Jangan Hanya Membantu Korban Bencana, Mari Jaga Alam Sebelum Bencana Datang
( Tulisan Terakhir dari Dua Tulisan Terkait Lingkungan)

Oleh: Jufri
Indonesia sedang dan berulang kali menghadapi berbagai bencana ekologis, mulai dari banjir, tanah longsor, hingga kekeringan di sejumlah wilayah. Setiap kali bencana terjadi, kita menyaksikan rumah-rumah rusak, harta benda hilang, aktivitas masyarakat terganggu, dan tidak sedikit keluarga yang harus menanggung penderitaan.
Kita patut mengapresiasi berbagai pihak yang bergerak memberikan bantuan kepada korban. Semangat gotong royong, solidaritas sosial, dan kepedulian kemanusiaan merupakan kekuatan bangsa yang harus terus dirawat.
Namun, ada pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama: apakah kepedulian kita cukup berhenti setelah bantuan disalurkan dan keadaan kembali normal?
Bencana memiliki beragam penyebab. Faktor alam, curah hujan, kondisi geografis, tata ruang, dan aktivitas manusia dapat saling berkaitan. Di antara persoalan yang perlu mendapat perhatian serius adalah kerusakan hutan dan berkurangnya tutupan pohon.
Ketika hutan kehilangan fungsinya, kemampuan tanah menyerap dan menahan air dapat melemah. Hilangnya vegetasi juga dapat meningkatkan risiko erosi dan memperburuk dampak hujan lebat di wilayah tertentu. Karena itu, menjaga hutan dan memulihkan kawasan yang rusak bukan sekadar urusan penghijauan, melainkan bagian dari ikhtiar melindungi kehidupan manusia.
Kita tidak bisa hanya bersedih ketika bencana datang, mengirimkan bantuan, lalu kembali melupakan persoalan yang sama setelah keadaan mereda. Bantuan kemanusiaan sangat penting, tetapi pencegahan dan pemulihan lingkungan juga harus menjadi perhatian bersama.
Jangan sampai kita begitu mudah mengulurkan tangan setelah bencana terjadi, tetapi kurang peduli terhadap upaya menjaga alam sebelum bencana datang.
Infak Peduli Lingkungan sebagai Gerakan Bersama
Gagasan ini mengingatkan saya pada program Infak Peduli Lingkungan yang disampaikan senior saya, Ogek Hadriman Khair Pasaribu, melalui LAZISMU Kota Medan bersama Majelis Lingkungan Hidup PDM Kota Medan.
Saya melihat program ini memiliki peluang untuk dikembangkan lebih luas. Infak tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat yang sedang mengalami kesulitan, tetapi juga berpotensi mendukung kegiatan pencegahan melalui penghijauan, edukasi lingkungan, pengelolaan sampah, dan pemulihan kawasan yang membutuhkan perhatian.
Tentu pelaksanaannya perlu direncanakan dengan baik. Pohon yang ditanam harus dirawat agar tumbuh. Sampah yang dikumpulkan harus dikelola dengan benar. Kegiatan edukasi harus diikuti perubahan kebiasaan. Penggunaan dana infak pun harus transparan, terukur, dan sesuai dengan ketentuan pengelolaan dana yang berlaku.
Menanam pohon memang penting, tetapi menjaga pohon yang masih ada tidak kalah pentingnya. Kita juga perlu menumbuhkan kesadaran bahwa hutan bukan sekadar kumpulan pepohonan yang dapat dimanfaatkan sesuka hati. Hutan memiliki fungsi penting bagi keseimbangan ekosistem dan kehidupan manusia.
Gerakan masyarakat tentu tidak menggantikan tanggung jawab pemerintah dalam melindungi hutan, menata ruang, memperbaiki pengelolaan sampah, dan menegakkan aturan lingkungan. Sebaliknya, gerakan masyarakat dapat memperkuat upaya tersebut melalui partisipasi dan pengawasan sosial.
Dari Kota Medan untuk Sumatera Utara
Kebetulan, dalam dua kali diskusi bersama pengurus LAZISMU Sumatera Utara yang baru berganti kepengurusan, kami juga membicarakan berbagai hal yang dapat dikerjakan ke depan. Apa program yang perlu dikembangkan, bagaimana memperluas manfaatnya, dan bagaimana agar kehadiran LAZISMU semakin dirasakan masyarakat.
Dari berbagai kemungkinan yang dibicarakan, menurut saya Infak Peduli Lingkungan layak menjadi salah satu program yang dipertimbangkan. Apa yang dilakukan LAZISMU Kota Medan dapat menjadi inspirasi bagi LAZISMU Sumatera Utara untuk mengembangkan gerakan serupa dengan jangkauan lebih luas.
Pelaksanaannya tidak harus seragam. Setiap daerah memiliki kebutuhan dan persoalan lingkungan yang berbeda. Ada wilayah yang membutuhkan gerakan penghijauan, ada yang perlu memperkuat pengelolaan sampah, dan ada pula yang perlu meningkatkan kepedulian terhadap sungai, saluran air, serta ruang publik.
LAZISMU Wilayah, Daerah, Cabang, dan Ranting dapat membangun kolaborasi dengan Majelis Lingkungan Hidup, pemerintah setempat, sekolah, kampus, komunitas pemuda, dan masyarakat. Dengan begitu, gerakan ini tidak berhenti sebagai slogan atau kegiatan seremonial, tetapi tumbuh menjadi program berkelanjutan yang manfaatnya dapat dirasakan bersama.
Muhammadiyah memiliki tradisi dakwah yang menghubungkan nilai agama dengan tindakan nyata. Melalui kolaborasi filantropi dan kepedulian ekologis, tradisi tersebut dapat terus dikembangkan sesuai dengan tantangan zaman.
Harapan saya, Infak Peduli Lingkungan tidak berhenti sebagai program yang baik di Kota Medan. Semoga melalui diskusi dan kolaborasi di tingkat wilayah, gagasan ini dapat dipertimbangkan untuk dikembangkan bersama jaringan LAZISMU di berbagai daerah di Sumatera Utara.
Tentu masih banyak persoalan sosial yang membutuhkan perhatian LAZISMU. Namun, menjaga lingkungan juga merupakan bagian dari upaya menjaga kehidupan, terutama ketika kerusakan alam dapat memperbesar risiko bencana dan penderitaan masyarakat.
Kita mungkin tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan lingkungan sendirian. Namun, kita dapat memulai dari hal-hal yang berada dalam jangkauan kita: menyisihkan sebagian rezeki, menanam dan merawat pohon, mengurangi sampah, menjaga kebersihan, serta mendorong kebijakan yang melindungi lingkungan.
Bumi bukan hanya milik generasi hari ini. Ada hak generasi mendatang yang harus kita pertimbangkan dalam setiap tindakan.
Mari membantu mereka yang terdampak bencana, sekaligus memperkuat ikhtiar agar risiko bencana dapat dikurangi. Mari menjadikan infak sebagai bagian dari gerakan merawat bumi.
Sebab, kepedulian yang sesungguhnya bukan hanya hadir ketika orang lain tertimpa musibah, tetapi juga berusaha menjaga agar kehidupan tidak semakin terancam oleh kerusakan lingkungan.
Silaturahmi, Kolaborasi, Sinergi, Harmoni.
*** Penulis, Jufri Pengamat Sosial & Politik dan Penulis Tamu Infomu.co

