Muktamar ke-49: Silaturahmi, Konsolidasi, dan Harmoni dalam Keberagaman
Oleh : Jufri
Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah bukan sekadar agenda lima tahunan untuk memilih pimpinan dan merumuskan keputusan organisasi. Lebih dari itu, Muktamar merupakan momentum silaturahmi nasional, mempertemukan kader dari berbagai daerah, menyatukan gagasan, memperkuat konsolidasi, sekaligus meneguhkan kembali semangat perjuangan Persyarikatan.
Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah yang akan diselenggarakan di Sumatera Utara pada November 2027 mengusung tema “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.” Tema ini membawa pesan besar tentang cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun peradaban, serta menghadirkan Islam yang mencerahkan dan memberikan manfaat bagi seluruh alam.
Sumatera Utara tentu memiliki daya tarik tersendiri sebagai tuan rumah. Daerah ini bukan hanya dikenal karena kekayaan sumber daya alam dan budayanya, tetapi juga karena keberagaman masyarakat yang hidup di dalamnya.
Coba kita bayangkan posisi Sumatera Utara yang berbatasan dengan Sumatera Barat, Riau, dan Aceh. Dari kawasan pantai timur hingga pantai barat Aceh, terdapat berbagai hubungan sosial, budaya, ekonomi, dan sejarah yang terhubung dengan Sumatera Utara.
Belum lagi berbagai suku dan bangsa yang hidup berdampingan di daerah ini. Ada masyarakat Melayu, Batak dengan berbagai subkulturnya, Minangkabau, Jawa, Nias, Tionghoa, dan berbagai kelompok masyarakat lainnya. Masing-masing memiliki bahasa, adat istiadat, tradisi, serta keyakinan yang menjadi bagian dari kekayaan kehidupan Sumatera Utara.
Keberagaman tersebut bukan sekadar identitas yang bisa dibanggakan, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk merawatnya. Sebab, hidup dalam keberagaman membutuhkan komunikasi, saling pengertian, penghormatan terhadap keyakinan, serta kesediaan untuk membangun harmonisasi di tengah berbagai kepentingan dan kebutuhan masyarakat.
Di sinilah Sumatera Utara menjadi tempat yang relevan untuk menyelenggarakan Muktamar. Para peserta yang datang dari seluruh penjuru Indonesia akan menemukan ruang perjumpaan yang menggambarkan bagaimana perbedaan dapat hidup berdampingan dan menjadi kekuatan bersama.
Muktamar sebagai Ruang Silaturahmi dan Konsolidasi
Bagi Muhammadiyah, Muktamar harus menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan hati dan pikiran. Kader dari berbagai wilayah datang dengan pengalaman, tantangan, dan dinamika organisasi yang tidak selalu sama.
Ada daerah yang Muhammadiyahnya sudah berkembang dengan banyak perguruan tinggi, rumah sakit, sekolah, dan berbagai amal usaha. Namun, ada pula daerah yang masih menghadapi keterbatasan mubaligh, kader, anggota, bahkan amal usaha yang harus terus dihidupkan.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Daerah yang sudah berkembang dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan, sementara daerah yang masih memiliki keterbatasan perlu mendapatkan perhatian dan dukungan.
Jangan sampai kebesaran Muhammadiyah hanya diukur dari banyaknya gedung, besarnya amal usaha, atau luasnya jaringan organisasi. Kekuatan Persyarikatan juga terletak pada kehidupan jamaah, keberadaan ranting, kualitas kader, serta kemampuan menghadirkan dakwah yang menggembirakan, mencerahkan, dan membebaskan.
Muktamar juga bukan semata-mata tentang siapa yang terpilih menjadi pimpinan. Bukan pula tentang siapa yang mendapatkan posisi dan siapa yang harus memberikan kesempatan. Lebih penting dari itu adalah bagaimana menjaga kesinambungan perjuangan, merawat persaudaraan, dan memastikan keputusan Muktamar dapat dirasakan hingga tingkat ranting.
Perbedaan pandangan merupakan bagian dari dinamika organisasi. Namun, semangat kolektif-kolegial harus tetap menjadi pegangan. Jangan sampai perbedaan pilihan justru meninggalkan sekat dan mengurangi kekuatan persaudaraan sesama kader.
Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya
Tema Muktamar ke-49 ini juga mengandung pesan bahwa kecerdasan bangsa tidak cukup hanya diukur dari tingkat pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan. Kita membutuhkan kecerdasan sosial, kecerdasan komunikasi, dan kebijaksanaan dalam menghadapi perbedaan.
Muhammadiyah memiliki pengalaman panjang dalam membangun pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan dakwah. Semua itu merupakan kontribusi nyata bagi bangsa yang tidak dibatasi oleh perbedaan suku, golongan, maupun keyakinan penerima manfaatnya.
Islam berkemajuan harus terus hadir dengan sikap terbuka, mencerahkan, dan memberikan solusi bagi persoalan kemanusiaan. Teguh dalam prinsip, moderat dalam sikap, serta luas dalam pergaulan dan pengabdian.
Sumatera Utara dengan keberagamannya seolah memberikan pesan bahwa membangun bangsa membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan. Dibutuhkan kemampuan merawat perbedaan, menghargai keberagaman, dan membangun kolaborasi.
Pada akhirnya, Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah harus menjadi momentum mempertemukan hati, memperkaya pikiran, menguatkan barisan, dan memperluas pengabdian.
Kita berharap para peserta dan penggembira yang datang ke Sumatera Utara tidak hanya membawa pulang pengalaman mengikuti Muktamar, tetapi juga membawa pulang semangat persaudaraan, inspirasi, dan pengalaman tentang bagaimana keberagaman dapat menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Muhammadiyah tentu saja bukan hanya ingin menjadi organisasi yang besar, tetapi juga gerakan yang terus memberikan cahaya bagi umat, bangsa, dan semesta.
Muktamar bukan sekadar pertemuan lima tahunan. Ia adalah perjumpaan untuk memperkuat silaturahmi, konsolidasi, dan harmoni dalam keberagaman dari seluruh Indonesia bahkan penjuru dunia.
Silaturahmi, Kolaborasi, Sinergi, Harmoni.

