Enam Kader Perempuan Warnai PKTW MTT PWM Sumut, Perkuat Kiprah Ulama Tarjih Muhammadiyah
INFOMU.CO | Medan – Ada pemandangan yang berbeda dalam Pelatihan Kader Tarjih Tingkat Wilayah (PKTW) Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) PWM Sumatera Utara tahun 2026. Di antara 85 peserta yang mengikuti pelatihan selama tiga hari, terdapat enam kader perempuan yang turut aktif mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran, diskusi, simulasi bertarjih, hingga penyusunan rencana tindak lanjut (RTL).
Kehadiran mereka menjadi penanda semakin terbukanya ruang kaderisasi keulamaan perempuan di lingkungan Muhammadiyah, khususnya dalam pengembangan Manhaj Tarjih dan pemikiran Islam berkemajuan.
PKTW yang diselenggarakan Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Utara pada 3–5 Juli 2026 M bertepatan dengan 18–20 Muharram 1448 H di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Sumatera Utara, Medan, tidak hanya menjadi ajang penguatan kompetensi kader tarjih, tetapi juga menghadirkan semangat baru dalam kaderisasi ulama perempuan Muhammadiyah. Dari 85 peserta yang mengikuti pelatihan, enam di antaranya merupakan kader perempuan yang berasal dari berbagai unsur Persyarikatan, yakni Sa’adah Ritonga, S.Th.I., M.Ag. dari Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Sumatera Utara dan Dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) UMSU, Maulydia R.A. Domo dari Pimpinan Wilayah Nasyiatul ‘Aisyiyah (PWNA) Sumatera Utara, Nanda Lifia Alfisyah dari PWNA Sumatera Utara sekaligus Fakultas Agama Islam UMSU, Eva Ariyani, S.Pd.I. dari PDM Tanjungbalai, serta Rahayu Widia Ningsih, S.P., S.Sos.I., M.P. dan Riska Pratiwi dari PDM Langkat.
Selama tiga hari, keenam peserta mengikuti seluruh rangkaian pelatihan bersama peserta lainnya, mulai dari pembelajaran Manhaj Tarjih Muhammadiyah, metodologi tafsir Al-Qur’an dan hadis, usul fikih, hisab, hingga praktik bertarjih melalui simulasi sidang dan diskusi kasus. Kehadiran mereka menjadi gambaran semakin menguatnya partisipasi kader perempuan dalam tradisi keilmuan Tarjih Muhammadiyah.
Salah seorang peserta, Rahayu Widia Ningsih, SP, S.Sos.I, MP, mengaku memperoleh pengalaman yang sangat berharga selama mengikuti PKTW. Menurutnya, pelatihan ini tidak hanya memperkaya wawasan keilmuan, tetapi juga membuka potensi kader-kader yang selama ini belum banyak mendapatkan ruang pembinaan.
“PKTW MTT PWM Sumut luar biasa. Terima kasih kepada panitia, instruktur, dan seluruh narasumber. Pelatihan ini benar-benar mengangkat batang terendam dan menggali potensi yang selama ini masih terpendam,” ungkapnya.
Rahayu yang dari utusan Langkat berhasil menjadi salahsatu peserta terpilih dari 4 peserta lainnya; Ahmad Affan Hammam (Medan Tembung), Azar Aswadi (Langkat), Nabhan Halim Al Azhar Siregar (Tapanuli Selatan), M. Darut Tauhid (Tebing Tinggi). Bukti bahwa perempuan punya potensial yang sama dalam mengasah kemampuan tarjih dan gerakan tajdid di Persyarikan Muhammadiyah.
Peserta lain yang juga utusan Langkat Riska Pratiwi, S.S., M.Ag bersama Eva Ariyani, S.Pd.I utusan dari Tanjung Balai mengungkapan hal yang sama kegiatan PKTW ini sanggat bermanfaat menjadi wadah silaturahim dan pertemuan para intelektual dan calon para ulama.
Senada dengan itu, Sa’adah Ritonga, M.Ag., utusan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sumatera Utara sekaligus dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), berharap pelatihan ini tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Ia mengusulkan agar Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Sumut menyelenggarakan kajian tarjih secara rutin, baik melalui pertemuan tatap muka maupun secara daring.
Menurutnya, hasil-hasil pemikiran Tarjih juga perlu terus disosialisasikan kepada organisasi otonom Muhammadiyah agar semakin banyak kader memahami Manhaj Tarjih secara benar.
“Kami berharap setelah PKTW ini ada kajian Tarjih yang dilaksanakan secara rutin, baik offline maupun online. Sosialisasi Manhaj Tarjih juga perlu diperluas ke Ortom-Ortom Muhammadiyah. Selain itu, kami berharap MTT PWM Sumut dapat memberikan ruang lebih luas bagi kader perempuan untuk menjadi bagian dari kepengurusan Majelis Tarjih, sehingga pemahaman dan pengembangan pemikiran Tarjih dapat tumbuh secara setara antara kader laki-laki dan perempuan,” ujarnya.
Sementara itu, peserta lainnya, Nanda Lifia Alfisyah, menilai PKTW menjadi pengalaman pertama yang memberikan pemahaman metodologis tentang Tarjih secara sistematis. Ia berharap pelatihan seperti ini dapat diselenggarakan secara lebih berkesinambungan hingga ke tingkat daerah agar kaderisasi semakin kuat dan melahirkan regenerasi ulama Muhammadiyah yang berlandaskan Manhaj Tarjih.
Kehadiran enam kader perempuan dalam PKTW tahun ini menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan kaderisasi Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Sumatera Utara. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga membawa gagasan, aspirasi, dan semangat untuk memperluas dakwah keilmuan Tarjih di lingkungan Muhammadiyah.
Dengan semakin banyaknya kader perempuan yang mendalami metodologi istinbat hukum, kajian Al-Qur’an dan hadis, serta tradisi ijtihad kolektif Muhammadiyah, diharapkan lahir generasi ulama perempuan Muhammadiyah yang mampu berkontribusi dalam menjawab persoalan-persoalan keagamaan dan sosial kemasyarakatan secara ilmiah, moderat, dan mencerahkan. (faisal)

