ideologi, jiwa persyarikatan, kepemimpinan, keterampilan, informasi, dan keilmuan. Dari sini terlihat bahwa kader organik bukan hanya orang yang lama berada di Muhammadiyah. Ia adalah pribadi yang pikiran, sikap, mental, kesadaran beragama, dan kesadaran organisasinya ditempa oleh proses yang utuh.
Dahlan Rais juga memberi tekanan penting. Baginya, kader Muhammadiyah harus bekerja keras, mandiri, berilmu, dan gemar beramal saleh. Ia menyebut empat jalur perkaderan Muhammadiyah, yaitu keluarga, sekolah atau institusi pendidikan Muhammadiyah, organisasi otonom, dan Amal Usaha Muhammadiyah. Pandangan ini memperluas makna kader organik. Ia bisa tumbuh dari rumah, sekolah, ortom, maupun amal usaha. Yang penting, proses itu membentuk karakter, bukan hanya memberi posisi.
Dengan demikian, kader organik dapat dipahami sebagai kader yang memiliki akar nilai, pengalaman gerakan, kesadaran ideologis, dan kesediaan untuk terus belajar. Ia bukan hanya lahir dari Muhammadiyah, tetapi juga rela dibentuk oleh Muhammadiyah. Ia tidak hanya membawa nama persyarikatan, tetapi juga menjaga watak, marwah, dan cita-citanya.
Contoh Kader Organik: Buya Ahmad Syafii Maarif
Salah satu contoh kuat kader organik Muhammadiyah adalah Buya Ahmad Syafii Maarif. Ia tidak hadir tiba-tiba dalam panggung persyarikatan. Sejak kecil, ia telah bersentuhan dengan pendidikan Muhammadiyah. Ia belajar di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah, lalu melanjutkan ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah Balai Tangah, Lintau. Pada usia 19 tahun, ia merantau ke Yogyakarta dan melanjutkan pendidikan di Madrasah Muallimin Yogyakarta sampai 1956. Di Muallimin, ia aktif dalam Hizbul Wathan dan pernah menjadi pemimpin redaksi majalah Sinar. Setelah itu, ia memenuhi permintaan Konsul Muhammadiyah Lombok untuk menjadi guru di Pohgading. Kelak, ia menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1998 sampai 2005.
Perjalanan Buya Syafii menunjukkan ciri utama kader organik. Ia tumbuh dari pendidikan Muhammadiyah, aktif dalam ruang perkaderan, mengabdi di lapangan, lalu berkembang menjadi pemikir dan pemimpin. Ia tidak hanya memahami Muhammadiyah sebagai organisasi. Ia menghidupi Muhammadiyah sebagai jalan pengabdian.
Buya Syafii juga memberi pesan penting kepada kader Muallimin. Ia meminta mereka berani menjadi kader umat, kader bangsa, dan kader kemanusiaan. Ia mengingatkan agar kader siap menghadapi masyarakat yang beragam, lapang dada, tidak mudah marah, dan memiliki ilmu agar tidak rendah diri. Pesan ini menegaskan bahwa kader organik tidak boleh sempit. Ia harus berakar kuat, tetapi tetap terbuka. Ia harus setia pada nilai, tetapi mampu hadir di tengah masyarakat luas dengan pikiran jernih dan hati yang lapang.
Refleksi: Di Mana Posisi Kita?
Tulisan ini pada akhirnya bukan untuk memberi label, tetapi untuk mengajak bercermin.
Apakah kita hadir di Muhammadiyah sekadar untuk mengisi struktur, atau benar-benar untuk menghidupi nilai? Apakah kita menjalankan program, atau sedang merawat gerakan?
Apakah kita merasa sudah selesai karena “lama berproses”, atau justru terus belajar karena merasa belum cukup? Muhammadiyah tidak membutuhkan kader yang sempurna, tetapi membutuhkan kader yang setia pada proses. Kader yang tidak hanya memahami aturan, tetapi juga merasakan makna. Kader yang tidak hanya memimpin, tetapi juga menuntun.
Dari pandangan para tokoh tersebut, jelas bahwa kader organik bukan sekadar kategori asal-usul. Ia adalah kualitas keberpihakan, kedalaman proses, dan kesetiaan pada nilai. Karena itu, menjadi kader organik bukan hanya soal pernah berada di Muhammadiyah sejak lama. Yang lebih penting adalah apakah seseorang benar-benar tumbuh bersama ruh gerakan, memahami arah perjuangan, dan menjadikan amanah sebagai jalan khidmat.
Merawat Akar, Menumbuhkan Harapan
Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, Muhammadiyah dituntut untuk tetap kokoh pada nilai, sekaligus adaptif dalam gerak. Di sinilah kader menjadi penentu arah.
Kader organik adalah akar yang menjaga kedalaman.
Kader non-organik adalah cabang yang membuka kemungkinan.
Namun keduanya hanya akan bermakna jika terhubung pada batang yang sama: nilai-nilai Muhammadiyah.
Maka, tugas kita bukan memperdebatkan siapa yang lebih layak, tetapi memastikan bahwa setiap yang hadir dalam barisan ini benar-benar berjalan dalam satu arah berkhidmat untuk umat, dan mencerahkan kehidupan bangsa.
Wallahu a’lam bish shawab

