Benteng Taqwa Cegah Ghazwul Fikri : Menuju Kebangkita Islam Berkemajuan
Oleh: Rafdinal S.Sos. M.AP
Umat Islam dewasa ini tidak lagi menghadapi perang dengan pedang dan senjata. Yang kita hadapi jauh lebih halus, sistematis, dan berbahaya: Ghazwul Fikri, perang pemikiran.
Ghazwul Fikri adalah perang terencana untuk mengubah pola pikir, budaya, dan keyakinan umat Islam agar tercerabut dari akarnya sendiri. Jika perang fisik merusak jasad, maka Ghazwul Fikri merusak akidah, logika, dan jati diri. Inilah yang diperingatkan Allah:
Allah SWT telah membongkar rahasia besar strategi musuh Islam dalam satu ayat yang sangat jelas:
وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ ٱلْيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلْهُدَىٰ
Artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’.” (QS. Al-Baqarah: 120)
Inilah definisi paling otentik dari Ghazwul Fikri. Mereka tidak akan pernah ridha melihat umat Islam teguh dengan identitasnya. Mereka tidak harus membuat kita murtad secara terang-terangan, cukup membuat pola pikir, budaya, dan gaya hidup kita mengikuti millah mereka. Inilah perang pemikiran yang terencana.
Sesuai janji ayat di atas, ketidak-ridhaan itu diwujudkan melalui:
1. Pendidikan: Mengaburkan sejarah emas Islam dan menanamkan sekularisme.
2. Sosial: Merusak tatanan keluarga sakinah dengan gaya hidup bebas dan individualisme.
3. Sejarah Islam: Membuat generasi muda tidak kenal pahlawan dan peradabannya sendiri.
4. Media Massa: Membanjiri konten hoax, ghibah, dan hedonisme.
5. Sarana Hiburan: Menormalisasi budaya yang jauh dari ketakwaan.
6. Politik Kekuasaan: Menjauhkan umat dari kepemimpinan yang bertaqwa.
Akar Ghazwul Fikri adalah membuat umat Islam malu dengan kitab sucinya sendiri dan menganggap Islam tidak lengkap. Padahal Allah sudah menyatakan Islam itu sempurna.
Solusinya bukan hanya membaca, tapi menghidupkan.Di Masjid Taqwa hidupkan kembali Gerakan Baca Al Qur:an dengan kajian tematik. Contoh: Jika ada isu pinjol, langsung buka ayat tentang riba. Jadikan Qur’an jawaban atas masalah hidup, bukan hanya bacaan kematian.
Dorong Majelis Tabligh untuk membuat Kajian Tafsir Tematik Kontemporer yang menjawab hoax dan liberalisme dengan dalil yang mudah dipahami jamaah.
Menjaga Persatuan Umat, Jangan Jadikan Khilafiyah Sebagai Pemisah. Karena strategi musuh paling ampuh adalah adu domba.
Terapkan prinsip Muhammadiyah: Dalam masalah akidah ber-TASYDID, dalam masalah khilafiyah ber-TASAMUH. Beda pendapat itu rahmat, yang haram itu bermusuhan.
Bangun ukhuwah silaturahmi lintas ormas. Jangan karena beda bendera, kita tidak mau shalat berjamaah bersama. Musuh kita bukan sesama Muslim, tapi pemikiran yang merusak. Adabnya: Kembalikan perselisihan kepada Allah dan Rasul. Jika ada perbedaan, buka kitab, bukan buka aib di medsos.
Ghazwul Fikri masuk lewat politik kekuasaan untuk melahirkan kebijakan yang jauh dari nilai Islam. Salah pilih pemimpin, maka 5 tahun kebijakan akan melawan masjid.
Solusinya adalah Politik Cerdas Ber-Taqwa. Pilih pemimpin yang 4T: Taqwa, Teruji, Terdidik, dan Terjun ke masyarakat. Bukan yang hanya muncul saat pemilu.
Masjid harus menjadi pusat pendidikan politik umat. Bukan kampanye partai di dalam masjid, tetapi edukasi: Bagaimana ciri pemimpin dalam Islam. Ajak jamaah untuk menjadi pemilih yang cerdas, menolak politik uang (risywah) yang haram. Setelah ikhtiar memilih yang bertaqwa, bentengi dengan doa agar Allah jaga pemimpin kita agar tidak khianat.
Merujuk Hukum Islam dalam Sosial Kemasyarakatan
Banyak umat Islam malu menerapkan syariah dalam sosial, padahal syariah itu adalah solusi.
Ganti praktik rentenir dengan gerakan Koperasi Syariah dan BTM (Baitut Tamwil Muhammadiyah). Jika jamaah butuh modal, masjid yang fasilitasi, bukan pinjol. Hidupkan kembali hukum Islam dalam bertetangga: budaya menjenguk yang sakit, ta’ziah, dan gotong royong. Ini adalah hukum sosial Islam yang hari ini diganti dengan individualisme.
Ghazwul Fikri paling berbahaya masuk lewat kurikulum pendidikan yang sekuler: pintar otaknya, tapi buta hatinya. Solusinya adalah Sekolah Berkarakter. Di Rumah: Orang tua harus menjadi guru pertama. Ajarkan adab makan, adab bicara, adab kepada guru sebelum ajarkan matematika. Tanpa adab, ilmu akan menjadi alat merusak.
Di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM): Sekolah Muhammadiyah harus unggul bukan hanya nilai UN, tapi unggul dalam Tahfidz, bahasa Arab, dan akhlak. Buat program Guru Ngaji di Setiap Kelas
Ajarkan anak Saring Sebelum Sharing. Satu hoax bisa merusak akidah lebih cepat dari satu peluru.
Cegah Westernisasi dan Memfilter Budaya, Ambil Teknologinya, Tolak Ideologinya. Kita tidak anti-Barat, tapi kita harus cerdas. Barat maju karena teknologinya, bukan karena gaya hidup bebasnya. Kita sering salah ambil: teknologinya tidak diambil, gaya hidup bebasnya yang diadopsi.
Saring Sebelum Sharing. Setiap tren dari TikTok, film, musik, tanyakan 3 hal: Apakah ini menambah iman saya? Apakah ini merusak akhlak anak saya? Apakah ini dibenci Allah?. Jangan jadikan artis yang jauh dari agama sebagai idola anak. Kenalkan pahlawan Islam: Salahuddin Al-Ayyubi, Muhammad Al-Fatih, dan Buya Hamka. Lawan konten negatif bukan dengan marah-marah, tapi dengan membuat konten positif yang lebih keren, lebih estetik, dan lebih islami di media yang sama.
Hidupkan Kembali Sejarah Islam.
Bangsa yang lupa sejarahnya akan mudah dijajah pemikirannya. Generasi muda hari ini lebih hafal sejarah Avengers daripada sejarah pejuang Islam. Solusinya adalah Nostalgia Kejayaan. Jangan ceramah sejarah yang membosankan. Buat Wisata Sejarah Islam, Film Pendek Sejarah, dan Pojok Buku Sirah di Masjid Taqwa.
Di Keluarga: Setiap malam Jumat, ganti cerita horor dengan cerita kepahlawanan sahabat Nabi. Buat anak bangga: “Kita adalah cucu pejuang, bukan cucu pecundang.” Sejarah bukan untuk dendam, tapi untuk membangkitkan optimisme bahwa jika dulu kita bisa memimpin dunia dengan Islam, maka hari ini dengan Islam Berkemajuan kita bisa bangkit lagi memimpin peradaban.
*** Penulis: Wakil Ketua PDM Kota Medan, Aktifis Dakwah Sosial Dan Penggiat Pemberdayaan Masyarakat.
