Hakikat Kekuasaan adalah Amanah yang Dipertanggungjawabkan kepada Allah
INFOMU.CO | Yogyakarta – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Kiai Saad Ibrahim, menegaskan bahwa kekuasaan yang tunduk pada kepentingan elite maupun intervensi asing sejatinya telah kehilangan makna dan kemandiriannya. Penguasa yang demikian, menurutnya, hanya menjadi pelaksana kehendak pihak-pihak yang memberinya kekuasaan.
Pandangan tersebut disampaikan Saad dalam tausiah yang ditayangkan melalui kanal tvMu pada Rabu (15/7). Ia mengawali pemaparannya dengan mengutip pemikiran pembaru Islam, Jamaluddin al-Afghani (1838–1897), yang termuat dalam buku Zu’ama’ al-Ishlah fi al-‘Ashr al-Hadits karya sejarawan Mesir, Ahmad Amin.
“Penguasa yang tunduk pada kepentingan elite atau intervensi asing sesungguhnya telah kehilangan kekuatan dan kekuasaannya. Keberadaannya hanya bersifat semu dan ia hanya menjalankan kehendak pihak yang memberinya kekuasaan,” kutip Saad.
Saad menjelaskan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kemampuan berpikir secara rasional. Kepemimpinan juga harus ditopang oleh kedalaman spiritual sehingga setiap keputusan lahir dari akal yang sehat sekaligus hati yang jernih.
“Ketika keduanya dimiliki, maka seseorang akan menjadi pribadi yang merdeka,” ujarnya.
Menurut Saad, kemerdekaan berpikir akan membuat seorang pemimpin tidak mudah didikte oleh kepentingan siapa pun, selain demi menghadirkan kemaslahatan.
Ia kemudian mengingatkan bahwa manusia diberi amanah oleh Allah Swt. sebagai khalifah fil ardh (pemimpin di bumi). Namun, amanah tersebut harus disertai kesadaran bahwa hakikat seluruh kekuasaan tetap berada di tangan Allah Swt.
“Kekuasaan yang Allah berikan kepada manusia niscaya akan diambil kembali sewaktu-waktu oleh Allah,” katanya.
Saad merujuk pada firman Allah Swt. dalam Surah Ali Imran ayat 26 yang menegaskan bahwa seluruh kerajaan dan kekuasaan adalah milik-Nya. Allah memberikan kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki dan mencabutnya dari siapa pun yang Dia kehendaki.
“Inilah ajaran teologis yang memberikan dimensi penting dalam memahami kekuasaan,” jelasnya.
Karena itu, menurut Saad, kekuasaan tidak boleh dipandang sebagai simbol kemuliaan seseorang. Kemuliaan sejati sepenuhnya merupakan anugerah Allah yang dapat diberikan kepada siapa saja, baik kepada pemimpin maupun rakyat.
“Ketika kekuasaan dikelola oleh seseorang yang memiliki pikiran yang cerdas, lalu mampu menimbangnya dengan kedalaman rohani, itulah bentuk kemampuannya dalam melaksanakan amanah,” tuturnya.
Saad mengakui bahwa mengelola kekuasaan bukanlah perkara mudah. Oleh sebab itu, setiap pemimpin harus senantiasa bersandar kepada Allah agar setiap kebijakan yang diambil selalu berpihak pada kebaikan.
“Bukan sekadar formalitas di atas kertas, tetapi juga meresap hingga ke dalam jiwa. Dalam hati, segala urusan senantiasa kita kembalikan kepada Allah,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyebut politik sebagai seni mengelola kekuasaan. Karena itu, praktik politik harus dibangun di atas nilai-nilai teologis, penghormatan terhadap martabat manusia, serta kesadaran akan amanah sebagai khalifah di muka bumi.
“Politik yang berdasarkan pada dasar teologis, menghargai orang, dan melaksanakan tugas sebagai khalifah dengan baik. Politik seperti itulah yang akan membawa pada kebaikan,” katanya.
Menutup tausiahnya, Saad menegaskan bahwa ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah pujian manusia, melainkan bagaimana amanah kekuasaan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.
“Baik kekuasaan makro dalam lingkup negara maupun kekuasaan mikro dalam lingkup organisasi atau keluarga, semuanya memiliki pertanggungjawaban kepada Allah,” pungkasnya. (muhammadiyah.or.id)

