• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Fadhilah Shalat Sunah Rawatib

Datanglah ke Masjid untuk Merendahkan Hati, Buka Meninggikan Diri

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
19 Oktober 2026
in Literasi
0
DATANGLAH KE MASJID UNTUK MERENDAHKAN HATI, BUKAN MENINGGIKAN DIRI*
(Renungan untuk Para Jamaah dan Pengurus Masjid)
Oleh Ust Abdul Latif Khan
Betapa menyedihkan jika rumah Allah, yang seharusnya menjadi tempat hati menemukan ketenangan, justru berubah menjadi tempat manusia mempertontonkan keangkuhan.
Betapa memilukan jika masjid, yang dibangun untuk menyatukan hati orang-orang beriman, justru menjadi tempat tumbuhnya perselisihan, permusuhan, dan kebencian.
Dan betapa meruginya seseorang yang begitu rajin melangkahkan kaki menuju masjid, tetapi tidak pernah belajar merendahkan hatinya di hadapan Allah.
Padahal, untuk apa kita datang ke masjid?
Bukankah untuk menghadap Allah?
Bukankah untuk bersujud, memohon ampunan, dan mengakui betapa kecilnya diri kita di hadapan kebesaran-Nya?
Lalu, mengapa masih ada yang datang ke masjid dengan dada membusung, merasa paling berhak, paling berjasa, paling memahami agama, dan paling berkuasa atas rumah Allah?
Saudaraku, masjid bukan tempat untuk membesarkan nama kita. Masjid adalah tempat untuk mengagungkan nama Allah.
*Masjid Adalah Rumah Allah, Bukan Milik Segelintir Manusia*
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah. Maka janganlah kamu menyembah siapa pun di dalamnya selain Allah.”
(QS. Al-Jinn: 18)
Ayat ini mengingatkan kita tentang hakikat sebuah masjid. Ia bukan milik ketua BKM, bukan milik pengurus, bukan milik penyumbang terbesar, bukan pula milik kelompok yang paling lama menguasai kepengurusannya.
Masjid adalah milik Allah.
Kita semua hanyalah hamba yang diberi kesempatan untuk memakmurkannya.
Ada yang diberi amanah menjadi pengurus. Ada yang diberi kelapangan rezeki untuk membiayai pembangunannya. Ada yang diberi ilmu untuk membimbing jamaah. Ada pula yang hanya mampu datang dengan pakaian sederhana, duduk di sudut masjid, lalu menangis dalam sujudnya.
Di hadapan Allah, belum tentu yang paling dikenal manusia adalah yang paling mulia.
Boleh jadi seorang jamaah sederhana yang hampir tidak pernah diperhatikan manusia justru lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah karena keikhlasan dan ketakwaannya.
Karena itu, jangan pernah merasa lebih berhak atas rumah Allah hanya karena jabatan, kekayaan, pengaruh, atau besarnya sumbangan yang pernah kita berikan.
Sebab ketika seseorang mulai merasa memiliki rumah Allah, boleh jadi saat itulah ia mulai lupa bahwa dirinya hanyalah seorang hamba.
*Jangan Membawa Kesombongan ke Tempat Kita Bersujud*
Saudaraku yang dimuliakan Allah.
Perhatikanlah bagaimana kita bersujud.
Kepala yang biasanya kita tegakkan dengan penuh kebanggaan, kita letakkan di tempat yang paling rendah.
Dahi yang menjadi simbol kehormatan manusia, kita tempelkan ke lantai.
Seolah-olah Allah sedang mendidik kita bahwa setinggi apa pun kedudukan seseorang di dunia, di hadapan-Nya ia tetaplah seorang hamba yang lemah.
Lalu, alangkah ganjilnya jika seseorang baru saja mengangkat kepalanya dari sujud, tetapi kemudian merendahkan saudaranya.
Baru saja mengucapkan salam dalam shalat, tetapi setelah itu lisannya menyakiti jamaah lain.
Baru saja memohon rahmat Allah, tetapi hatinya begitu sulit memberikan ruang bagi perbedaan dan memaafkan kesalahan orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”
(HR. Muslim, no. 91)
Kesombongan tidak selalu terlihat dari pakaian mewah, kendaraan mahal, atau kedudukan tinggi.
Terkadang kesombongan justru bersembunyi di balik penampilan yang sederhana, kefasihan berbicara tentang agama, lamanya seseorang menjadi pengurus masjid, atau keyakinannya bahwa hanya pendapatnyalah yang benar.
Maka, berhati-hatilah.
Jangan sampai kita begitu bersemangat membersihkan lantai masjid, tetapi lupa membersihkan hati dari kesombongan.
Jangan sampai kita begitu sibuk meluruskan saf jamaah, tetapi membiarkan hubungan persaudaraan di antara mereka semakin bengkok dan berantakan.
Jangan sampai kita menjaga pengeras suara masjid dengan begitu teliti, tetapi gagal menjaga suara lisan kita agar tidak melukai hati sesama Muslim.
*Kepada Para Pengurus Masjid: Amanah Itu Bukan Kekuasaan*
Menjadi pengurus masjid adalah kehormatan sekaligus tanggung jawab yang besar.
Tidak semua orang memperoleh kesempatan untuk mengabdikan waktu, tenaga, pikiran, dan hartanya demi memakmurkan rumah Allah.
Namun, ingatlah bahwa kepengurusan masjid bukanlah jabatan untuk diperebutkan demi kebanggaan pribadi.
Bukan pula kedudukan untuk mempertontonkan kekuasaan, membangun kelompok pendukung, atau menyingkirkan orang-orang yang berbeda pandangan.
Pengurus masjid adalah pelayan rumah Allah dan pelayan jamaah, bukan penguasa atas keduanya.
Ketika seorang jamaah menyampaikan kritik, dengarkanlah dengan hati yang lapang.
Ketika muncul usulan yang berbeda, pertimbangkanlah dengan bijaksana.
Ketika terjadi kesalahpahaman, selesaikanlah melalui musyawarah yang santun.
Jangan jadikan perbedaan pendapat sebagai alasan untuk memutuskan persaudaraan.
Jangan pula menjadikan masjid sebagai arena untuk membalas sakit hati, mempertahankan gengsi, atau mempermalukan sesama Muslim.
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir…”
(QS. At-Taubah: 18)
Ayat ini mengingatkan bahwa memakmurkan masjid tidak dapat dipisahkan dari keimanan dan kesadaran akan kehidupan akhirat.
Karena itu, keberhasilan pengurus masjid tidak cukup diukur dari megahnya bangunan, besarnya saldo kas, bagusnya karpet, atau banyaknya kegiatan.
Semua itu penting. Namun, ada pertanyaan yang tidak kalah penting.
Apakah jamaah merasa diterima dan dihormati?
Apakah orang miskin merasa nyaman berada di dalamnya?
Apakah anak-anak dan generasi muda merasa dirangkul?
Apakah orang yang berbeda pendapat tetap diperlakukan sebagai saudara?
Apakah masjid semakin mendekatkan hati manusia kepada Allah dan semakin menguatkan ukhuwah di antara mereka?
Sebab, apa artinya masjid semakin megah jika hati orang-orang yang mengurusnya justru semakin jauh satu sama lain?
*Kepada Para Jamaah: Jangan Menjadi Sumber Kericuhan di Rumah Allah*
Demikian pula kepada para jamaah.
Kecintaan terhadap masjid hendaknya melahirkan kepedulian, bukan keinginan untuk selalu memenangkan pendapat sendiri.
Tidak semua kebijakan pengurus harus disetujui. Tidak semua keputusan harus diterima tanpa kritik.
Pengurus juga manusia. Mereka bisa keliru, bisa kurang bijaksana, bahkan bisa melakukan kesalahan yang harus diluruskan.
Namun, meluruskan kesalahan tidak harus dengan mempermalukan.
Menyampaikan kritik tidak harus dengan mencaci.
Memperjuangkan kebenaran tidak harus dengan menebarkan permusuhan.
Jika ada persoalan, duduklah bersama.
Jika ada ketidakadilan, sampaikan dengan cara yang benar.
Jika ada penyimpangan amanah, mintalah pertanggungjawaban secara jujur, adil, dan sesuai ketentuan.
Jangan membiarkan masjid menjadi tempat berkembangnya fitnah, prasangka buruk, adu domba, dan persaingan antarkelompok.
Allah mengingatkan:
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang…”
(QS. Al-Anfal: 46)
Perbedaan pendapat tidak selalu dapat dihindari. Bahkan, dalam beberapa persoalan fikih, para ulama pun berbeda pandangan.
Tetapi perbedaan tidak semestinya membuat kita kehilangan adab, merusak persaudaraan, apalagi mengganggu kekhusyukan orang-orang yang sedang beribadah.
Jangan sampai seseorang enggan datang ke masjid bukan karena ia tidak mencintai shalat berjamaah, melainkan karena merasa tidak nyaman menghadapi pertengkaran yang terus terjadi di dalamnya.
Betapa berat tanggung jawab kita jika perilaku kita justru membuat orang lain menjauh dari rumah Allah.
*Jangan Sampai Kita Menang dalam Perselisihan, tetapi Kalah di Hadapan Allah*
Ada satu hal yang patut kita renungkan bersama.
Dalam sebuah perselisihan, manusia sering kali begitu sibuk membuktikan siapa yang benar, siapa yang salah, siapa yang paling berpengaruh, dan siapa yang akhirnya memenangkan keputusan.
Tetapi jarang kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah Allah meridai cara kita memperjuangkan kebenaran itu?
Boleh jadi pendapat kita benar, tetapi cara kita menyampaikannya penuh kesombongan.
Boleh jadi kita berhasil mempertahankan jabatan, tetapi kehilangan kepercayaan dan persaudaraan.
Boleh jadi kita memenangkan perdebatan, tetapi telah melukai begitu banyak hati.
Boleh jadi kita berhasil membuat orang lain diam, bukan karena mereka menerima kebenaran, melainkan karena mereka lelah menghadapi keangkuhan kita.
Saudaraku.
Jangan terlalu bangga ketika berhasil mengalahkan saudaramu dalam perselisihan di masjid. Takutlah jika ternyata kemenangan itu justru membuatmu kehilangan keridaan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
“Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun ia berada di pihak yang benar.”
(HR. Abu Dawud, no. 4800; dinilai hasan oleh sejumlah ulama)
Hadis ini bukan mengajarkan kita untuk membiarkan kemungkaran atau mengabaikan kebenaran. Ia mendidik kita agar tidak menjadikan perdebatan yang tidak bermanfaat sebagai tempat memuaskan ego dan kesombongan.
Betapa indahnya jika pengurus dan jamaah mampu mengatakan, “Saya mungkin keliru. Mari kita cari jalan yang lebih baik.”
Betapa menyejukkannya jika seseorang yang lebih tua bersedia mendengarkan yang muda, dan yang muda tetap menghormati yang tua.
Betapa damainya jika orang-orang yang pernah berselisih akhirnya duduk berdampingan, saling memaafkan, kemudian berdiri dalam satu saf menghadap Allah.
Bukankah itu jauh lebih indah daripada kemenangan yang meninggalkan luka?
*Suatu Hari, Kita Akan Meninggalkan Masjid yang Kita Banggakan*
Saudaraku.
Akan datang suatu hari ketika kita tidak lagi mampu melangkahkan kaki menuju masjid.
Kursi tempat kita biasa duduk mungkin masih ada.
Karpet tempat kita bersujud mungkin masih terbentang.
Papan nama kepengurusan mungkin masih terpajang, meskipun nama kita telah digantikan orang lain.
Masjid itu akan terus berdiri, azan akan terus berkumandang, dan jamaah akan terus datang silih berganti.
Tetapi kita sudah tidak berada di sana.
Mungkin suatu hari, tubuh kita justru dibawa ke masjid untuk dishalatkan.
Orang-orang berdiri dalam saf, imam mengucapkan takbir, dan kita terbujur diam tanpa mampu lagi membela diri, menjelaskan alasan, ataupun memperbaiki kesalahan.
Saat itulah jabatan tidak lagi berarti.
Pengaruh tidak lagi berguna.
Kebanggaan terhadap besarnya sumbangan tidak lagi layak dipertontonkan.
Yang kita harapkan hanyalah rahmat dan ampunan Allah.
Maka, sebelum hari itu tiba, mengapa kita tidak belajar merendahkan hati?
Mengapa tidak segera meminta maaf kepada saudara yang pernah kita sakiti?
Mengapa tidak memperbaiki hubungan dengan jamaah yang selama ini kita jauhi?
Mengapa tidak menjadikan sisa usia kita untuk membangun masjid yang benar-benar menjadi tempat berseminya iman, ilmu, kasih sayang, dan persaudaraan?
Jangan sampai orang-orang mengenang kita sebagai seseorang yang rajin ke masjid, tetapi gemar membuat kericuhan di dalamnya.
Jangan sampai kita dikenang sebagai pengurus yang berhasil membangun bangunan megah, tetapi meninggalkan jamaah yang terpecah belah.
Alangkah indahnya jika kelak, setelah kita tiada, orang-orang mengenang kita sebagai hamba yang tulus mencintai rumah Allah, menenangkan hati sesama, dan mempertemukan kembali saudara-saudara yang pernah berselisih.
*Kembalikan Masjid Menjadi Tempat Hati Bersujud*
Marilah kita mengembalikan masjid kepada kemuliaan fungsinya.
Biarlah masjid menjadi tempat orang-orang yang lelah menemukan ketenangan.
Tempat orang-orang yang berdosa menemukan jalan untuk bertobat.
Tempat orang-orang yang berselisih menemukan keberanian untuk saling memaafkan.
Tempat orang-orang yang berbeda kedudukan, kekayaan, pendidikan, dan pandangan belajar berdiri sejajar sebagai hamba Allah.
Di sanalah orang kaya berdiri di samping orang miskin.
Pejabat berdiri di samping rakyat biasa.
Pengurus berdiri di samping jamaah.
Tidak ada yang lebih tinggi karena jabatannya. Tidak ada yang lebih mulia karena kekayaannya.
Yang membedakan manusia di sisi Allah adalah ketakwaannya.
Maka, datanglah ke masjid dengan hati yang tunduk.
Masuklah dengan membawa kerendahan hati.
Duduklah dengan penuh adab.
Berbicaralah dengan kelembutan.
Bermusyawarahlah dengan kejujuran.
Dan pulanglah dengan membawa kedamaian, bukan kebencian.
Sebab masjid bukan tempat untuk menunjukkan siapa diri kita di hadapan manusia, melainkan tempat untuk menyadari betapa kecilnya diri kita di hadapan Allah.
*Penutup: Sebuah Doa untuk Rumah-Rumah Allah*
Ya Allah…
Jangan Engkau jadikan rumah-rumah-Mu sebagai tempat kami mempertontonkan kesombongan.
Jangan Engkau biarkan jabatan, kekayaan, ilmu, dan pengaruh menjadikan hati kami keras terhadap saudara-saudara kami.
Ya Allah, lembutkanlah hati para pengurus masjid. Jadikan mereka orang-orang yang amanah, bijaksana, rendah hati, dan tulus melayani jamaah.
Lembutkan pula hati para jamaah. Jadikan mereka orang-orang yang mencintai masjid, menghormati sesama, menjaga adab, dan senantiasa mengutamakan persaudaraan.
Jika di antara kami ada yang berselisih, damaikanlah.
Jika ada yang saling menyakiti, bukakanlah pintu untuk saling memaafkan.
Jika ada yang merasa paling benar, karuniakanlah kepadanya kerendahan hati untuk menerima nasihat.
Dan jika ada yang sedang memikul amanah mengurus rumah-Mu, bantulah ia agar tidak tergoda menjadikan amanah itu sebagai alat kekuasaan.
Ya Allah…
Jadikan masjid-masjid kami sebagai tempat yang Engkau cintai, tempat hati-hati yang terluka memperoleh ketenangan, tempat persaudaraan tumbuh, dan tempat hamba-hamba-Mu semakin dekat kepada-Mu.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
“Jangan datang ke masjid untuk membusungkan dada, mempertontonkan kuasa, atau memenangkan ego. Datanglah untuk merendahkan hati, menundukkan diri, dan mencari rida Allah. Sebab, rumah Allah bukan tempat manusia meninggikan dirinya, melainkan tempat setiap hamba menyadari betapa kecil dirinya di hadapan Tuhannya.”

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: abdul latif khan
Previous Post

MUI Soroti Peran Koperasi Syariah dalam Mendorong Kemandirian Ekonomi Perempuan

Next Post

15 Mahasiswa Prodi Manajemen FEB UMSU Ikuti FIM GLOBE 2026 di UMPSA Malaysia

Next Post
15 Mahasiswa Prodi Manajemen FEB UMSU Ikuti FIM GLOBE 2026 di UMPSA Malaysia

15 Mahasiswa Prodi Manajemen FEB UMSU Ikuti FIM GLOBE 2026 di UMPSA Malaysia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.