Air Mata Tanwir, Monumen Peradaban Muhammadiyah
Oleh: Jufri
Dalam suatu kesempatan, saya sampai menahan air mata karena begitu terharu mendengarkan penuturan dr. Agus Taufiqurrahman, M.Kes., dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Beliau berkisah tentang bagaimana para tokoh Muhammadiyah pada masa lalu mampu merawat persaudaraan, bahkan ketika dihadapkan pada perbedaan pandangan yang sangat tajam. Mereka mengajarkan bahwa amanah organisasi harus dijalankan dengan penuh keikhlasan, sementara perbedaan cara dan strategi tidak boleh mengalahkan tujuan bersama. Pikiran, tenaga, dan pengabdian mereka sepenuhnya diarahkan untuk kemajuan Muhammadiyah, Aisyiyah, serta kejayaan bangsa Indonesia. Di hadapan kisah-kisah seperti itulah saya menyadari bahwa kebesaran seseorang bukan terletak pada kemampuannya memenangkan perdebatan, melainkan pada kelapangan hati untuk menjaga persaudaraan.
Dr. Agus Taufiqurrahman kemudian menyampaikan sebuah pesan yang sangat mendalam. Menurut beliau, perbedaan di Muhammadiyah bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Perbedaan justru merupakan bagian dari dinamika organisasi yang sehat. Yang terpenting adalah bagaimana setiap perbedaan diselesaikan dengan saling memahami, saling menghormati, dan saling memaafkan. Perselisihan tidak boleh keluar dari rumah besar Muhammadiyah sehingga menjadi bahan yang melemahkan persyarikatan. Apa yang menjadi persoalan di dalam, harus diselesaikan dengan musyawarah di dalam, karena yang ingin dijaga bukan hanya nama baik organisasi, tetapi juga ukhuwah yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
Beliau kemudian mengisahkan sebuah peristiwa yang terjadi pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, dua tokoh besar Muhammadiyah mengambil jalan yang berbeda dalam menyikapi pemerintah.
Buya Hamka memilih menyampaikan kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang menurut beliau perlu diluruskan. Di sisi lain, Farid Ma’ruf memilih jalan komunikasi dan pendekatan yang lebih persuasif kepada pemerintah. Dua pendekatan yang berbeda, tetapi lahir dari niat yang sama, yaitu menjaga kepentingan umat, bangsa, dan Muhammadiyah.
Perbedaan itu kemudian dimanfaatkan oleh pihak luar. Presiden Soekarno bahkan menulis di sebuah surat kabar bahwa Muhammadiyah telah terpecah. Narasi tersebut tentu berpotensi melemahkan persyarikatan apabila tidak segera dijawab dengan kebijaksanaan.
Muhammadiyah kemudian menggelar Tanwir di Yogyakarta yang dihadiri pimpinan Muhammadiyah dari seluruh Indonesia. Forum itu menjadi ruang musyawarah sekaligus rekonsiliasi.
Buya Hamka mendapat kesempatan pertama untuk berpidato. Setelah mengucapkan salam, beliau memohon maaf apabila sikap dan langkahnya selama ini ada yang menyinggung perasaan pimpinan Muhammadiyah lainnya. Dengan penuh ketulusan beliau mengatakan bahwa semua yang dilakukannya semata-mata karena cintanya kepada Muhammadiyah.
Setelah itu Prof. Farid Ma’ruf juga berdiri di mimbar. Beliau menyampaikan bahwa jalan yang ditempuhnya selama ini juga didorong oleh kecintaan yang sama kepada Muhammadiyah. Beliau pun memohon maaf apabila ada sikap yang kurang berkenan.
Lalu terjadilah sebuah pemandangan yang sangat mengharukan. Prof. Farid Ma’ruf menghampiri Buya Hamka. Keduanya saling berpelukan erat. Air mata mengalir di pipi kedua tokoh besar itu. Suasana Tanwir menjadi hening. Banyak peserta yang ikut larut dalam haru. Tidak ada lagi kubu-kubu. Tidak ada lagi ego pribadi. Yang ada hanyalah persaudaraan yang kembali dipererat oleh keikhlasan.
Peristiwa itu mengajarkan bahwa orang-orang besar tidak diukur dari seberapa keras mereka mempertahankan pendapatnya, tetapi dari seberapa besar mereka mampu menjaga persaudaraan. Mereka boleh berbeda cara, tetapi tidak pernah berbeda tujuan. Mereka boleh berbeda strategi, tetapi cinta mereka kepada Muhammadiyah tetap satu.
Pelajaran ini terasa semakin relevan pada zaman sekarang. Ketika media sosial sering menjadi ruang mempertontonkan konflik dan memperbesar perbedaan, Muhammadiyah justru mewariskan budaya tabayun, musyawarah, dan saling memaafkan. Kritik disampaikan dengan adab, perbedaan dikelola dengan hikmah, dan keputusan diterima dengan lapang dada.
Di penghujung penyampaian materinya, Dr. Agus Fathur Rahman juga menyampaikan harapan yang begitu indah menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara. Beliau berharap muktamar tersebut tidak sekadar menjadi agenda lima tahunan untuk memilih pimpinan dan menyusun program kerja, tetapi menjadi monumen peradaban yang menghadirkan kesejukan bagi seluruh warga Muhammadiyah, Aisyiyah, dan bangsa Indonesia. Kesejukan yang lahir dari ukhuwah, kelapangan hati menerima perbedaan, kedewasaan dalam bermusyawarah, serta semangat berlomba-lomba dalam amal saleh. Sebab, peradaban besar tidak dibangun oleh orang-orang yang selalu sepakat, melainkan oleh mereka yang mampu menjaga persatuan di tengah perbedaan dan menjadikan keikhlasan sebagai fondasi perjuangan.
Saya pulang membawa satu pelajaran yang sangat berharga dari kisah yang disampaikan Dr. Agus Fathur Rahman. Ternyata, kekuatan Muhammadiyah selama lebih dari satu abad bukan karena tidak pernah mengalami perbedaan, melainkan karena para pemimpinnya mampu menjadikan perbedaan sebagai jalan menuju kedewasaan. Mereka mengajarkan bahwa amanah lebih besar daripada ambisi, persaudaraan lebih tinggi daripada perdebatan, dan cinta kepada Muhammadiyah selalu diwujudkan dengan menjaga persatuan.
Semoga Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara benar-benar menjadi momentum lahirnya kesejukan itu. Bukan hanya meninggalkan gedung-gedung megah atau catatan administrasi organisasi, tetapi meninggalkan teladan akhlak, budaya musyawarah, dan persaudaraan yang akan dikenang oleh generasi mendatang. Monumen yang paling kokoh bukanlah bangunan dari beton dan baja, melainkan hati-hati para kader yang dipersatukan oleh keikhlasan, dipererat oleh ukhuwah, dan digerakkan oleh cita-cita menghadirkan Islam Berkemajuan untuk mencerahkan umat, memajukan bangsa, dan menjadi rahmat bagi semesta.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

