Dari Susu Terbuang hingga Gadung Kurang Dikenal, KKN MAs UMM Bawa Solusi di Kasembon
INFOMU.CO | Malang – Susu yang selama ini hanya dijual sebagai bahan mentah diolah menjadi yogurt, sementara susu rusak dimanfaatkan menjadi pupuk. Di sisi lain, keripik gadung yang menjadi salah satu sumber penghasilan warga mulai diperkuat melalui branding dan pemasaran. Inovasi tersebut menjadi bagian dari program Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah–’Aisyiyah (KKN MAs) di Desa Wonoagung, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, sepanjang Agustus ini.
Pengolahan susu menjadi produk bernilai tambah menjadi langkah strategis mengingat sekitar 60 persen produksi susu Indonesia berasal dari Jawa Timur. Kabupaten Malang menjadi salah satu sentra produksi dengan produksi susu sapi mencapai 150.660 ton pada 2025, atau sekitar 31 persen dari total produksi Jawa Timur yang mencapai 475.394 ton berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur.
KKN MAs merupakan program pengabdian masyarakat berskala nasional yang melibatkan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di Indonesia. Pada pelaksanaan kali ini, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah.
Ketua KKN MAs Kelompok 24, Oktafiyan Hilal Akmal, mengatakan inovasi tersebut berangkat dari pemetaan potensi sekaligus persoalan masyarakat. Wonoagung memiliki potensi pertanian, perkebunan, dan peternakan yang masih dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Ia bersama kelompoknya kemudian mendampingi warga mengolah susu segar menjadi yogurt. Susu terlebih dahulu dipanaskan, kemudian didinginkan hingga suhu yang sesuai sebelum ditambahkan bakteri baik atau starter yogurt. Setelah tercampur, susu difermentasi hingga mengental dan menghasilkan rasa khas yogurt.
Sementara itu, susu yang sudah rusak tidak langsung dibuang. Mahasiswa memanfaatkannya sebagai bahan pupuk dengan menambahkan EM4 sebagai aktivator, kemudian mencampurkannya secara merata dan melakukan proses fermentasi hingga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.
“Jadi susu itu tidak hanya dalam bentuk susu saja, bisa dalam bentuk yogurt, sedangkan susu yang basi bisa dimanfaatkan sebagai pupuk untuk lahan pertanian mereka,” jelasnya.
Inovasi tersebut juga menjawab persoalan susu rusak. Berdasarkan penuturan masyarakat kepada Oktafiyan, pernah terdapat sekitar 25.000 liter susu rusak yang dibuang ke sungai.
Selain susu, mahasiswa mengembangkan potensi ubi gadung yang banyak diproduksi di Dusun Sempu Kidul dan Sempu Lor. Keripik gadung menjadi salah satu sumber penghasilan warga, tetapi masih menghadapi kendala pemasaran karena sebagian besar produsennya merupakan orang tua yang belum terbiasa menggunakan teknologi digital.
“Yang membuat itu para orang tua dan mereka sangat tertinggal dengan teknologi. Saya melalui poster atau pamflet, kartu, atau stiker yang nanti ditempel di brand,” ungkapnya.
Selain inovasi ekonomi, KKN MAs di Wonoagung juga menjalankan program pendidikan. Mahasiswa terlibat dalam kegiatan mengajar di SD Negeri 1 Wonoagung serta TPQ di wilayah Dusun Sepukul dan Toyomerto. Mereka juga melakukan kegiatan kesehatan gratis bagi masyarakat, termasuk pemeriksaan gula darah bagi ibu-ibu dan lansia serta pendataan kondisi anak yang berkaitan dengan stunting.
Disisi lain, Dosen Pembimbing Lapangan KKN MAs Kelompok 24, Sofa Amalia, S.Psi., M.Si., mengapresiasi mahasiswa yang mampu memetakan potensi sekaligus persoalan masyarakat. Menurutnya, program tersebut menunjukkan mahasiswa tidak sekadar menjalankan kegiatan, tetapi berupaya menghadirkan solusi sesuai kebutuhan warga.
“KKN MAs menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar sekaligus berkolaborasi langsung dengan masyarakat. Harapannya, apa yang sudah dilakukan mahasiswa bisa dilanjutkan masyarakat dan memberikan dampak yang berkelanjutan,” pungkasnya.(***)

