• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Jufri

Jufri

Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya: Menyelamatkan Generasi dari Politik Tanpa Adab

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
11 Juni 2026
in Kolom
0
Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya: Menyelamatkan Generasi dari Politik Tanpa Adab
Oleh : Jufri 
Di tengah hiruk-pikuk politik Indonesia hari ini, saya sering bertanya dalam hati: ke mana arah pendidikan politik bangsa ini sedang berjalan?
Pertanyaan itu muncul ketika melihat ruang publik yang semakin ramai oleh budaya menjilat dan menghujat. Sebagian orang memuji kekuasaan secara berlebihan seolah tidak ada ruang untuk kritik, sementara sebagian lainnya menyerang tanpa batas seakan tidak ada lagi ruang untuk menghargai perbedaan. Akibatnya, politik lebih sering tampil sebagai pertunjukan emosi daripada arena pertukaran gagasan.
Yang lebih memprihatinkan, pemandangan itu disaksikan setiap hari oleh generasi muda. Mereka tumbuh dalam suasana di mana yang viral sering dianggap benar, yang keras dianggap berani, dan yang paling setia kepada tokoh dianggap paling berjasa. Padahal demokrasi yang sehat justru membutuhkan kemampuan berpikir kritis, keberanian menyampaikan kebenaran, dan kesediaan mendengarkan pandangan yang berbeda.
Kadang saya merasa ngeri melihat cara sebagian anak muda berpolitik. Bukan karena mereka memiliki semangat yang tinggi. Semangat itu justru diperlukan untuk membangun bangsa. Yang membuat khawatir adalah ketika semangat itu kehilangan arah dan tidak lagi dibimbing oleh etika. Dalam banyak kesempatan terlihat adanya gejala kehilangan kehalusan etika politik. Perbedaan pandangan sering disikapi secara berlebihan, kritik mudah berubah menjadi permusuhan, dan persaingan kerap menggeser persaudaraan. Namun jika direnungkan lebih dalam, mereka sebenarnya sedang belajar dari apa yang mereka lihat dan saksikan dari generasi sebelumnya.
Anak muda belajar dari apa yang mereka lihat. Mereka meniru bahasa yang digunakan para elit. Mereka mengamati bagaimana tokoh-tokoh publik memperlakukan lawan politiknya. Mereka menyaksikan bagaimana kekuasaan diperebutkan dan bagaimana jabatan dipertahankan. Jika yang dipertontonkan adalah keteladanan, maka keteladanan itulah yang akan diwarisi. Tetapi jika yang dipertontonkan adalah kebencian, fitnah, permusuhan, dan politik yang menghalalkan segala cara, maka itulah pula yang akan dianggap sebagai sesuatu yang normal.
Akibatnya, perlahan lahirlah generasi yang minus adab tetapi plus ambisi. Mereka ingin cepat dikenal tetapi kurang suka belajar. Mereka ingin cepat memimpin tetapi kurang terlatih melayani. Mereka ingin segera berada di puncak, tetapi tidak sabar menapaki proses. Ambisi tumbuh subur, sementara adab sering tertinggal. Padahal dalam tradisi keilmuan dan peradaban yang besar, adab selalu ditempatkan lebih dahulu daripada ilmu, dan ilmu selalu ditempatkan lebih dahulu daripada kekuasaan.
Di sisi lain, ada fenomena yang juga patut disayangkan. Ketika anak-anak muda mencoba mengkritisi pemerintah, pemimpin, atau para seniornya, sering kali mereka tidak dijawab dengan argumentasi yang sehat, melainkan dijatuhkan secara psikologis. Tidak jarang muncul ungkapan, “Nanti kalau kalian berkuasa, kalian bisa lebih jahat dari saya.” Kalimat seperti ini sekilas terdengar bijaksana, padahal sering digunakan untuk melemahkan keberanian berpikir kritis. Kritik akhirnya tidak dibahas substansinya, melainkan dialihkan kepada dugaan tentang masa depan pengkritiknya.
Tentu tidak ada jaminan bahwa generasi muda akan lebih baik ketika berkuasa. Namun tidak ada pula alasan untuk mengabaikan kritik yang benar hanya karena kemungkinan kesalahan yang belum tentu terjadi. Dalam kehidupan demokrasi, yang harus diuji adalah gagasan, kebijakan, dan tindakan yang sedang berlangsung hari ini, bukan prasangka terhadap apa yang mungkin terjadi di masa depan. Kritik tidak harus selalu benar, tetapi hak untuk mengkritik adalah salah satu tanda bahwa demokrasi masih hidup.
Di sinilah letak tugas besar kita semua, termasuk Muhammadiyah. Mencerdaskan kehidupan bangsa bukan pekerjaan yang mudah. Bahkan terkadang kecerdasan itu tidak disukai. Rakyat yang cerdas lebih sulit dipengaruhi. Mereka lebih kritis terhadap janji politik. Mereka tidak mudah terpesona oleh pencitraan. Mereka tidak mudah menjual hak pilihnya demi keuntungan sesaat. Mereka berani bertanya dan menuntut pertanggungjawaban.
Sebaliknya, kemiskinan dan rendahnya pendidikan sering menjadi lahan subur bagi politik transaksional. Rakyat yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari lebih mudah menjadi sasaran janji sesaat. Karena itu, memberantas kebodohan dan kemiskinan bukan hanya agenda sosial dan ekonomi, tetapi juga agenda demokrasi.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ada pihak-pihak yang lebih nyaman ketika rakyat tidak cukup cerdas untuk mempertanyakan keadaan. Sebab rakyat yang cerdas akan lebih sulit dimanipulasi. Mereka akan memilih berdasarkan pertimbangan rasional, bukan karena tekanan, ketakutan, atau pemberian sesaat. Artinya, mencerdaskan rakyat sesungguhnya adalah jalan untuk mencerdaskan bangsa.
Hal itu sejalan dengan amanat Pembukaan UUD 1945 yang menegaskan tujuan negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Amanat tersebut tidak hanya berbicara tentang sekolah, kampus, atau gelar akademik. Mencerdaskan kehidupan bangsa berarti membangun manusia yang mampu membedakan antara fakta dan propaganda, antara kritik dan kebencian, antara pengabdian dan pencitraan.
Pancasila pun memberikan arah yang sangat jelas. Sila kedua mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab. Sila keempat mengajarkan hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan. Kedua sila itu mengingatkan bahwa politik seharusnya dijalankan dengan akal sehat, etika, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Politik tidak boleh berubah menjadi arena penghinaan, fitnah, dan permusuhan yang tidak berkesudahan.
Dalam konteks itulah tema Muktamar Muhammadiyah, “Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya”, menemukan relevansinya. Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan panggilan peradaban. Sebab bangsa yang bercahaya tidak lahir dari rakyat yang mudah diadu domba. Bangsa yang bercahaya tidak lahir dari generasi yang kehilangan adab. Bangsa yang bercahaya lahir dari manusia-manusia yang tercerahkan oleh ilmu, dipandu oleh akhlak, dan digerakkan oleh semangat pengabdian.
Muhammadiyah sejak awal memahami bahwa perubahan bangsa harus dimulai dari pendidikan. Karena itulah sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai amal usaha didirikan. Semua itu bukan semata-mata institusi pelayanan, melainkan instrumen pencerahan untuk melahirkan manusia yang merdeka dalam berpikir dan bertanggung jawab dalam bertindak.
Hari ini tantangannya semakin besar. Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi kedewasaan tidak selalu tumbuh secepat perkembangan teknologi. Informasi tersedia tanpa batas, tetapi kebijaksanaan tetap harus dipelajari. Karena itu, generasi muda membutuhkan lebih dari sekadar akses pengetahuan. Mereka membutuhkan teladan, karakter, dan lingkungan yang sehat untuk bertumbuh.
Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak memiliki pengkritik, melainkan bangsa yang mampu mendengar kritik tanpa kehilangan kewibawaan. Sebab sejarah menunjukkan bahwa kemajuan sering lahir dari keberanian mempertanyakan keadaan, bukan dari kebiasaan membenarkan segala sesuatu. Karena itu, tugas kita bukan mematikan daya kritis generasi muda, melainkan membimbingnya agar tumbuh bersama adab, ilmu, dan tanggung jawab.
Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang berkuasa hari ini. Masa depan Indonesia ditentukan oleh nilai-nilai apa yang diwariskan kepada generasi mudanya. Jika yang diwariskan adalah budaya menjilat dan menghujat, maka demokrasi akan terus berjalan seperti sinetron yang melelahkan. Namun jika yang diwariskan adalah adab, ilmu, integritas, dan keberanian berpikir, maka akan lahir generasi yang mampu membawa bangsa ini menuju peradaban yang lebih maju.
Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya adalah cita-cita untuk melahirkan generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter. Generasi yang tidak hanya memiliki ambisi, tetapi juga adab. Generasi yang tidak hanya mampu meraih kekuasaan, tetapi juga mampu menggunakan kekuasaan untuk melayani. Sebab ketika rakyat menjadi cerdas, demokrasi akan menjadi sehat. Ketika demokrasi sehat, pemimpin yang lahir akan semakin berkualitas. Dan ketika ilmu, adab, serta kepemimpinan bertemu dalam satu jalan perjuangan, Indonesia akan benar-benar menjadi bangsa semesta yang bercahaya.
Mungkin inilah pekerjaan besar yang harus terus dilakukan oleh kita semua. Mencerdaskan rakyat agar tidak mudah dibeli, tidak mudah dibohongi, dan tidak mudah dipecah-belah. Sebab rakyat yang cerdas akan melahirkan bangsa yang cerdas. Dan bangsa yang cerdas pada akhirnya akan melahirkan peradaban yang bercahaya, sebagaimana dicita-citakan oleh para pendiri bangsa dan terus diperjuangkan oleh Muhammadiyah melalui dakwah pencerahan dan pendidikan yang berkemajuan.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: jufrikolomsemesta bercahaya
Previous Post

Budaya Unggul Muhammadiyah Harus Terus Dirawat untuk Menjadi Penggerak Kemajuan

Next Post

Kader Muhammadiyah Raih Kalpataru 2026, Gerakan Sedekah Sampah Berbasis Masjid Diakui Nasional

Next Post
Kader Muhammadiyah Raih Kalpataru 2026, Gerakan Sedekah Sampah Berbasis Masjid Diakui Nasional

Kader Muhammadiyah Raih Kalpataru 2026, Gerakan Sedekah Sampah Berbasis Masjid Diakui Nasional

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.