Boedi Oetomo dan Kiai Dahlan: Masa Lalu yang Membangun Masa Depan
Oleh : Jufri
Bulan Agustus selalu mengingatkan kita pada bulan lahirnya Indonesia sebagai negara merdeka. Setiap tahun kita kembali mengenang perjuangan para pendahulu yang dengan gagasan, pengorbanan dan keberaniannya meletakkan dasar bagi Indonesia yang kita nikmati hari ini. Karena itu, dalam tulisan ini saya ingin melihat kembali sebuah bagian dari masa lalu yang menurut saya menarik untuk direnungkan: hubungan Kiai Haji Ahmad Dahlan dengan Boedi Oetomo. Sebuah perjumpaan antara ulama, kaum terpelajar, pendidikan dan organisasi yang mungkin tampak sederhana pada zamannya, tetapi ternyata menyimpan gagasan besar tentang bagaimana masa lalu dapat ikut membangun masa depan.
Karena itu pula, pagi ini saya sengaja membaca kembali sebuah buku penting tentang pergerakan Islam yang ditulis oleh Deliar Noer, berjudul Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900–1942. Buku ini menarik karena membantu kita melihat sejarah pergerakan Islam Indonesia bukan hanya dari tokoh dan organisasi, tetapi juga dari gagasan, pendidikan, hubungan antartokoh dan suasana intelektual yang berkembang pada masa itu. Dari buku inilah saya menemukan kembali kisah menarik tentang hubungan Kiai Dahlan dengan Boedi Oetomo, termasuk perjumpaannya dengan dr. Soetomo.
Ketika berbicara tentang sejarah Muhammadiyah, kita biasanya langsung menuju tahun 1912, ketika Kiai Haji Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Yogyakarta.
Namun, seperti halnya sebuah pohon besar, Muhammadiyah memiliki akar yang jauh lebih panjang daripada tahun kelahirannya.
Ada proses pencarian, perjumpaan dengan kaum terpelajar, pengalaman berdakwah, pergulatan pemikiran, pendidikan dan kebutuhan untuk membangun sebuah organisasi yang mampu menggerakkan masyarakat secara lebih luas.
Salah satu bagian menarik dari proses tersebut adalah hubungan Kiai Dahlan dengan Boedi Oetomo.
Menurut catatan Deliar Noer dalam Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900–1942, pada tahun 1909 Kiai Dahlan masuk Boedi Oetomo.
Tetapi ada hal penting yang perlu dipahami. Kiai Dahlan masuk bukan sekadar untuk menjadi anggota sebuah organisasi. Beliau memiliki tujuan yang sangat berkaitan dengan dakwah dan pendidikan.
Beliau ingin memberikan pelajaran agama kepada anggota-anggota Boedi Oetomo.
Mengapa Boedi Oetomo?
Pada masa itu, sebagian anggota Boedi Oetomo bekerja di sekolah-sekolah, termasuk sekolah yang didirikan pemerintah. Kiai Dahlan melihat bahwa kaum terpelajar tersebut merupakan pintu penting untuk memperluas pendidikan agama.
Harapannya, melalui anggota-anggota Boedi Oetomo yang bekerja di sekolah, pelajaran agama yang diberikan Kiai Dahlan dapat diteruskan kepada murid-murid mereka.
Ini menunjukkan cara berpikir Kiai Dahlan yang cukup maju untuk ukuran zamannya.
Beliau tidak hanya berpikir tentang bagaimana menyampaikan ilmu kepada orang yang hadir di hadapannya, tetapi juga bagaimana ilmu tersebut dapat diteruskan melalui orang lain kepada masyarakat yang lebih luas.
Dan ternyata, cara Kiai Dahlan memberikan pelajaran agama mendapat respons yang baik.
Menurut Deliar Noer, pelajaran yang diberikan Dahlan tampaknya memenuhi harapan dan kebutuhan anggota-anggota Boedi Oetomo.
Mereka kemudian menyarankan agar Kiai Dahlan membuka sekolah sendiri, yang diatur secara rapi dan didukung oleh sebuah organisasi yang bersifat permanen.
Di sinilah sejarah menjadi menarik.
Setelah menguraikan pengalaman Kiai Dahlan bersama Boedi Oetomo tersebut, Deliar Noer menulis:
“Demikianlah Muhammadiyah didirikan.”
Tentu kita tidak harus menyederhanakan bahwa Muhammadiyah lahir hanya karena saran anggota Boedi Oetomo. Kiai Dahlan telah memiliki gagasan pembaruan, pengalaman berdakwah dan kegelisahan terhadap keadaan umat.
Namun pengalaman bersama Boedi Oetomo tampaknya menjadi salah satu bagian penting yang mempertemukan dakwah, pendidikan dan kebutuhan akan organisasi yang lebih teratur.
Hubungan Kiai Dahlan dengan lingkungan Boedi Oetomo juga semakin menarik karena tidak hanya berlangsung dalam forum organisasi. Hubungan itu diperkuat dengan diskusi-diskusi yang sering terjadi antara Kiai Dahlan dan dr. Soetomo.
Di sinilah kita dapat melihat bahwa perjumpaan mereka bukan sekadar pertemuan antara seorang ulama dengan anggota sebuah organisasi.
Ada dialog.
Ada pertukaran pikiran.
Ada kegelisahan yang dibicarakan bersama tentang pendidikan, masyarakat dan masa depan bangsa.
Kiai Dahlan datang dengan latar belakang pemikiran Islam dan pengalaman dakwahnya, sementara dr. Soetomo merupakan salah seorang tokoh kaum terpelajar dan pergerakan nasional.
Perbedaan latar belakang itu justru menjadi kekayaan dalam dialog.
Mereka tidak harus menjadi sama untuk dapat berdiskusi.
Mereka tidak harus berada dalam organisasi yang sama untuk dapat bertukar pikiran.
Justru dari perbedaan itulah muncul ruang untuk saling memahami.
Dan menariknya, hubungan tersebut tidak berhenti pada diskusi.
Pada 1917, ketika Boedi Oetomo mengadakan kongres di Yogyakarta, rumah Kiai Haji Ahmad Dahlan digunakan sebagai pusat kegiatan kongres tersebut.
Bayangkan, seorang ulama pembaharu Islam bukan hanya berdialog dengan kaum terpelajar Boedi Oetomo, tetapi rumahnya juga menjadi tempat berlangsungnya kegiatan organisasi tersebut.
Bagi saya, ini merupakan gambaran penting tentang suasana intelektual pada masa awal pergerakan Indonesia.
Batas organisasi belum menjadi tembok yang kaku.
Orang bisa berbeda latar belakang, berbeda organisasi dan berbeda cara pandang, tetapi tetap bisa bertemu dalam diskusi, pendidikan dan cita-cita tentang kemajuan masyarakat.
Dari sini kita juga dapat melihat bahwa sejarah kebangkitan Indonesia sebenarnya dibangun oleh banyak perjumpaan.
Ada ulama dan intelektual.
Ada sekolah dan organisasi.
Ada pengajian dan diskusi.
Ada gagasan pembaruan Islam dan gagasan kebangsaan.
Semuanya saling bersinggungan dalam ruang sejarah yang sama.
Dan mungkin justru di situlah salah satu kekuatan generasi terdahulu.
Mereka tidak sibuk membangun sekat.
Mereka sibuk membangun manusia.
Kiai Dahlan memahami bahwa pendidikan adalah jalan perubahan.
Namun beliau juga memahami bahwa pendidikan membutuhkan sistem.
Sekolah membutuhkan pengelolaan.
Dakwah membutuhkan organisasi.
Dan amal sosial membutuhkan kelembagaan.
Maka pengalaman di Boedi Oetomo menjadi salah satu bagian penting dari proses panjang yang kemudian mengantarkan lahirnya Muhammadiyah.
Muhammadiyah pada awalnya tentu belum seperti Muhammadiyah yang kita kenal sekarang.
Menurut Deliar Noer, pada tahun-tahun pertama kegiatan Muhammadiyah masih sangat terbatas, terutama di sekitar Kauman, Yogyakarta. Kiai Dahlan sendiri aktif bertabligh, mengajar di sekolah Muhammadiyah, memberikan bimbingan kepada masyarakat dan membantu fakir miskin dengan mengumpulkan dana serta pakaian untuk mereka.
Kemudian ruang geraknya mulai diperluas.
Pada 1920, kegiatan Muhammadiyah meluas ke seluruh Pulau Jawa.
Dan pada 1921, perluasan itu mencapai seluruh Indonesia.
Dari Kauman, sebuah gerakan kemudian bergerak menuju wilayah yang jauh lebih luas.
Itulah menariknya membaca sejarah dari buku-buku seperti karya Deliar Noer.
Kita diajak melihat bahwa sebuah organisasi besar tidak muncul begitu saja.
Ada gagasan.
Ada proses.
Ada perjumpaan.
Ada diskusi.
Ada keberanian untuk memasuki ruang yang berbeda.
Dan ada kesediaan untuk belajar dari pengalaman.
Masa Lalu yang Membangun Masa Depan
Barangkali inilah alasan mengapa kisah Kiai Dahlan dan Boedi Oetomo penting kita baca kembali pada bulan Agustus.
Kita sering menikmati hasil dari apa yang dibangun oleh generasi terdahulu, tetapi lupa melihat proses panjang yang melahirkannya.
Kiai Dahlan memberikan contoh bahwa dakwah tidak harus selalu dimulai dengan mendirikan ruang sendiri.
Beliau bersedia masuk ke ruang yang sudah ada.
Beliau mengajar.
Beliau berdialog.
Beliau berdiskusi dengan tokoh-tokoh kaum terpelajar seperti dr. Soetomo.
Beliau memahami kebutuhan zaman.
Kemudian pengalaman itu ikut mengantarkan lahirnya sebuah lembaga pendidikan dan organisasi yang kelak berkembang menjadi Muhammadiyah.
Inilah yang saya maksud dengan masa lalu yang mampu membangun masa depan.
Sebuah langkah pada tahun 1909 mungkin tampak sederhana: seorang ulama masuk ke sebuah organisasi kaum terpelajar untuk memberikan pelajaran agama.
Tetapi sejarah kemudian menunjukkan bahwa perjumpaan itu memiliki jejak yang panjang.
Dari pengajaran muncul kebutuhan sekolah.
Dari sekolah muncul kebutuhan organisasi.
Dari diskusi muncul pertukaran gagasan.
Dari organisasi lahir gerakan.
Dan dari gerakan lahir amal usaha yang terus berkembang lintas zaman.
Mungkin inilah salah satu pelajaran terbesar dari sejarah Kiai Dahlan.
Jangan pernah meremehkan sebuah perjumpaan gagasan.
Sebab kita tidak pernah tahu, sebuah diskusi yang berlangsung sederhana pada hari ini akan melahirkan perubahan sebesar apa pada masa depan.
Dan mungkin Indonesia yang kita rayakan kemerdekaannya setiap bulan Agustus juga dibangun oleh perjumpaan-perjumpaan semacam itu: antara ulama dan intelektual, antara pendidikan dan organisasi, antara gagasan dan tindakan.
Karena bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh mereka yang merebut kemerdekaan pada satu hari.
Bangsa yang besar juga dibangun oleh mereka yang jauh sebelumnya menyiapkan manusianya untuk mampu merdeka.
Dan dalam bagian sejarah itu, hubungan Kiai Dahlan, Boedi Oetomo dan dr. Soetomo layak untuk terus kita ingat.
Sebab masa depan sering kali dibangun oleh orang-orang yang bekerja dalam kesunyian pada masa lalu.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

