Bus Sibual Buali dan Jejak Peradaban dari Sipirok
Oleh : Jufri
Setelah teringat kembali dengan Pasaman Barat dan selesai menuliskan catatan tentang daerah itu, seperti biasa saya menghabiskan waktu sejenak dengan menonton YouTube. Kali ini yang melintas justru berbagai konten tentang bus-bus antarkota. Di antara sekian banyak video, tanpa sengaja saya menemukan sebuah konten tentang Bus Sibual Buali. Awalnya saya hanya tertarik karena namanya begitu akrab di telinga masyarakat Tapanuli. Namun, semakin saya menyimak kisahnya, semakin saya menyadari bahwa yang sedang saya lihat bukan sekadar sejarah sebuah perusahaan otobus, melainkan pintu masuk untuk mengenang sebuah keluarga besar yang telah memberikan sumbangsih luar biasa bagi pendidikan, sastra, dakwah, dan perjalanan bangsa Indonesia.
Nama Sibual Buali mengingatkan kita pada Gunung Sibualbuali yang berdiri gagah di Tapanuli Selatan. Namun di balik nama itu tersimpan kisah yang jauh lebih besar. Menurut sejarah yang banyak dituturkan masyarakat Sipirok, perusahaan otobus Sibual Buali didirikan pada tahun 1937 oleh Sutan Pangurabaan Pane, seorang guru yang memiliki pandangan jauh ke depan. Bahkan, beliau dikenal sebagai orang Indonesia pertama yang memperoleh izin trayek resmi dari Pemerintah Hindia Belanda, sebuah pencapaian yang menunjukkan kepercayaan sekaligus kemampuan manajerial yang dimilikinya pada masa itu. Sejak awal berdirinya, Bus Sibual Buali telah berperan dalam memperlancar distribusi orang dan barang, menghubungkan berbagai daerah di Sumatera Utara hingga ke Pulau Jawa. Kehadirannya bukan sekadar sarana transportasi, tetapi juga menjadi urat nadi yang mendukung pertumbuhan ekonomi, pendidikan, perdagangan, dan hubungan sosial antardaerah. Di tengah keterbatasan zaman, Sutan Pangurabaan Pane memahami bahwa kemajuan tidak hanya dibangun melalui pendidikan, tetapi juga melalui keterhubungan antardaerah. Transportasi menjadi bagian dari ikhtiar memajukan masyarakat.
Yang lebih mengagumkan, Sutan Pangurabaan Pane bukan hanya dikenal sebagai pendidik dan perintis usaha transportasi. Beliau adalah ayah dari tiga tokoh besar bangsa, yaitu Sanusi Pane, sastrawan dan budayawan yang karya-karyanya menjadi bagian penting sejarah sastra Indonesia; Armijn Pane, tokoh utama Angkatan Pujangga Baru; serta Lafran Pane, pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Mereka berasal dari keluarga yang juga aktif di Persyarikatan Muhammadiyah. Nilai-nilai keislaman, pendidikan, semangat berkemajuan, dan pengabdian kepada masyarakat tumbuh kuat dalam lingkungan keluarga tersebut.
Membaca kisah keluarga Pane membuat saya kembali merenungkan satu hal. Tokoh-tokoh besar hampir tidak pernah lahir secara kebetulan. Mereka tumbuh dari lingkungan yang menghargai ilmu, membiasakan membaca, mencintai diskusi, dan menjadikan pendidikan sebagai jalan hidup. Rumah menjadi sekolah pertama, sementara ayah dan ibu menjadi guru yang paling berpengaruh.
Sipirok pada masa itu memang dikenal sebagai daerah yang melahirkan banyak intelektual. Di sana hadir nama-nama seperti Sutan Oloan Hutagalung, Muda Siregar, dan Barita Raja Siregar. Mereka adalah guru, penulis, dan tokoh masyarakat yang ikut membangun tradisi literasi di Tapanuli. Mereka tidak hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga menanamkan semangat berpikir, menulis, dan mengabdi kepada masyarakat.
Sipirok sendiri juga dikenal luas karena Batu Jomba dan Aek Latong. Dua kawasan yang akrab bagi para pelintas Jalan Lintas Sumatera itu menawarkan panorama alam yang indah sekaligus menjadi penanda bahwa Sipirok memiliki daya tarik yang khas. Namun sesungguhnya, kekayaan terbesar Sipirok bukan hanya bentang alamnya, melainkan juga warisan intelektualnya. Dari tanah inilah lahir guru-guru, sastrawan, pemikir, ulama, dan tokoh-tokoh yang memberikan sumbangsih nyata bagi bangsa Indonesia.
Sebagian dari mereka juga dikenal memiliki kedekatan dengan Muhammadiyah yang mulai berkembang di Sipirok dan Tapanuli Selatan pada masa itu. Hal ini bukan sesuatu yang mengherankan. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah meyakini bahwa dakwah tidak cukup hanya melalui mimbar, tetapi juga melalui sekolah, perpustakaan, rumah sakit, dan berbagai amal usaha yang mencerdaskan kehidupan umat. Mencerdaskan adalah bagian dari berdakwah.
Saya kemudian berpikir, mungkin inilah yang membedakan suatu daerah dengan daerah lainnya. Ada daerah yang kaya sumber daya alam, tetapi ada pula daerah yang kaya sumber daya manusia. Sipirok telah membuktikan bahwa kekayaan terbesar bukanlah apa yang tersimpan di dalam bumi, melainkan manusia-manusia yang berilmu, berakhlak, dan memiliki keberanian untuk berpikir melampaui zamannya.
Bus Sibual Buali akhirnya bukan lagi sekadar kendaraan yang menghubungkan satu kota dengan kota lainnya. Ia menjadi simbol sebuah zaman ketika para guru tidak hanya mengajar, tetapi juga membangun masyarakat. Mereka mendidik, menulis, berdakwah, berwirausaha, dan memberi teladan. Mereka memahami bahwa membangun jalan memang penting, tetapi membangun manusia jauh lebih penting.
Hari ini, ketika Sumatera Utara bersiap menjadi tuan rumah Muktamar Muhammadiyah ke-49, kisah-kisah seperti ini terasa semakin bermakna. Muktamar bukan hanya pertemuan organisasi atau agenda lima tahunan. Ia juga menjadi momentum untuk memperkenalkan kepada warga Muhammadiyah dari seluruh Indonesia bahwa bumi Sumatera Utara memiliki jejak panjang dalam membangun peradaban Islam yang berkemajuan. Dari Sipirok lahir guru-guru, sastrawan, pemikir, dan tokoh pergerakan yang telah memberikan sumbangsih besar bagi bangsa.
Saya membayangkan, mungkin ada peserta Muktamar yang akan melintasi Batu Jomba, menikmati sejuknya Aek Latong, atau mendengar nama Bus Sibual Buali. Semoga yang mereka lihat bukan sekadar keindahan alam atau sebuah perusahaan otobus, tetapi juga sejarah panjang tentang sebuah daerah yang melahirkan begitu banyak insan berilmu dan berkemajuan.
Sebuah video tentang bus di YouTube ternyata membawa saya menempuh perjalanan yang jauh lebih panjang daripada sekadar menelusuri jalan raya. Ia membawa saya menyusuri lorong-lorong sejarah Sipirok, mengenang para guru, para sastrawan, dan para pejuang pendidikan yang telah meninggalkan jejak besar bagi bangsa ini.
Mudah-mudahan, Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara juga menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan sejarah daerah ini kepada para tamu dari seluruh Indonesia. Sebab Sumatera Utara bukan hanya memiliki panorama alam yang indah dan amal usaha Muhammadiyah yang maju, tetapi juga sejarah panjang yang melahirkan guru-guru, pemikir, sastrawan, dan pelopor transportasi yang memberi kontribusi nyata bagi Indonesia.
Semoga jejak sejarah yang telah ditorehkan Bus Sibual Buali tidak berhenti menjadi kenangan. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan, kekuatan, dan kemudahan sehingga Bus Sibual Buali terus bangkit, berkembang, dan kembali berjaya sebagai salah satu kebanggaan transportasi dari Tapanuli. Semoga usahanya semakin maju, memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat, membuka lapangan pekerjaan, memperlancar roda perekonomian, serta menjadi amal jariyah bagi para perintis dan penerusnya.
Sebagaimana para pendirinya telah mewariskan semangat ilmu, kerja keras, dan pengabdian, semoga generasi penerus juga mampu menjaga warisan itu dengan penuh amanah. Dari Sipirok telah lahir banyak cahaya bagi Indonesia. Semoga cahaya itu terus menyala, menerangi jalan menuju kemajuan umat, bangsa, dan peradaban. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni
