Akar Panjang, Langkah Tenang: Catatan Seorang Kader
Oleh : Jufri
Sebagai kader Pemuda Muhammadiyah yang lebih kurang dua puluh tahun berproses, mulai dari aktivitas di Perumnas Mandala Muhammadiyah Medan hingga di tingkat Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Serdang Bedagai, saya merasakan bahwa organisasi ini bukan sekadar ruang berkumpul, melainkan ruang pembentukan diri. Ia menempa cara berpikir, menguji kesabaran dalam berkhidmat, sekaligus mengajarkan bahwa menjadi pemuda tidak cukup hanya dengan semangat, tetapi juga membutuhkan keteguhan nilai dan kejernihan arah dalam setiap langkah.
Perjalanan panjang itu memperlihatkan satu hal: bahwa organisasi tidak pernah benar-benar kekurangan orang pintar, tetapi sering kali diuji oleh konsistensi. Banyak yang datang dengan idealisme, tetapi tidak semuanya mampu bertahan ketika realitas tidak seindah bayangan. Di situlah letak pendidikan yang sesungguhnya—bukan pada teori yang dihafal, tetapi pada pengalaman yang membentuk kedewasaan.
Tanggal 2 Mei selalu membawa makna yang lebih dalam. Di satu sisi, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara, sebuah gagasan besar tentang memerdekakan manusia melalui pendidikan. Di sisi lain, tanggal ini juga menjadi penanda perjalanan panjang Pemuda Muhammadiyah yang kini memasuki usia ke-94. Dua momentum ini seolah saling menguatkan: bahwa pendidikan dan gerakan pemuda adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Dalam pengalaman berorganisasi, saya belajar bahwa pendidikan tidak selalu hadir dalam bentuk ruang kelas. Ia hadir dalam rapat-rapat panjang yang menguras energi, dalam perbedaan pendapat yang menuntut kedewasaan, dalam keterbatasan yang memaksa kita berpikir kreatif, bahkan dalam kekecewaan yang mengajarkan keikhlasan. Semua itu adalah bagian dari proses bertumbuh.
Namun bertumbuh saja tidak cukup. Tema “Bertumbuh dan Mengakar untuk Indonesia Jaya” terasa sangat relevan dengan kondisi hari ini. Banyak yang ingin tumbuh cepat, ingin terlihat, ingin diakui. Tetapi tidak semua mau bersusah payah untuk mengakar—memperkuat nilai, menjaga integritas, dan merawat komitmen.
Menariknya, perjalanan panjang organisasi ini juga telah melahirkan banyak tokoh yang hari ini memegang peranan penting di negeri ini—ada yang menjadi menteri, wakil menteri, maupun berada pada posisi strategis lainnya. Fakta ini bukan sekadar kebanggaan, tetapi sekaligus pengingat bahwa proses kaderisasi yang serius memang mampu melahirkan kepemimpinan. Namun pada saat yang sama, ia juga menjadi ujian: sejauh mana nilai-nilai yang ditanamkan tetap hidup ketika kekuasaan berada dalam genggaman.
Di era digital, tantangan itu semakin nyata. Komunikasi menjadi cepat, tetapi sering kehilangan kedalaman. Tidak sedikit yang lebih sibuk membangun citra daripada membangun kualitas. Bahkan dalam ruang organisasi, kita bisa melihat bagaimana gaya komunikasi yang reaktif dan instan perlahan menjadi kebiasaan. Kritik tidak lagi menjadi ruang belajar, tetapi sering berubah menjadi ajang pembenaran diri.
Jika ini terus dibiarkan, maka organisasi hanya akan menjadi tempat singgah, bukan tempat bertumbuh. Padahal, Pemuda Muhammadiyah memiliki sejarah panjang sebagai gerakan yang melahirkan kader-kader yang tidak hanya aktif, tetapi juga matang secara pemikiran dan sikap.
Dari pengalaman yang ada, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: bahwa menjadi kader bukan tentang seberapa lama kita berada di dalam organisasi, tetapi tentang seberapa dalam organisasi itu membentuk kita. Dan lebih dari itu, seberapa jauh kita mampu menjaga nilai-nilai yang telah diajarkan, bahkan ketika kita sudah tidak lagi berada dalam struktur.
Akhirnya, refleksi ini bukan untuk membandingkan masa lalu dan masa kini, tetapi untuk mengingatkan bahwa setiap generasi memiliki tantangannya sendiri. Yang diperlukan bukan nostalgia, tetapi kesadaran. Kesadaran bahwa organisasi ini adalah amanah, bahwa setiap kader adalah bagian dari sejarah, dan bahwa masa depan bangsa tidak bisa dilepaskan dari kualitas pemudanya.
Karena pada akhirnya, kita tidak hanya dituntut untuk bertumbuh, tetapi juga untuk tetap mengakar, agar setiap langkah yang kita ambil tidak hanya cepat, tetapi juga tepat arah.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni
