Guru Besar UMSU Menjadi Kapolda Metro Jaya: Dari Kampus, Ilmu untuk Pengabdian
Oleh : Jufri
Pergantian pucuk pimpinan Polri dari Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo kepada Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto diikuti dengan dinamika organisasi, termasuk rotasi, penyegaran dan pembinaan karier di tubuh Polri. Salah satunya adalah pergantian Kapolda Metro Jaya. Dalam rotasi tersebut, Irjen Pol. Prof. Dr. Dadang Hartanto dipercaya mengemban amanah sebagai Kapolda Metro Jaya.
Bagi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), penunjukan Prof. Dadang tentu membawa berita gembira sekaligus kebanggaan. Sebab, beliau bukan hanya seorang perwira tinggi Polri dengan pengalaman panjang, tetapi juga merupakan dosen dan Guru Besar UMSU bidang Ilmu Administrasi Publik.
Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan Prof. Dadang. Ia tumbuh dan berkarier dalam institusi kepolisian, tetapi pada saat yang sama terus mengembangkan tradisi akademiknya. Dunia kepolisian dan dunia akademik bertemu dalam satu pribadi. Pendidikan dan pengalaman profesional kemudian dipadukan untuk memperkuat kapasitas pengabdian.
Bagi saya, ini bukan sekadar cerita tentang seorang guru besar yang mendapat amanah baru. Ada pesan yang lebih besar tentang pentingnya penguatan sumber daya manusia.
Institusi yang kuat tidak hanya dibangun dengan gedung, anggaran, struktur dan perangkat organisasi. Pada akhirnya, yang menentukan adalah manusianya. Karena itu, investasi terbesar sebuah lembaga sesungguhnya adalah investasi pada manusia: meningkatkan pendidikan, memperluas wawasan, membangun karakter, memperkuat kompetensi dan memberikan ruang kepada setiap kader untuk berkembang serta mengabdikan ilmunya.
Di sinilah perguruan tinggi Muhammadiyah mempunyai peran strategis.
UMSU dengan semangat “Unggul, Cerdas, Terpercaya” tidak cukup hanya mengejar capaian akademik. UMSU juga harus terus melahirkan sumber daya manusia yang mampu membawa ilmu pengetahuan ke tengah masyarakat.
Bahkan, dalam semangat UMSU yang ingin terus melejit, ukuran kemajuan kampus bukan hanya semakin banyaknya guru besar, doktor, publikasi, prestasi dan program akademik. Lebih penting lagi, sejauh mana seluruh capaian itu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, bangsa dan kemanusiaan.
Di sinilah relevan gagasan tentang perguruan tinggi berdampak.
Perguruan tinggi tidak boleh menjadi menara gading yang sibuk berbicara tentang teori, sementara persoalan masyarakat berjalan di luar pagar kampus. Kampus harus hadir. Ilmu harus bergerak. Akademisi harus memberikan kontribusi. Dan lulusan harus mampu menjadi bagian dari solusi.
Prof. Dadang adalah salah satu contoh menarik bagaimana perjalanan akademik dapat berjalan bersama perjalanan pengabdian. Dari ruang kepolisian menuju ruang akademik, kemudian kembali mendapat amanah dalam kepemimpinan kepolisian dengan cakupan tugas yang lebih luas.
Saya kira, inilah salah satu wajah Islam berkemajuan yang ingin dibangun Muhammadiyah.
Islam berkemajuan tidak hanya berbicara tentang kesalehan individual, tetapi juga tentang bagaimana ilmu, teknologi, pendidikan, profesionalisme dan tata kelola digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan.
Dalam tradisi Muhammadiyah, ilmu tidak seharusnya berhenti sebagai pengetahuan. Ilmu harus melahirkan amal.
Ilmu bertemu amal. Kecerdasan bertemu akhlak. Kompetensi bertemu pengabdian.
Karena itu, ketika seorang Guru Besar UMSU dipercaya menjadi Kapolda Metro Jaya, saya melihatnya sebagai sebuah momentum untuk kembali mengingatkan bahwa pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab sosial yang besar.
Jabatan Kapolda Metro Jaya tentu bukan amanah ringan. Wilayah yang dipimpin memiliki kompleksitas persoalan sosial, keamanan, ketertiban dan pelayanan publik. Masyarakat membutuhkan kepolisian yang profesional, responsif, komunikatif dan humanis.
Di sinilah pengalaman lapangan dan wawasan akademik dapat saling melengkapi.
Seorang polisi membutuhkan ilmu. Seorang akademisi membutuhkan ruang pengabdian. Dan seorang pemimpin membutuhkan keduanya: kompetensi sekaligus kebijaksanaan dalam menggunakan kompetensi tersebut.
Saya tentu berharap Prof. Dadang dapat membawa pengalaman akademik, pengalaman kepolisian dan nilai-nilai pengabdian dalam menjalankan amanah barunya. Semoga kehadirannya di Polda Metro Jaya ikut memperkuat pelayanan kepada masyarakat dan membangun komunikasi yang semakin baik antara kepolisian dengan berbagai elemen masyarakat.
Bagi UMSU, tentu ada kebanggaan tersendiri. Seorang Guru Besarnya kini mendapatkan ruang pengabdian yang lebih luas.
Tetapi kebanggaan itu jangan berhenti pada ucapan selamat.
Kebanggaan terbesar sebuah kampus adalah ketika ilmu yang lahir dari kampus mampu memberikan dampak bagi kehidupan.
Maka slogan UMSU “Unggul, Cerdas, Terpercaya” harus terus diterjemahkan dalam kerja nyata. Unggul dalam prestasi, cerdas dalam berpikir, terpercaya dalam menjalankan amanah. Dan jika ingin benar-benar melejit, maka seluruh keunggulan itu harus menghasilkan dampak.
Sebab kampus yang hebat bukan hanya kampus yang namanya semakin dikenal, tetapi kampus yang keberadaannya semakin dirasakan manfaatnya.
Dari UMSU kita belajar bahwa penguatan sumber daya manusia tidak boleh berhenti pada gelar.
Guru besar bukan sekadar gelar. Jenderal bukan sekadar pangkat. Keduanya adalah amanah.
Dan amanah pada akhirnya akan diuji oleh satu pertanyaan sederhana: seberapa besar ilmu, kewenangan dan kemampuan yang kita miliki dapat memberikan manfaat bagi orang lain?
Selamat mengemban amanah baru kepada Irjen Pol. Prof. Dr. Dadang Hartanto sebagai Kapolda Metro Jaya.
Semoga tetap rendah hati, terus belajar, dan mampu membawa semangat ilmu serta pengabdian dari kampus Muhammadiyah ke ruang pelayanan publik yang lebih luas.
UMSU Unggul, Cerdas, Terpercaya. Terus Melejit dan semakin menjadi Perguruan Tinggi yang Berdampak.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

