• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Menjemput Fajar Baru Kaderisasi Muhammadiyah

Kader Kelapa dan Kader Pinang Belajar Kaderisasi dari Ayat-Ayat Kauniyah

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
7 Juli 2026
in Kolom
0

Kader Kelapa dan Kader Pinang, Belajar Kaderisasi dari Ayat-Ayat Kauniyah

(Tulisan ke-63 dari Beberapa Tulisan Bertema Kaderisasi)

Oleh: Amrizal, S.Si., M.Pd. – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumatera Utara / Dosen Universitas Negeri Medan

 

Pernahkah kita bertanya, mengapa Allah menciptakan kelapa berbeda dengan pinang?

Keduanya tumbuh menjulang ke langit. Sama-sama hidup di tanah tropis. Sama-sama berbatang lurus, berdaun hijau, dan menghasilkan buah. Dari kejauhan bahkan tampak serupa. Namun ketika manusia mulai berinteraksi dengannya, perbedaan itu perlahan menyingkap hikmah yang luar biasa. Kelapa seakan diciptakan untuk mengabdi. Airnya menghilangkan dahaga. Daging buahnya menjadi makanan. Santannya menghidupkan dapur. Minyaknya menjadi obat dan penerang. Tempurungnya menjadi arang. Sabutnya menjadi tali, keset, hingga media tanam. Batangnya menjadi bahan bangunan. Daunnya menjadi atap dan anyaman. Hampir tidak ada bagian dari kelapa yang sia-sia. Alam ternyata sedang mengajarkan sesuatu kepada manusia.

Allah tidak hanya menurunkan petunjuk melalui ayat-ayat yang dibaca (qauliyah), tetapi juga melalui ayat-ayat yang terbentang di alam semesta (kauniyah). Sebagaimana firman-Nya,

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)

Bagi orang-orang yang mau berpikir, setiap pohon adalah guru. Setiap hujan adalah nasihat. Setiap gunung adalah pelajaran tentang keteguhan. Bahkan sebatang kelapa pun dapat mengajarkan makna kaderisasi.

Di lingkungan Muhammadiyah dikenal sebuah ungkapan yang sering disampaikan sebagai bahan renungan, yaitu Kader Kelapa dan Kader Pinang. Ia bukan sekadar perumpamaan yang menarik, melainkan cermin tentang dua karakter manusia dalam menjalani amanah perjuangan.

Kelapa Tidak Pernah Takut Diproses

Kelapa tidak menjadi bermanfaat hanya karena ia tumbuh tinggi. Ia menjadi bermanfaat karena bersedia diproses. Sebelum menjadi santan, ia harus dikupas. Tempurungnya dibelah. Dagingnya diparut. Hasil parutan itu diremas dan diperas berkali-kali hingga keluar sari terbaik yang selama ini tersembunyi di dalam dirinya.

Tidak ada santan tanpa parutan.

Tidak ada minyak tanpa perasan.

Tidak ada manfaat besar tanpa proses yang melelahkan.

Bukankah demikian pula Allah mendidik manusia?

Tidak ada ulama yang lahir tanpa panjangnya belajar. Tidak ada pemimpin yang matang tanpa ditempa oleh kegagalan. Tidak ada kader yang tangguh tanpa kritik, pengorbanan, dan pengabdian.

Sering kali kita ingin menjadi manusia yang bermanfaat, tetapi tidak siap menghadapi proses yang menyakitkan. Kita ingin dihormati, tetapi enggan ditempa. Kita ingin dipercaya, tetapi tidak sabar menjalani pembinaan.

Padahal Allah telah mengingatkan,

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka belum diuji?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)

Setiap pengajian, Baitul Arqam, Darul Arqam, mentoring, pelatihan, rapat, amanah organisasi, hingga tugas-tugas yang sering kali melelahkan, sesungguhnya bukan beban kaderisasi. Semuanya adalah “parutan kehidupan” yang sedang mengeluarkan kualitas terbaik dari diri seorang kader.

Allah tidak sedang menghancurkan orang-orang yang berjuang. Dia sedang menyempurnakan mereka.

Akar yang Tidak Terlihat

Ada satu pelajaran lain dari pohon kelapa yang sering luput dari perhatian. Mengapa kelapa tetap berdiri meski diterpa angin laut yang begitu kencang? Bukan karena batangnya paling besar. Melainkan karena akar serabutnya menyebar ke segala arah, mencengkeram tanah dengan kokoh.

Begitu pula seorang kader. Yang membuatnya istiqamah bukanlah jabatan. Bukan pula popularitas. Melainkan akar ideologinya. Tauhid yang lurus. Ilmu yang terus bertambah. Pemahaman terhadap manhaj Muhammadiyah. Keikhlasan dalam berdakwah. Kesetiaan kepada persyarikatan.

Semakin dalam akar itu menghunjam, semakin tinggi pula seorang kader mampu tumbuh menghadapi badai zaman. Sebaliknya, kader yang miskin akar akan mudah roboh oleh pujian, kecewa karena tidak memperoleh jabatan, bahkan meninggalkan perjuangan hanya karena perbedaan pendapat.

Menjadi Manusia yang Seluruh Hidupnya Bermanfaat

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Hadis ini seolah menemukan gambaran nyatanya pada pohon kelapa. Ia tidak pernah memilih siapa yang menikmati manfaatnya. Ia memberi kepada siapa saja. Tidak bertanya suku. Tidak bertanya organisasi. Tidak bertanya pilihan politik. Ia hanya memberi.

Demikian pula kader Muhammadiyah.

Ia tidak hidup untuk mencari tepuk tangan. Ia tidak bergerak demi penghargaan. Ia hadir membawa solusi, mencerahkan masyarakat, menguatkan umat, memajukan pendidikan, menolong yang lemah, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semesta. Semakin banyak manfaat yang ia tebarkan, semakin tinggi pula nilai hidupnya di hadapan Allah.

Ketika Kader Menjadi Pinang

Di sisi lain, para aktivis Muhammadiyah sejak dahulu juga mengenal istilah “kader pinang.”

Perumpamaan ini bukan dimaksudkan untuk merendahkan pohon pinang yang tetap memiliki manfaat, melainkan mengambil satu sifat yang tampak pada pelepahnya. Pelepah pinang sering kali tetap melekat pada batang hingga benar-benar dipaksa lepas.

Di situlah letak ibrahnya. Ada kader yang demikian. Ia hadir ketika dipanggil. Bergerak ketika diperintah. Bekerja jika ada penghargaan. Aktif ketika memiliki jabatan. Namun ketika dakwah membutuhkan pengorbanan, ia perlahan menghilang. Ia lebih mencintai kenyamanan daripada perjuangan. Lebih sibuk menghitung hak daripada menunaikan amanah. Lebih cepat kecewa daripada memperbaiki keadaan.

Padahal Allah telah mengingatkan,

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2–3)

Kaderisasi bukan sekadar identitas. Ia adalah kesediaan untuk terus bergerak. Karena itu, ukuran seorang kader bukanlah seberapa sering namanya tercantum dalam struktur organisasi, melainkan seberapa besar manfaat yang hadir melalui hidupnya.

 

 

Muhammadiyah Membutuhkan Ruh, Bukan Sekadar Nama

Sejak didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah tidak dibangun di atas kultus individu. Persyarikatan ini tumbuh karena hadirnya manusia-manusia yang rela menghabiskan usia demi ilmu, dakwah, pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan umat. Gedung-gedung dapat diwariskan. Jabatan dapat berganti. Aset dapat dipindahkan. Tetapi ruh perjuangan hanya dapat diwariskan melalui kaderisasi. Itulah sebabnya kaderisasi bukan sekadar agenda organisasi.

Ia adalah jantung kehidupan Muhammadiyah.

Tanpa kaderisasi, amal usaha hanya akan menjadi bangunan. Tanpa kaderisasi, organisasi hanya akan menjadi birokrasi. Tanpa kaderisasi, cita-cita Islam Berkemajuan akan kehilangan para penggeraknya.

Jadilah Kader Kelapa

Kelak jabatan akan selesai. Nama kita mungkin terlupakan. Foto-foto kepengurusan akan menguning dimakan usia. Namun manfaat tidak pernah mati. Ia hidup di sekolah yang kita bangun.

Di masjid yang kita makmurkan. Di kader yang kita didik. Di masyarakat yang kita cerahkan. Mungkin inilah sebabnya Allah menciptakan kelapa. Bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi agar manusia belajar bahwa hidup terbaik adalah hidup yang seluruh dirinya menjadi manfaat.

Maka ketika kaderisasi memarut kita dengan amanah, meremas kita dengan tanggung jawab, dan memeras kita dengan berbagai ujian, janganlah mengeluh. Sebab Allah tidak sedang menghancurkan kita. Dia sedang mengeluarkan “santan terbaik” yang selama ini tersembunyi di dalam diri kita. Bukankah itulah hakikat seorang kader Muhammadiyah? Bukan sekadar tumbuh tinggi. Tetapi tumbuh untuk memberi kehidupan. Bukan sekadar hidup di dalam organisasi. Tetapi menghidupkan organisasi dengan ilmu, keikhlasan, dan pengabdian. Itulah kader kelapa.

Semakin diproses, semakin mengalir manfaatnya.

 

Wallāhu a’lam bi al-shawāb.

 

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: amrizalKaderisasikolom
Previous Post

MTT PWM Sumut Menjaring Kader Tarjih dan Merespon Isu Kontemporer Melalui PKTW

Next Post

Setelah 2 Dekade, Hamas Bubarkan Badan Pemerintahan di Gaza!

Next Post
Setelah 2 Dekade, Hamas Bubarkan Badan Pemerintahan di Gaza!

Setelah 2 Dekade, Hamas Bubarkan Badan Pemerintahan di Gaza!

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.