Menjadi Doktor Sebelum Doktor
Oleh : Jufri
Kamis, 13 Agustus 2026, merupakan hari yang bersejarah. Bukan hanya bagi Dr. Irwan Syahputra yang pagi itu resmi menyandang gelar Doktor, tetapi juga bagi kami yang hadir dan menyaksikan langsung promosi beliau.
Ada rasa haru, bangga sekaligus bahagia. Sebab yang berlangsung pagi itu bukan sekadar sebuah sidang akademik untuk mempertahankan disertasi. Ada banyak hal yang bisa direnungkan dari proses tersebut, terutama tentang ilmu, keteladanan, integritas dan bagaimana seorang manusia seharusnya bercermin kepada dirinya sendiri.
Promosi Doktor ke-766 Universitas Islam Negeri Sumatera Utara itu terasa semakin istimewa karena yang diuji adalah seorang intelektual sekaligus aktivis. Atau, meminjam istilah Prof. Azhari Akmal Tarigan , seorang aktivis yang intelektual dan intelektual yang aktivis.
Saya kira kalimat itu cukup menggambarkan sosok Ustadz Irwan Syahputra.
Ia bukan hanya seorang dosen yang bergelut dengan dunia akademik, tetapi juga seorang aktivis yang selama ini aktif dalam gerakan Muhammadiyah. Saat ini beliau dipercaya sebagai Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara.
Pagi itu, suasana sidang dipimpin oleh mereka yang dalam tradisi persidangan disebut “amat terpelajar”. Istilah tersebut merupakan bagian dari suasana dan tata penghormatan dalam sidang akademik, bukan sebutan yang diberikan oleh seseorang secara khusus. Mereka terdiri dari ketua dan sekretaris sidang, para penguji serta para promotor yang bersama-sama menjalankan tugas akademik untuk menguji Promovendus, Ustadz Irwan Syahputra.
Disertasi yang dipertahankan juga bukan tema yang ringan.
“Perilaku Munafik dalam Al-Qur’an: Analisis Tematik dan Implikasinya terhadap Pendidikan Karakter.”
Membaca judulnya saja kita sudah bisa membayangkan bahwa pembahasannya tidak sederhana. Apalagi kata munafik sering kali digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk memberikan label kepada seseorang.
Padahal dalam perspektif Al-Qur’an, persoalan munafik memiliki dimensi yang jauh lebih dalam.
Ustadz Irwan menjelaskan dengan sangat baik dan menarik tentang konsep munafik yang terdapat dalam Al-Qur’an sebagai pembahasan utama disertasinya. Ia menguraikan tema tersebut melalui analisis tematik dan kemudian menghubungkannya dengan persoalan pendidikan karakter.
Yang menarik, pembahasan itu tidak terasa seperti sedang menghakimi orang lain.
Justru semakin jauh pembahasan berjalan, semakin terasa bahwa tema kemunafikan sebenarnya mengajak kita untuk melihat ke dalam diri sendiri.
Barangkali di situlah menariknya sidang pagi itu.
Tema yang berat dibicarakan dengan suasana yang tetap cair.
Salah satu penguji eksternal, Prof. Akrim, Rektor UMSU, mengajukan pertanyaan yang sederhana tetapi sangat dekat dengan kehidupan pendidikan.
Bagaimana jika guru atau dosen mengajarkan kejujuran, tetapi dirinya sendiri tidak bisa jujur?
Ustadz Irwan menjawab bahwa guru adalah teladan dalam kehidupan. Seorang guru dituntut untuk senantiasa berusaha menyamakan antara perkataan dan perbuatan.
Prof. Azhari Akmal Tarigan kemudian mempertegas bahwa yang dimaksud guru tentu juga termasuk dosen.
Pertanyaan itu membuat kita berpikir sejenak.
Sebab memang tidak mudah mengajarkan nilai kepada orang lain jika nilai tersebut belum selesai kita perjuangkan dalam diri sendiri.
Tetapi bukan berarti seorang guru harus menunggu dirinya sempurna baru boleh mengajarkan kebaikan. Justru seorang pendidik harus terus belajar, terus memperbaiki diri dan berusaha agar apa yang disampaikan semakin dekat dengan apa yang dilakukan.
Mungkin di situlah letak beratnya menjadi seorang pendidik.
Bukan hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga berusaha menjadi contoh dari ilmu yang disampaikan.
Sidang kemudian berjalan semakin menarik.
Prof. Rusdi Ananda mengapresiasi pemaparan Ustadz Irwan dan penyajiannya yang menggunakan teknologi dengan baik. Tampilan PPT yang disampaikan bahkan disebut “good looking.”
Tetapi suasana menjadi lebih cair ketika Prof. Rusdi membuat akronim sederhana tentang kata munafik: “Muka Nabi, fikiran kotor.”
Ruangan pun dipenuhi tawa.
Kami yang hadir ikut tersenyum. Tetapi di balik kelucuan itu ada sesuatu yang tetap bisa direnungkan. Kadang-kadang humor justru membuat sebuah pembahasan yang berat menjadi lebih mudah dicerna.
Kemudian Dr. Junaidi Arsyad mengajukan pertanyaan yang juga membuat kami tersenyum.
Mengapa berani membahas tentang munafik? Apa tidak takut nanti disebut Doktor munafik?
Konsekuensinya memang berat, katanya.
Ustadz Irwan menjawab dengan tenang. Prasangka orang terhadap dirinya bukanlah perilakunya. Ia juga mengakui bahwa dirinya masih jauh dari sempurna. Karena itu, pembahasan tentang munafik justru diharapkannya menjadi introspeksi bagi dirinya sendiri.
Ia juga mengatakan bahwa segala kebaikan yang ada pada dirinya hanyalah karena karunia Allah SWT.
Saya kira jawaban itu sederhana, tetapi cukup dalam.
Kita memang tidak mungkin mengendalikan seluruh penilaian orang terhadap diri kita.
Yang bisa kita lakukan adalah terus memperbaiki diri dan menjaga agar apa yang dituduhkan orang kepada kita tidak menjadi kenyataan dalam perilaku kita.
Lalu Prof. Salamuddin membawa pembahasan ke wilayah yang lebih luas.
Bagaimana dengan sistem pendidikan kita? Apakah sistem pendidikan kita juga mengandung kemunafikan?
Jangan-jangan kita semua masuk neraka, termasuk di lingkungan Pascasarjana, jika tidak ada usaha untuk memperbaikinya, kira-kira demikian nada pertanyaannya.
Tentu saja pertanyaan itu disampaikan dalam suasana yang cair, tetapi substansinya serius.
Kemudian muncul pertanyaan yang menurut saya cukup menggelitik:
“Apakah mungkin lahir generasi shalih jika prosesnya thalih?”
Kita tersenyum mendengarnya, tetapi pertanyaan itu sesungguhnya menyentuh persoalan pendidikan yang sangat mendasar.
Dari sinilah diskusi pagi itu terasa semakin mengalir. Tidak hanya membicarakan konsep munafik dalam Al-Qur’an, tetapi juga menariknya ke dalam realitas pendidikan dan kehidupan sehari-hari.
Saking mengalirnya proses promosi tersebut, Prof. Azhari Akmal Tarigan sampai mengatakan:
“Inilah enaknya jika sudah Doktor sebelum Doktor.”
Sebuah ungkapan yang terdengar ringan, tetapi menarik.
Sebab memang ada orang yang kematangan berpikirnya tidak selalu menunggu gelar akademik. Gelar bisa diperoleh melalui proses pendidikan formal, tetapi kedalaman berpikir, pengalaman, keluasan wawasan dan kematangan sikap dibangun melalui perjalanan hidup yang panjang.
Di bagian akhir, Promotor Prof. Syamsu Nahar memberikan penjelasan yang juga penting.
Menurut beliau, tidak mudah menyebut seseorang sebagai munafik hanya karena melakukan satu atau dua kesalahan, misalnya berbohong atau berkhianat.
Sebab manusia bisa saja melakukan kesalahan.
Yang menjadi persoalan adalah ketika kebohongan, pengkhianatan dan ketidaksesuaian antara perkataan dengan perbuatan telah menjadi sesuatu yang biasa dan akhirnya menjadi karakter.
Penjelasan itu membuat kita kembali berhati-hati.
Ternyata berbicara tentang munafik bukan perkara mudah.
Kita tidak boleh terlalu cepat memberi label kepada seseorang hanya karena melihat satu peristiwa atau satu kesalahan.
Dan kemudian muncul satu istilah yang menurut saya sangat penting dari Prof. Syamsu Nahar:
kemunafikan intelektual.
Barangkali inilah salah satu persoalan yang perlu terus direnungkan dalam dunia akademik.
Sebab seseorang bisa saja memiliki banyak ilmu, banyak gelar dan banyak jabatan, tetapi tetap harus menjaga integritasnya.
Ilmu seharusnya membuat kita semakin jujur terhadap kebenaran, bukan semakin pandai mencari pembenaran.
Di penghujung sidang, Prof. Azhari Akmal Tarigan kembali menyebut Irwan sebagai aktivis intelektual dan intelektual yang aktivis.
Dan memang, Ustadz Irwan adalah seorang dosen sekaligus aktivis Muhammadiyah. Dunia akademik dan pengabdian berjalan beriringan dalam kehidupannya.
Ketika memberikan sambutan pertama sebagai seorang Doktor, suasana kembali menjadi haru.
Irwan menyampaikan penghormatan dan terima kasih kepada orang tua, istri dan anak-anak, para promotor dan penguji, ketua dan sekretaris sidang, serta sahabat-sahabat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara dan Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sumatera Utara, baik yang hadir maupun yang tidak dapat hadir.
Dengan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan bahwa pencapaian tersebut merupakan berkah dari Allah SWT.
Mungkin memang demikian seharusnya seseorang menerima sebuah pencapaian.
Tidak hanya dengan rasa bangga, tetapi juga dengan rasa syukur.
Sebab di balik sebuah gelar akademik selalu ada banyak tangan yang ikut mendorong dan banyak hati yang ikut mendoakan.
Ada orang tua.
Ada istri dan anak-anak.
Ada guru.
Ada promotor dan penguji.
Ada sahabat.
Dan tentu saja ada pertolongan Allah SWT.
Promotor lainnya, Dr. Zulheldi, juga mengungkapkan rasa berat sekaligus bangga menjadi promotor Ustadz Irwan Syahputra. Di antara harapannya adalah agar Irwan tetap rendah hati.
Nasihat yang sederhana, tetapi mungkin justru paling penting setelah seseorang memperoleh gelar.
Sebab semakin tinggi seseorang menuntut ilmu, seharusnya semakin ia menyadari bahwa masih banyak hal yang belum diketahuinya.
Kamis pagi itu akhirnya berakhir dengan rasa haru dan bahagia.
Dr. Irwan Syahputra telah menyelesaikan satu tahapan penting dalam perjalanan akademiknya.
Tetapi bagi saya, yang paling menarik dari promosi Doktor itu bukan hanya gelar Dr. yang kini melekat di depan namanya.
Yang lebih menarik adalah pelajaran yang tertinggal setelah sidang selesai.
Bahwa ketika kita membicarakan kemunafikan, kita sebenarnya sedang diajak untuk bercermin.
Tidak perlu buru-buru mencari siapa yang munafik.
Tidak perlu menunjuk orang lain.
Sebab mungkin pertanyaan yang lebih baik adalah:
Bagaimana dengan diri saya sendiri?
Dan ketika kita berbicara tentang pendidikan karakter, mungkin pertanyaan berikutnya juga sederhana:
Apakah apa yang saya katakan sudah cukup dekat dengan apa yang saya lakukan?
Barangkali itulah pelajaran kecil yang saya bawa pulang dari sebuah sidang promosi Doktor yang berlangsung khidmat, serius, tetapi sekaligus penuh keakraban dan sesekali diselingi tawa.
Selamat kepada Dr. Irwan Syahputra.
Semoga gelar Doktor menjadi berkah dan bukan sekadar tambahan gelar di depan nama.
Semoga ilmu semakin membuatnya rendah hati, semakin kuat dalam pengabdian dan semakin bermanfaat bagi umat, persyarikatan, bangsa dan kemanusiaan.
Sebab pada akhirnya, gelar menunjukkan pencapaian akademik, tetapi sikap dan pengabdianlah yang menunjukkan siapa kita sebenarnya.
Dan mungkin benar apa yang disampaikan Prof. Azhari Akmal Tarigan pagi itu:
“Sudah Doktor sebelum Doktor.”
Sebuah kalimat yang sederhana, tetapi cukup indah untuk menutup catatan tentang seorang intelektual yang hari itu resmi menjadi Doktor.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

