Jaga Tunas Bangsa, Jaga Masadepan Indonesia
Oleh: Partaonan Harahap, ST., MT., IPM – Dosen Fakultas Teknik UMSU, Sekretaris LPCR-PM PWM Sumatera Utara, Ketua Asosiasi Alumni Teknologi Teladan Medan (AATT)
Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Momentum ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan yang diisi dengan upacara, pidato resmi, dan pemasangan spanduk di berbagai sudut kota. Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi ruang refleksi mendalam bagi seluruh elemen bangsa untuk menilai kembali arah perjalanan Indonesia, apakah bangsa ini benar-benar sedang bergerak menuju kemajuan, atau justru berjalan tanpa arah di tengah derasnya perubahan zaman.
Tema Hari Kebangkitan Nasional tahun 2026, “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”, menghadirkan pesan yang sangat penting sekaligus mendesak. Tema ini mengingatkan bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada bagaimana bangsa ini memperlakukan generasi mudanya hari ini. Tunas bangsa bukan hanya simbol anak-anak dan pemuda, melainkan representasi harapan, keberlanjutan peradaban, dan penentu kualitas masa depan negara.
Bangsa yang gagal menjaga generasi mudanya akan kehilangan arah masa depannya. Sebaliknya, negara yang mampu membangun kualitas manusianya akan tetap kokoh menghadapi tantangan global seberat apa pun. Karena itu, menjaga tunas bangsa bukan hanya tugas keluarga atau lembaga pendidikan semata, tetapi menjadi tanggung jawab kolektif seluruh rakyat Indonesia.
Di era modern saat ini, generasi muda Indonesia hidup dalam realitas yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka lahir di tengah perkembangan teknologi digital, tumbuh bersama media sosial, dan setiap hari berhadapan dengan arus informasi tanpa batas.
Dunia yang mereka hadapi jauh lebih terbuka, kompetitif, sekaligus penuh tekanan. Kemajuan teknologi memang membawa banyak manfaat. Anak muda kini memiliki akses luas terhadap ilmu pengetahuan, peluang kreativitas, dan inovasi yang sebelumnya sulit dibayangkan. Melalui internet, seorang pelajar di desa dapat belajar dari universitas terbaik dunia. Anak-anak muda dapat membangun usaha digital, menciptakan karya kreatif, hingga
membangun jaringan global hanya melalui perangkat telepon genggam.
Namun di balik berbagai peluang tersebut, era digital juga menghadirkan ancaman serius terhadap karakter, moral, dan identitas kebangsaan generasi muda. Media sosial perlahan mengubah pola pikir masyarakat. Popularitas sering dianggap lebih penting daripada kualitas diri. Viralitas menjadi ukuran keberhasilan. Konten sensasional lebih mudah mendapat perhatian dibanding gagasan yang mendidik dan membangun.
Ruang digital dipenuhi ujaran kebencian, hoaks, budaya instan, hingga konten yang dapat merusak moral generasi muda. Dalam kondisi seperti ini, menjaga tunas bangsa menjadi tantangan yang jauh lebih berat dibanding masa lalu. Jika tidak diantisipasi dengan baik, perkembangan teknologi justru dapat melahirkan generasi yang cerdas secara digital tetapi rapuh secara moral dan emosional.
Ironisnya, di tengah derasnya arus globalisasi, sebagian generasi muda justru mulai kehilangan identitas kebangsaan. Banyak yang lebih mengenal budaya luar dibanding sejarah bangsanya sendiri. Mereka hafal tren internasional, tetapi kurang memahami nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi Indonesia. Fenomena ini tentu menjadi peringatan serius. Padahal, kebangkitan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemajuan ekonomi dan teknologi, tetapi juga oleh kekuatan karakter manusianya. Negara boleh kaya sumber daya alam, tetapi jika generasinya rapuh secara moral dan intelektual, maka kedaulatan bangsa akan mudah goyah.
Karena itu, tema Harkitnas 2026 sejatinya merupakan peringatan bagi seluruh bangsa Indonesia bahwa kedaulatan negara tidak hanya dijaga melalui kekuatan militer atau pertumbuhan ekonomi semata. Kedaulatan sejati juga ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Jika anak-anak bangsa tumbuh tanpa arah, tanpa pendidikan berkualitas, tanpa karakter, dan tanpa rasa cinta tanah air, maka ancaman terhadap masa depan negara akan semakin nyata.
Dalam konteks ini, pendidikan menjadi kunci utama menjaga tunas bangsa. Sayangnya, hingga hari ini dunia pendidikan Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan mendasar. Ketimpangan kualitas pendidikan antara kota dan daerah masih sangat terasa. Banyak sekolah di pelosok kekurangan fasilitas, minim tenaga pengajar, bahkan kesulitan mengakses teknologi dasar.
Di sisi lain, pendidikan di kota-kota besar sering berubah menjadi arena kompetisi ekonomi yang mahal. Sekolah unggulan, bimbingan belajar elit, dan komersialisasi pendidikan membuat akses terhadap pendidikan berkualitas semakin timpang. Akibatnya, tidak semua anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Padahal, setiap anak Indonesia memiliki potensi besar jika diberikan kesempatan dan lingkungan yang tepat. Bangsa ini tidak kekurangan generasi cerdas. Yang sering kali kurang adalah sistem yang mampu mengembangkan potensi mereka secara adil dan berkelanjutan.
Selain persoalan akses pendidikan, tantangan besar lainnya adalah krisis karakter. Kita hidup di zaman ketika kecerdasan intelektual sering lebih dihargai dibanding integritas moral. Anak-anak didorong mengejar nilai akademik tinggi, tetapi kurang diajarkan tentang kejujuran, tanggung jawab, empati, disiplin, dan kepedulian sosial. Fenomena ini terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Kasus perundungan di sekolah meningkat. Kekerasan di kalangan remaja semakin mengkhawatirkan. Penyalahgunaan narkoba, judi online, hingga kriminalitas digital mulai menyasar generasi muda. Semua ini menunjukkan bahwa pembangunan karakter bangsa belum berjalan secara optimal. Lebih memprihatinkan lagi, sebagian anak muda kini tumbuh dalam budaya instan. Mereka ingin sukses cepat tanpa proses panjang. Media sosial sering menghadirkan ilusi kesuksesan semu yang membuat generasi muda kehilangan makna perjuangan. Padahal, bangsa besar dibangun oleh generasi yang tangguh, disiplin, dan mampu menghadapi kesulitan.
Di sinilah pentingnya peran keluarga sebagai benteng pertama penjaga tunas bangsa. Orang tua bukan hanya bertugas memenuhi kebutuhan materi anak, tetapi juga membentuk karakter dan nilai kehidupan mereka. Sayangnya, realitas sosial modern sering membuat fungsi keluarga melemah.
Kesibukan ekonomi membuat banyak orang tua kehilangan waktu bersama anak-anaknya. Komunikasi dalam keluarga semakin berkurang. Anak lebih banyak belajar dari internet dibanding dari orang tua. Dalam situasi seperti ini, tidak mengherankan jika banyak anak muda tumbuh tanpa kedekatan emosional dan arahan moral yang kuat. Selain keluarga, lingkungan sosial juga memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan generasi muda. Namun ruang publik kita hari ini sering kali tidak ramah terhadap tumbuh kembang anak dan remaja. Tayangan media dipenuhi sensasi dan konflik. Diskusi publik penuh dengan kebencian dan saling menyerang. Figur publik tidak jarang memberikan contoh buruk dalam etika dan perilaku.
Akibatnya, anak muda tumbuh di tengah kebingungan nilai. Mereka kesulitan menemukan teladan yang benar-benar layak dicontoh. Padahal, generasi muda membutuhkan inspirasi dan figur yang mampu menunjukkan bahwa kesuksesan dapat diraih melalui integritas, kerja keras, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Meski demikian, kita juga tidak boleh memandang generasi muda secara pesimis. Di tengah berbagai tantangan, banyak anak muda Indonesia yang menunjukkan prestasi luar biasa.
Mereka berhasil menciptakan inovasi teknologi, memenangkan kompetisi internasional, membangun gerakan sosial, hingga menjadi pengusaha kreatif yang membuka lapangan pekerjaan. Fenomena ini menunjukkan bahwa tunas bangsa Indonesia sesungguhnya memiliki potensi besar. Yang dibutuhkan adalah dukungan, ruang berkembang, dan ekosistem yang sehat.
Negara harus hadir bukan hanya sebagai regulator, tetapi juga fasilitator yang membantu generasi muda tumbuh secara optimal. Karena itu, menjaga tunas bangsa harus menjadi agenda nasional yang serius. Pemerintah perlu memastikan bahwa pembangunan sumber daya manusia benar-benar menjadi prioritas utama, bukan sekadar slogan politik. Anggaran pendidikan harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, kesejahteraan guru, pemerataan fasilitas, dan penguatan pendidikan karakter.
Selain pendidikan formal, perhatian terhadap kesehatan mental generasi muda juga harus menjadi prioritas. Tekanan hidup modern membuat banyak anak muda mengalami kecemasan, depresi, bahkan kehilangan harapan hidup. Persoalan ini tidak boleh dianggap sepele karena kesehatan mental sangat memeng aruhi kualitas generasi bangsa di masa depan. Kita juga perlu membangun budaya literasi yang lebih kuat. Bangsa besar adalah bangsa yang gemar membaca, berpikir kritis, dan menghargai ilmu pengetahuan. Sayangnya, budaya literasi di Indonesia masih relatif rendah. Banyak anak muda lebih banyak menghabiskan waktu pada konten hiburan singkat dibanding memperkaya wawasan dan pengetahuan.
Padahal, di era persaingan global, kekuatan utama sebuah bangsa bukan lagi semata sumber daya alam, melainkan kualitas manusianya. Negara-negara maju menjadi kuat karena memiliki generasi yang inovatif, disiplin, unggul dalam ilmu pengetahuan, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Indonesia tidak boleh tertinggal dalam kompetisi global ini. Jika generasi muda gagal dipersiapkan dengan baik, maka bonus demografi yang selama ini dibanggakan justru dapat berubah menjadi beban sosial yang besar. Banyaknya usia produktif tidak akan berarti jika kualitas pendidikan dan keterampilannya rendah. Karena itu, menjaga tunas bangsa sejatinya merupakan investasi jangka panjang bagi kedaulatan negara. Kedaulatan tidak hanya berarti bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga kemampuan bangsa untuk berdiri mandiri secara ekonomi, teknologi, budaya, dan pemikiran.
Bangsa yang bergantung sepenuhnya pada teknologi asing, budaya asing, dan kekuatan ekonomi luar sesungguhnya belum sepenuhnya berdaulat. Untuk menjadi bangsa yang benar-benar mandiri, Indonesia membutuhkan generasi muda yang kreatif, inovatif, berdaya saing, dan memiliki rasa percaya diri sebagai bangsa besar.
Dalam sejarah Indonesia, kebangkitan nasional lahir dari kesadaran generasi muda terdidik. Organisasi Boedi Oetomo yang menjadi simbol awal kebangkitan nasional dibangun oleh anak-anak muda yang memiliki kepedulian terhadap masa depan bangsanya. Mereka sadar bahwa penjajahan hanya dapat dilawan melalui pendidikan, persatuan, dan kesadaran kolektif.
Semangat itulah yang seharusnya dihidupkan kembali hari ini. Kebangkitan nasional modern tidak cukup diwujudkan melalui seremoni dan pidato formal semata. Kebangkitan sejati adalah ketika bangsa ini serius membangun kualitas manusianya. Kampus, sekolah, organisasi kepemudaan, tokoh agama, media, dan seluruh elemen masyarakat harus bergerak bersama menjaga generasi muda dari ancaman degradasi moral dan krisis identitas. Kita tidak boleh membiarkan anak-anak bangsa tumbuh tanpa arah di tengah derasnya arus globalisasi.
Momentum Hari Kebangkitan Nasional 2026 harus menjadi pengingat bahwa perjuangan membangun bangsa belum selesai. Tantangan hari ini memang berbeda dengan masa penjajahan dahulu, tetapi substansinya tetap sama, bagaimana menjaga martabat dan masa depan Indonesia. Jika dahulu penjajahan datang melalui kekuatan fisik, kini ancaman hadir melalui perang informasi, ketergantungan ekonomi, degradasi moral, serta lemahnya kualitas sumber daya manusia. Karena itu, menjaga tunas bangsa adalah bentuk perjuangan modern dalam
mempertahankan kedaulatan negara.
Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh siapa pemimpinnya hari ini, tetapi oleh bagaimana kualitas generasi mudanya dibentuk sejak sekarang. Anak-anak muda hari ini adalah calon pemimpin, ilmuwan, guru, pengusaha, dan penentu arah bangsa di masa depan.
Jika mereka tumbuh dengan pendidikan yang baik, karakter yang kuat, keterampilan yang memadai, dan rasa cinta tanah air, maka Indonesia memiliki harapan besar menjadi bangsa maju dan bermartabat. Namun jika generasi muda dibiarkan tumbuh tanpa arah dan tanpa nilai, maka masa depan bangsa berada dalam ancaman serius. Karena itu, menjaga tunas bangsa bukan sekadar slogan dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Ia adalah panggilan moral dan tanggung jawab bersama seluruh rakyat Indonesia. Sebab ketika tunas bangsa terjaga, maka masa depan Indonesia juga akan tetap terjaga. (***)

