Dari Majelis Air Mata Menuju Cahaya Peradaban
Oleh : Jufri
Malam ini kami mengikuti Zoom silaturahim para instruktur Wilayah Muhammadiyah se-Sumatera di bawah naungan Majelis Pengkaderan dan Sumber Daya Insani. Dalam suasana hangat penuh semangat itu, Koordinator bidang senior kami, Dr. Mario Kasduri, terus menyalakan optimisme agar setiap instruktur tetap istiqamah menjalankan tugas kaderisasi. Hal yang sama juga disampaikan Ketua Majelis MPKSI, Dr. Zainuddin Gayo Gayo . Meski bidang kaderisasi sering disebut sebagai “Majelis Air Mata”, sesungguhnya majelis ini adalah mata air keberkahan dan sumber lahirnya semangat perjuangan. Dari sinilah lahir kader-kader yang kelak menjaga cahaya persyarikatan dan memberi manfaat bagi bangsa.
Saya kemudian berpikir, mungkin memang begitulah nasib pekerjaan besar yang tidak selalu tampak megah di permukaan. Pengkaderan sering berjalan sunyi. Tidak seramai panggung politik. Tidak sepopuler jabatan publik. Bahkan terkadang tidak dianggap sebagai prioritas utama. Tetapi justru di ruang-ruang sederhana itulah masa depan organisasi sedang ditentukan.
Kaderisasi sesungguhnya bukan sekadar kegiatan formal, pelatihan rutin, atau agenda administratif organisasi. Kaderisasi adalah proses menanam cara berpikir, membangun karakter, melatih mental perjuangan, sekaligus menjaga ruh gerakan agar tidak kehilangan arah. Sebab organisasi tanpa kaderisasi lambat laun hanya akan menjadi bangunan besar yang kosong jiwa.
Di era digital hari ini tantangan kaderisasi jauh lebih berat dibanding masa lalu. Anak-anak muda hidup dalam dunia yang bergerak cepat. Media sosial membentuk pola pikir instan. Popularitas lebih sering dihargai dibanding kedalaman ilmu. Viral kadang dianggap lebih penting daripada nilai. Dalam situasi seperti ini, tugas instruktur kader bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga menjaga akal sehat generasi muda agar tidak hanyut dalam budaya dangkal.
Karena itu saya memahami mengapa bidang kaderisasi sering disebut “Majelis Air Mata”. Mengurus manusia memang melelahkan. Membina kader membutuhkan kesabaran panjang. Kadang yang dibina justru menghilang. Kadang yang diperjuangkan malah lupa pada proses perjuangan itu sendiri. Bahkan tidak jarang orang yang bekerja di bidang kaderisasi harus mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan biaya pribadi demi memastikan roda pembinaan tetap berjalan.
Bahkan terkadang ada keengganan mengajak instruktur lain untuk terlibat lebih jauh dalam pengkaderan karena merasa tidak enak hati. Tidak ada biaya yang ditetapkan, tidak ada honor yang jelas, sementara kegiatan kaderisasi sering membutuhkan pengorbanan besar. Padahal mungkin banyak instruktur yang sebenarnya ikhlas dan siap berkorban — waktu, tenaga, ilmu, bahkan uang pribadi — semata-mata karena kecintaan kepada persyarikatan. Sebab dalam perjuangan seperti ini, yang bekerja bukan hanya hitungan materi, tetapi juga panggilan hati dan keyakinan bahwa kaderisasi adalah amal jariyah peradaban.
Namun di balik air mata itu sesungguhnya ada mata air.
Dari pengkaderan lahir orang-orang yang kelak menjadi penggerak amal usaha, pemimpin umat, akademisi, dokter, pengusaha, guru, birokrat, aktivis sosial, dan berbagai profesi lainnya. Mereka mungkin bekerja di tempat berbeda, tetapi memiliki akar nilai yang sama. Itulah kekuatan kaderisasi. Ia tidak hanya melahirkan orang pintar, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki identitas dan arah perjuangan.
Dalam sebuah negara, guru adalah penentu masa depan bangsa. Maka dalam organisasi, para instruktur dan penggerak kaderisasi adalah guru peradaban. Mereka bukan sekadar pengisi forum, tetapi penjaga ideologi dan nilai-nilai gerakan. Jika para guru ini tidak diperhatikan, maka organisasi sedang mempertaruhkan masa depannya sendiri.
Karena itu dukungan pimpinan di semua tingkatan menjadi sangat penting. Mulai dari pusat, wilayah, daerah, cabang hingga ranting harus memiliki kesadaran yang sama bahwa pengkaderan bukan bidang pinggiran. Ia adalah jantung kehidupan organisasi. Tidak cukup hanya dipuji dalam pidato, tetapi juga harus diperkuat melalui kebijakan, perhatian, fasilitas, dan dukungan nyata.
Kadang kita terlalu sibuk membangun gedung dan memperbesar amal usaha, tetapi lupa memperkuat manusianya. Padahal sehebat apapun sebuah institusi, semuanya tetap bergantung pada kualitas manusia yang menjalankannya. Dan manusia berkualitas tidak lahir secara kebetulan. Mereka dibentuk melalui proses panjang yang bernama kaderisasi.
Jika dikaitkan dengan tema Muktamar tentang mencerdaskan kehidupan bangsa dan menghadirkan semesta bercahaya, maka majelis kader sesungguhnya adalah salah satu sumber cahaya itu sendiri. Sebab cahaya peradaban lahir dari manusia yang tercerahkan pikirannya, kuat akhlaknya, dan jelas arah perjuangannya.
Mungkin karena itu para penggerak kaderisasi tidak pernah benar-benar berhenti. Meski lelah, mereka tetap berjalan. Meski kadang kurang diperhatikan, mereka tetap bertahan. Sebab mereka sadar, apa yang sedang mereka kerjakan bukan sekadar mengurus kegiatan organisasi. Mereka sedang menanam masa depan.
Dan masa depan yang baik selalu lahir dari tangan orang-orang yang mau bekerja dalam sunyi.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

