• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Jangan Sibuk Berdebat Tentang Mazhab, Tetapi Lupa Melihat Persoalan Kemanusiaan

Jangan Sibuk Berdebat Tentang Mazhab, Tetapi Lupa Melihat Persoalan Kemanusiaan

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
11 Mei 2026
in Tarjih
0
Jangan Sibuk Berdebat Tentang Mazhab, Tetapi Lupa Melihat Persoalan Kemanusiaan

INFOMU.CO |  Yogyakarta – Anggota Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Immawan Wahyudi mengajak umat Islam untuk tidak terjebak dalam fanatisme mazhab yang berlebihan hingga melahirkan perpecahan di tengah umat.

Pesan itu ia sampaikan dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan pada Jumat (8/5).

Dalam khutbahnya, Immawan membuka pembahasan dengan mengutip Surah An-Nisa ayat 59 dan Surah An-Nahl ayat 90 yang kerap menjadi penutup khutbah Jumat. Ia menjelaskan, tradisi membaca Surah An-Nahl ayat 90 di akhir khutbah pernah dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib sebagai respons terhadap kondisi umat Islam yang mulai terbelah akibat perbedaan kelompok dan pandangan politik.

Menurutnya, pada masa itu khutbah bahkan tidak jarang dipakai untuk menyerang kelompok lain. Ia menyinggung sebuah riwayat ketika putra Ali bin Abi Thalib, yakni Hasan bin Ali menghadiri khutbah yang mencaci keluarga Rasulullah. Namun Hasan bin Ali justru merespons dengan penuh kerendahan hati dan tidak membalas hinaan tersebut.

“Beliau mengatakan bahwa kelemahan keluarga Rasulullah jauh lebih banyak daripada yang disampaikan khatib tadi. Itu menunjukkan ketawaduan dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan,” ujar Immawan.

Ia menjelaskan bahwa perbedaan pendapat sebenarnya telah muncul sejak masa sahabat Nabi. Para sahabat memiliki pandangan berbeda dalam sejumlah persoalan fikih, termasuk dalam pembagian faraid atau hukum waris. Namun perbedaan tersebut tidak sampai menimbulkan permusuhan dan perpecahan.

“Para sahabat sudah berbeda pendapat, tetapi tidak pernah menjadikan perbedaan itu sebagai alasan untuk saling membenci dan menghina,” katanya.

Immawan kemudian memaparkan bahwa pelembagaan mazhab berkembang pada masa imam-imam besar seperti Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal. Ia juga menyebut Ja’far ash-Shadiq sebagai salah satu imam mujtahid dalam tradisi Syiah yang tidak bisa diabaikan dalam sejarah Islam.

Menurutnya, mazhab sejatinya merupakan metode dan jalan ijtihad para ulama dalam memahami akidah dan syariat Islam. Karena itu, umat tidak seharusnya memandang mazhab secara sempit ataupun menjadikannya alat untuk merendahkan kelompok lain.

Ia mencontohkan praktik salat dalam tradisi Syiah yang tidak meletakkan tangan di dada sering dijadikan bahan untuk menjelekkan kelompok tertentu. Padahal, kata dia, mazhab Maliki juga memiliki praktik serupa.

“Kita sering terjebak pada informasi yang parsial tentang suatu mazhab,” ujarnya.

Immawan juga mengingatkan pesan para imam mazhab yang tidak menghendaki umat bersikap fanatik. Ia mengutip pernyataan Imam Syafi’i bahwa apabila ditemukan hadis sahih, maka itulah pendapat yang harus diikuti. Demikian pula Imam Malik yang menyatakan, “Apabila ada hadis yang sahih maka itulah mazhabku.”

Ia menilai penyampaian pandangan mazhab yang tidak utuh sering kali memunculkan friksi hingga konflik di tengah masyarakat. Dalam konteks global, ia menyinggung bagaimana sebagian umat Islam masih sibuk memperdebatkan perbedaan Sunni dan Syiah di tengah konflik kemanusiaan yang terjadi di Palestina dan Gaza.

Menurutnya, persoalan utama umat Islam saat ini bukanlah perbedaan mazhab, melainkan bagaimana membangun solidaritas kemanusiaan dan persaudaraan sesama Muslim.

“Bagaimana mungkin negara yang sangat kuat membela rakyat Palestina justru dimaki-maki hanya karena alasan mazhab. Sungguh ini di luar kerangka berpikir Muslim,” katanya.

Dalam khutbah tersebut, Immawan juga mengingatkan bahaya sikap merasa paling benar sebagaimana disindir dalam Al-Qur’an mengenai kelompok-kelompok yang memecah belah agama dan bangga terhadap golongannya masing-masing.

Ia menegaskan bahwa perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar, tetapi sikap fanatik buta terhadap mazhab harus dihindari. Menurutnya, umat Islam harus kembali menempatkan Islam sebagai fondasi utama, bukan menjadikan mazhab sebagai identitas yang memecah belah.

“Jangan sibuk berdebat tentang mazhab, tetapi lupa melihat persoalan kemanusiaan dan ketidakadilan yang terjadi di dunia,” tuturnya.

Di akhir khutbah, Immawan mengajak umat Islam untuk mengedepankan ukhuwah, memahami perbedaan secara dewasa, dan mencari solusi atas persoalan umat sebagaimana dicontohkan Ali bin Abi Thalib melalui pesan-pesan persatuan dalam Surah An-Nahl ayat 90.

“Mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan hidayah, rahmat, keberkahan, dan pertolongan-Nya kepada kita semua,” pungkasnya. (muhammadiyah.or.id)

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: mahzabmuhammadiyah
Previous Post

Carlo Alfonso Nallino (w. 1938 M) : Orientalis Italia Pengkaji Sejarah Astronomi Peradaban Islam dan Pentahkik “Zij al-Battani”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.