Jenderal Soedirman, Hizbul Wathan, dan Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya
Oleh : Jufri
Pagi ini saya membaca sebuah poster Hizbul Wathan (HW) Jawa Barat. Kalimat yang terpampang di sana sederhana, tetapi sarat makna. Anggota Hizbul Wathan yang unggul bukan hanya kuat fisik dan akhlaknya, tetapi juga cerdas literasi dan numerasinya.
Kalimat itu langsung membawa pikiran saya melintasi perjalanan panjang sejarah bangsa ini. Saya teringat kepada seorang kader Hizbul Wathan yang kemudian menjelma menjadi salah satu tokoh terbesar dalam sejarah Indonesia, Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Bagi saya, jika ditanya siapa kader Hizbul Wathan yang paling fenomenal, maka nama Jenderal Soedirman hampir pasti berada di urutan paling depan. Beliau bukan sekadar seorang jenderal. Beliau adalah simbol keteguhan iman, kecintaan kepada tanah air, keberanian dalam perjuangan, dan kesederhanaan dalam kehidupan.
Namun kebesaran itu tidak lahir secara tiba-tiba.
Soedirman muda ditempa oleh pendidikan keluarga, pendidikan sekolah, Muhammadiyah, dan Hizbul Wathan. Dari sana tumbuh karakter yang kokoh. Dari sana lahir seorang pemimpin yang kelak memimpin perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dalam situasi yang sangat sulit.
Ketika sakit paru-paru menggerogoti tubuhnya, semangat perjuangannya tetap menyala. Ketika sebagian orang memilih menyerah, beliau justru memimpin perang gerilya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih berdiri.
Saya kemudian berpikir, bagaimana mungkin seorang anak muda bisa memiliki karakter sebesar itu?
Jawabannya mungkin tidak sederhana, tetapi salah satunya adalah karena beliau tumbuh dalam lingkungan yang menghargai ilmu, disiplin, pengabdian, dan perjuangan.
Karena itu, alangkah luar biasanya jika seluruh Organisasi Otonom Muhammadiyah, termasuk Hizbul Wathan, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Tapak Suci, dan ortom lainnya, menjadikan membaca sejarah sebagai bagian dari gerakan kaderisasi.
Bayangkan jika para pengurus dan anggota Ortom Muhammadiyah membaca sejarah Indonesia, sejarah perjuangan kemerdekaan, sejarah Muhammadiyah, sejarah tokoh-tokoh bangsa, dan sejarah para ulama yang telah berjuang membangun negeri ini.
Saya yakin akan terjadi sesuatu yang luar biasa.
Kecintaan kepada Islam akan semakin kuat karena mereka memahami bagaimana Islam menjadi sumber inspirasi bagi perjuangan dan kemajuan.
Kecintaan kepada Muhammadiyah akan semakin bergelora karena mereka mengetahui betapa besarnya sumbangsih Muhammadiyah dalam pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan bangsa.
Kecintaan kepada Indonesia juga akan semakin mendalam karena mereka memahami bahwa kemerdekaan negeri ini ditebus dengan darah, air mata, pengorbanan, dan kerja keras para pendahulu.
Membaca sejarah bukan sekadar mengenang masa lalu.
Membaca sejarah adalah memahami identitas.
Membaca sejarah adalah menemukan arah.
Membaca sejarah adalah belajar agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Organisasi yang besar adalah organisasi yang memahami akar perjuangannya. Dan kader yang besar adalah kader yang mengenal tokoh-tokoh yang telah mendahuluinya.
Dalam konteks itulah saya melihat relevansi tema Muktamar Muhammadiyah, “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.”
Tema ini sesungguhnya sangat dalam.
Bangsa tidak akan menjadi cerdas hanya dengan membangun gedung sekolah.
Bangsa tidak akan menjadi cerdas hanya dengan menyediakan teknologi.
Bangsa menjadi cerdas ketika tradisi membaca, berpikir, berdiskusi, meneliti, dan belajar tumbuh dalam kehidupan masyarakat.
Bangsa menjadi cerdas ketika generasi mudanya mengenal sejarah bangsanya, memahami agamanya, dan memiliki visi masa depan.
Dan ketika bangsa menjadi cerdas, maka semesta akan bercahaya.
Cahaya itu bukan hanya cahaya listrik yang menerangi malam hari. Cahaya itu adalah cahaya ilmu pengetahuan, cahaya akhlak, cahaya keadilan, cahaya kepedulian sosial, dan cahaya peradaban.
Muhammadiyah selama lebih dari satu abad sesungguhnya sedang menyalakan cahaya itu. Melalui sekolah, universitas, rumah sakit, panti asuhan, masjid, dan berbagai amal usaha lainnya, Muhammadiyah berupaya menghadirkan pencerahan bagi umat dan bangsa.
Hizbul Wathan menjadi bagian penting dari ikhtiar tersebut. Sebab HW tidak hanya mendidik anak muda menjadi kuat secara fisik. HW juga mendidik mereka menjadi manusia yang berkarakter, mencintai ilmu, mencintai tanah air, dan siap mengabdi kepada masyarakat.
Dari rahim Hizbul Wathan pernah lahir seorang Jenderal Soedirman. Tidak tertutup kemungkinan dari Hizbul Wathan hari ini akan lahir pemimpin-pemimpin besar masa depan Indonesia. Mungkin seorang guru besar, seorang ilmuwan, seorang hakim yang adil, seorang polisi yang melayani rakyat, seorang pengusaha yang berintegritas, seorang menteri yang amanah, atau bahkan seorang presiden yang membawa bangsa ini menuju kemajuan.
Namun siapa pun mereka kelak, satu hal yang paling penting adalah mereka tetap menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukanlah seberapa tinggi jabatan yang diraih, melainkan seberapa besar manfaat yang diberikan.
Jenderal Soedirman telah memberikan teladan itu. Muhammadiyah terus mengajarkan nilai itu. Hizbul Wathan menanamkan semangat itu. Dan tema “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya” mengingatkan kita bahwa jalan menuju kemajuan selalu dimulai dari ilmu, karakter, dan pengabdian.
Maka marilah kita membaca. Membaca Al-Qur’an, membaca buku, membaca sejarah, membaca realitas, dan membaca tanda-tanda zaman. Sebab dari aktivitas membaca itulah lahir pemahaman. Dari pemahaman lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan lahir pengabdian.
Dan dari pengabdian yang tulus itulah akan lahir generasi yang mencintai Islam dengan keyakinan, mencintai Muhammadiyah dengan kebanggaan, serta mencintai Indonesia dengan sepenuh hati.
Jika itu terjadi, maka cita-cita besar Muhammadiyah bukanlah mimpi. Bangsa akan semakin cerdas, dan semesta pun akan semakin bercahaya.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni
