• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Identitas Kader Muhammadiyah:  Meneguhkan Jati Diri, Mengokohkan Gerakan

Jika Aku Bertemu Ahmad Dahlan

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
4 Agustus 2026
in Kolom
0

Jika Aku Bertemu Ahmad Dahlan

(Tulisan ke-67 dari Beberapa Tulisan Bertema Kaderisasi)

Oleh: Amrizal – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumatera Utara / Dosen Universitas Negeri Medan

 

Malam itu aku berjalan sendirian di halaman sebuah sekolah Muhammadiyah. Lampu-lampu kelas telah padam. Hanya cahaya bulan yang menerangi bangunan yang berdiri megah di hadapanku. Di kejauhan terdengar suara anak-anak mengaji dari sebuah masjid. Entah mengapa, malam itu pikiranku melayang jauh ke Kauman Yogyakarta lebih dari satu abad yang lalu.

Aku membayangkan seorang laki-laki kurus dengan sorban putih sedang duduk di serambi rumahnya. Di hadapannya terdapat beberapa murid muda. Tidak ada gedung bertingkat. Tidak ada universitas. Tidak ada rumah sakit besar. Tidak ada ribuan sekolah seperti hari ini.

Yang ada hanyalah kegelisahan.

Aku mendekat.

“Assalamu’alaikum, Kiai.”

Beliau menoleh dan tersenyum.

“Wa’alaikumussalam. Dari mana engkau datang?”

“Dari masa depan, Kiai.”

Beliau tersenyum lebih lebar.

“Bagaimana keadaan Muhammadiyah di sana?”

Aku terdiam.

Pertanyaan itu ternyata jauh lebih sulit daripada yang kubayangkan.

“Kiai,” kataku perlahan, “Muhammadiyah telah tumbuh sangat besar.”

Beliau mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Kami memiliki ribuan sekolah, ratusan perguruan tinggi, rumah sakit di berbagai daerah, panti asuhan, lembaga zakat, dan jutaan warga yang mengaku Muhammadiyah.”

Beliau mengangguk.

“Alhamdulillah.”

“Tetapi…”

Aku berhenti sejenak.

Beliau menatapku.

“Ada apa?”

Aku menarik napas panjang.

“Kadang kami lebih sibuk mengurus bangunan daripada membangun manusia.”

Beliau terdiam.

“Kadang kami bangga dengan amal usaha, tetapi lupa melahirkan kader.”

Beliau masih diam.

“Kadang kami sibuk memperebutkan jabatan, tetapi lupa memperjuangkan gagasan.”

Wajah beliau tidak berubah.

Namun matanya tampak semakin dalam.

Lalu beliau bertanya pelan.

“Ketika engkau membangun sekolah, apakah sekolah itu melahirkan manusia yang mencintai ilmu?”

Aku terdiam.

“Ketika engkau membangun rumah sakit, apakah rumah sakit itu menghadirkan kasih sayang Allah kepada orang miskin?”

Aku semakin terdiam.

“Ketika engkau mengadakan rapat, apakah rapat itu membuat umat lebih tercerahkan?”

Aku tidak mampu menjawab.

Beliau kemudian berdiri.

Kami berjalan menyusuri lorong kecil Kauman.

“Kalian sering menyebutku pendiri Muhammadiyah,” katanya.

Aku mengangguk.

“Tetapi sesungguhnya aku hanya seorang guru.”

“Guru?”

“Ya. Aku hanya ingin mengajarkan Al-Qur’an.”

Beliau berhenti.

“Tahukah engkau berapa kali aku mengulang Surah Al-Ma’un kepada murid-muridku?”

Aku mengangguk.

“Kami sering mendengar kisah itu.”

Beliau tersenyum.

“Tetapi apakah kalian memahami mengapa aku mengulanginya?”

Aku terdiam.

Beliau melanjutkan.

“Karena aku tidak ingin murid-muridku hanya pandai membaca ayat. Aku ingin mereka menjadi ayat yang hidup.”

Kalimat itu menghantam batinku.

Menjadi ayat yang hidup.

Bukan sekadar menghafal Al-Qur’an, tetapi menghadirkan nilai Al-Qur’an dalam kehidupan.

Bukan sekadar mengutip hadis, tetapi menjelma menjadi akhlak Nabi.

Bukan sekadar mengaku kader Muhammadiyah, tetapi menghadirkan manfaat bagi umat.

Kami kembali berjalan.

Di sepanjang jalan aku melihat bayangan masa depan.

Gedung-gedung tinggi.

Universitas megah.

Rumah sakit modern.

Masjid-masjid besar.

Namun tiba-tiba beliau bertanya lagi.

“Apakah kader-kader Muhammadiyah masih gemar membaca?”

Pertanyaan itu terasa menusuk.

Di zaman media sosial, banyak orang lebih suka membuat komentar daripada membaca buku.

Lebih senang membuat status daripada menulis gagasan.

Lebih cepat menyebarkan informasi daripada melakukan tabayyun.

Aku menunduk.

Beliau berkata lembut.

“Peradaban tidak dibangun oleh orang yang hanya pandai berbicara.”

“Peradaban dibangun oleh orang yang mau belajar.”

Aku teringat bagaimana beliau menjual barang-barang miliknya demi membangun sekolah kecil di rumahnya. Aku teringat bagaimana beliau pergi ke Makkah untuk belajar. Aku teringat bagaimana beliau berani mengubah arah kiblat ketika banyak orang menentangnya.

Semua lahir dari keberanian berpikir.

Dari tradisi iqra’.

Dari keberanian mencari kebenaran.

“Kiai,” tanyaku, “apa yang paling engkau khawatirkan terhadap Muhammadiyah masa depan?”

Beliau tidak langsung menjawab.

Kami berhenti di depan sebuah masjid.

Lalu beliau berkata pelan.

“Aku tidak takut Muhammadiyah menjadi kecil.”

Aku terkejut.

“Aku juga tidak takut Muhammadiyah miskin.”

Beliau menatap langit.

“Yang aku takutkan adalah ketika Muhammadiyah kehilangan ruhnya.”

Aku terdiam.

“Ketika organisasi lebih besar daripada cita-cita.”

“Ketika jabatan lebih penting daripada pengabdian.”

“Ketika amal usaha kehilangan misi dakwah.”

“Ketika kader lebih sibuk mencari posisi daripada mencari ilmu.”

Angin malam berhembus pelan.

Aku merasa seolah sedang bercermin.

Karena semua yang beliau katakan adalah ancaman yang mungkin sedang mengintai Muhammadiyah hari ini.

Sebelum berpisah aku memberanikan diri bertanya.

“Kiai, apa pesanmu untuk kader Muhammadiyah abad kedua?”

Beliau tersenyum.

Senyum yang tenang.

Senyum seorang guru.

“Jangan hanya mewarisi organisasi.”

Aku mendengarkan dengan saksama.

“Warisilah kegelisahan.”

Aku terdiam.

“Gelisah melihat kebodohan.”

“Gelisah melihat kemiskinan.”

“Gelisah melihat ketidakadilan.”

“Gelisah melihat umat kehilangan arah.”

Beliau melanjutkan.

“Karena Muhammadiyah lahir bukan dari kenyamanan.”

“Melainkan dari kegelisahan seorang hamba yang ingin menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semesta.”

Ketika aku terbangun, azan Subuh berkumandang.

Aku masih berada di halaman sekolah Muhammadiyah.

Bangunan itu tetap berdiri megah.

Tetapi malam itu aku memahami sesuatu.

Muhammadiyah tidak pernah dibangun oleh gedung.

Tidak pula dibangun oleh jabatan.

Muhammadiyah dibangun oleh manusia-manusia yang gelisah, yang membaca zaman dengan hati, yang menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya, dan yang bekerja tanpa menunggu tepuk tangan.

Barangkali jika hari ini Ahmad Dahlan benar-benar hadir di tengah kita, beliau tidak akan bertanya berapa jumlah sekolah yang kita miliki.

Beliau mungkin hanya bertanya satu hal:

“Apakah kalian masih menyalakan api yang dahulu kami nyalakan?”

Dan pertanyaan itulah yang seharusnya terus menggema di hati setiap kader Muhammadiyah, menuju Muktamar, menuju abad kedua, dan menuju masa depan peradaban.

 

Wallahu a’lam bish shawab

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: ahmad dahlanamrizalkolom
Previous Post

Kebakaran KMP Mutiara Sentosa II: 62 Korban Tiba di Pelabuhan Tanjung Perak

Next Post

Buya Amirsyah: Dari Tanah Wakaf, UMSU Tumbuh Menjadi Kampus Berkelas Dunia

Next Post
10 Universitas Islam Terbaik di Indonesia Versi Pemeringkatan Global

Buya Amirsyah: Dari Tanah Wakaf, UMSU Tumbuh Menjadi Kampus Berkelas Dunia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.