Fiqih dan Pitih: Menjaga Keseimbangan dalam Dakwah Islam Berkemajuan
Oleh : Jufri
Dalam istilah orang Minang, ada ungkapan sederhana tetapi sarat makna: fiqih dan pitih. Fiqih berbicara tentang ilmu, hukum, tuntunan agama, dan nilai-nilai kebenaran. Sementara pitih—uang atau materi—adalah alat untuk menopang kehidupan dan menjalankan berbagai aktivitas. Dalam kehidupan umat, keduanya sering berjalan berdampingan. Dakwah membutuhkan idealisme, tetapi juga memerlukan biaya. Amal usaha membutuhkan keikhlasan, tetapi juga memerlukan pengelolaan ekonomi yang sehat.
Karena itu, dakwah Islam berkemajuan sesungguhnya bukan dakwah yang anti terhadap dunia. Islam tidak pernah mengajarkan umatnya menjadi lemah secara ekonomi. Nabi Muhammad SAW sendiri adalah seorang pedagang. Banyak sahabat besar juga memiliki kekuatan ekonomi yang menopang perjuangan dakwah. Masalahnya bukan pada harta, tetapi pada bagaimana manusia meletakkan harta itu dalam hidupnya.
Dunia di tangan, bukan di hati. Begitulah idealnya, meski tentu saja tidak mudah.
Apalagi hari ini persoalan kehidupan makin kompleks, termasuk dalam dunia dakwah. Era digital telah mengubah cara manusia bergaul, cara memperoleh informasi, bahkan cara memandang dunia. Media sosial sering membuat ukuran keberhasilan menjadi serba instan dan material. Popularitas kadang lebih dihargai daripada kedalaman ilmu. Tidak sedikit orang lebih sibuk membangun citra daripada membangun makna. Dakwah pun terkadang ikut terseret dalam arus itu, berubah menjadi sekadar konten yang mengejar perhatian dan viralitas.
Di tengah perubahan itu, tantangan menjaga keseimbangan antara fiqih dan pitih menjadi semakin berat. Sebab dunia digital membuka peluang ekonomi yang besar, tetapi sekaligus menghadirkan godaan baru. Ada kecenderungan sebagian orang menilai dakwah dari jumlah pengikut, jumlah tayangan, atau besarnya pemasukan, bukan lagi dari kualitas ilmu dan keteladanan akhlaknya.
Sebab ketika dunia sudah berpindah dari tangan ke hati, di situlah sering muncul berbagai persoalan. Jabatan diperebutkan bukan lagi untuk pengabdian, tetapi demi akses kekuasaan. Dakwah berubah menjadi alat mencari keuntungan pribadi. Organisasi dijadikan kendaraan ekonomi dan politik semata. Bahkan tidak sedikit orang yang awalnya datang dengan semangat perjuangan, perlahan berubah arah ketika berhadapan dengan fasilitas dan kepentingan dunia.
Padahal hakikat pitih hanyalah alat, bukan tujuan akhir. Ia penting, tetapi bukan yang paling utama. Dengan ekonomi yang kuat, sekolah dapat dibangun, rumah sakit dapat didirikan, beasiswa dapat diberikan, dan umat dapat dibantu. Namun semua itu harus tetap berada dalam orbit nilai-nilai fiqih dan akhlak. Sebab ketika pitih berjalan tanpa fiqih, yang lahir adalah kerakusan. Sebaliknya jika fiqih berjalan tanpa kemampuan ekonomi, dakwah juga sering menjadi lemah dan tertinggal.
Di sinilah pentingnya keseimbangan dalam gerakan Islam berkemajuan. Kader-kader umat perlu didorong menjadi orang-orang yang saleh sekaligus profesional, kuat ilmu sekaligus kuat ekonomi, memiliki kepedulian sosial tetapi tetap hidup sederhana. Sebab ukuran keberhasilan bukan sekadar banyaknya harta, melainkan sejauh mana harta itu menghadirkan manfaat dan keberkahan.
Memang tidak mudah menjaga hati di tengah godaan dunia yang makin besar. Apalagi di zaman ketika ukuran kesuksesan sering dinilai dari materi dan gaya hidup. Tetapi sejarah membuktikan, banyak tokoh besar justru dihormati bukan karena kekayaannya, melainkan karena kemampuan mereka mengendalikan kekayaan itu. Mereka memiliki dunia, tetapi tidak diperbudak dunia.
Barangkali itulah salah satu tantangan terbesar dakwah hari ini: bagaimana membangun peradaban tanpa kehilangan keikhlasan, bagaimana mengelola amal usaha tanpa terjebak pada cinta dunia, dan bagaimana menjadikan pitih tetap sebagai pelayan perjuangan, bukan menjadi tuan yang mengendalikan arah dakwah.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni
