Belajar dari Negeri Tirai Bambu: Catatan Prof. Akrim dari China
Oleh: Jufri
Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Prof. Dr. Akrim, M.Pd., saat ini berada di China untuk menjajaki berbagai peluang kerja sama dan perdagangan. Menariknya, di tengah kesibukan tersebut, beliau juga membagikan catatan tentang apa yang dilihat dan dialaminya di negeri yang dikenal dengan Tembok Besar China itu.
Secara akademis, Prof. Akrim berlatar belakang pendidikan. Namun, kiprahnya memperlihatkan ketertarikan yang kuat pada kewirausahaan, inovasi, dan pengembangan. Dunia pendidikan, tampaknya, tidak cukup hanya berkutat di ruang kuliah dan urusan akademik, tetapi juga perlu bersentuhan dengan dunia usaha dan perkembangan peradaban.
Dalam catatannya yang berjudul Peradaban Negeri Tirai Bambu, Prof. Akrim menulis:
China adalah negara yang telah menjelma menjadi salah satu pusat peradaban sains dan teknologi paling berpengaruh di dunia saat ini. Kecepatan inovasi, skala rekayasa, kemampuan manufaktur, dan penerapan teknologi yang terintegrasi telah melampaui ekspektasi banyak negara. Kemajuannya bukan melanggar logika, melainkan menunjukkan betapa jauh kemampuan manusia dapat berkembang ketika ilmu pengetahuan, pendidikan, industri, investasi, dan strategi nasional bergerak secara terpadu.
Menurut saya, dukungan masyarakat Cina juga penting untuk mempercayai dan menggunakan hasil inovasi tersebut demi menjamin keberlanjutan suatu produk. Sebagai contoh, kita melihat di jalanan kota Guangzhou sudah dipenuhi mobil dan sepeda motor EV dengan berbagai brand. Saya sudah tidak dapat menghitung seberapa banyak merek yang lewat di jalanan. Namun, saya menduga bagi orang Cina tidak penting brand yang kita gunakan, tetapi lebih memperhatikan manfaat suatu produk.
Meski saya sendiri tidak ikut dalam perjalanan tersebut, melalui cerita Prof. Akrim, saya dapat merasakan sekaligus membayangkan bagaimana China mengembangkan dan memanfaatkan berbagai potensinya untuk memperkuat pengaruhnya, bahkan turut mewarnai kehidupan dunia. Dari ilmu pengetahuan, teknologi, industri, hingga perdagangan, China menunjukkan bagaimana potensi yang dimiliki dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi.
Perjalanan Prof. Akrim tentu mempunyai arti penting. Meski di Indonesia kita sudah akrab dengan berbagai produk China, menyaksikan langsung bagaimana teknologi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan perkembangan industri di negara tersebut merupakan pengalaman yang berbeda. Apalagi jika berkesempatan melihat bagaimana produk-produk itu dibuat, bagaimana proses produksinya berlangsung, serta bagaimana inovasi dikembangkan hingga mampu menjangkau pasar dunia. Pengalaman semacam ini tentu sangat berharga, terlebih bagi seorang pimpinan perguruan tinggi yang sedang menjajaki peluang kerja sama dan perdagangan.
Saya sering menyampaikan bahwa China, India, dan Arab merupakan tiga bangsa yang tidak bisa kita lepaskan dari sejarah Nusantara dan Indonesia. Sejak berabad-abad lalu, hubungan dengan ketiganya telah terjalin melalui perdagangan, penyebaran agama, pertukaran budaya, dan perjumpaan antarmasyarakat. Jejak hubungan itu masih dapat kita rasakan hingga hari ini, baik dalam tradisi, bahasa, kuliner, agama, maupun kehidupan sosial masyarakat kita.
Karena itu, ketika berbicara tentang China, kita sesungguhnya tidak sedang membicarakan sesuatu yang sepenuhnya asing. Hubungan kita dengan negeri tersebut memiliki akar sejarah yang panjang, meskipun bentuk dan dinamika hubungannya terus berubah mengikuti perkembangan zaman.
Di Indonesia, produk-produk China tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Berbagai produk, mulai dari peralatan rumah tangga, perangkat teknologi, kendaraan, hingga beragam kebutuhan sehari-hari, telah akrab dalam kehidupan masyarakat. Tanpa harus pergi ke China, kita bisa menyaksikan bagaimana hasil produksi negeri itu hadir di rumah, di tempat kerja, dan di jalanan yang kita lalui.
Kedekatan kita dengan China juga bukan semata-mata melalui produk. Banyak saudara kita keturunan Tionghoa hidup berdampingan dengan masyarakat lainnya di berbagai daerah Indonesia, termasuk di Medan dan kota-kota lain. Mereka menjadi bagian dari keragaman masyarakat Indonesia, dengan perjalanan sejarah, aktivitas ekonomi, dan kehidupan sosial yang telah lama terjalin.
Membicarakan China, dengan demikian, bukan hanya membicarakan persaingan ekonomi atau kecanggihan teknologi, melainkan juga hubungan antarmanusia, perdagangan, dan perjumpaan budaya. Kita bisa belajar dari kemajuan sebuah bangsa tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia yang majemuk.
Prof. Akrim juga mengingatkan kita pada ungkapan yang sejak dahulu sering terdengar: “Belajarlah sampai ke negeri China.” Ungkapan ini terasa kembali relevan ketika kita menyaksikan perkembangan China dalam sains, teknologi, manufaktur, dan pembangunan infrastruktur.
Persaingan China dengan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa dalam berbagai sektor memperlihatkan bahwa peta kekuatan ekonomi dunia terus berubah. Negara yang mampu mengembangkan pengetahuan, mengolah potensi, membangun industri, dan menghadirkan inovasi akan memiliki ruang lebih besar untuk mengambil peran dalam perubahan tersebut.
Bagi dunia perguruan tinggi, pengalaman seperti ini tentu menarik untuk dicermati. Kampus memiliki peluang untuk memperluas jejaring internasional, mengembangkan kerja sama, serta mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan dunia usaha dan masyarakat.
Perjalanan Prof. Akrim ke China pun bukan sekadar perjalanan ke luar negeri. Ada pengalaman yang dibagikan, pengamatan yang membuka wawasan, dan peluang kerja sama yang patut kita nantikan perkembangannya.
Pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya dikenal karena besarnya wilayah atau panjangnya sejarah, tetapi juga karena kemampuannya mengembangkan potensi menjadi karya yang bermanfaat. Terkadang kita memang perlu pergi jauh untuk belajar, meski produk-produknya sudah dapat kita saksikan dan gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, melihat sebuah produk di sekitar kita tentu berbeda dengan menyaksikan langsung bagaimana teknologi dikembangkan, bagaimana produk itu dibuat, dan bagaimana sebuah bangsa membangun kekuatan industrinya. Dari perjalanan seperti inilah, wawasan dapat bertambah dan pengalaman menjadi bekal berharga untuk mengembangkan potensi bangsa sendiri.
Silaturahmi, Kolaborasi, Sinergi, Harmoni.

