• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Salat Ashar Perdana Tandai Babak Baru Masjid Batak Dalihan Na Tolu Sulawesi Selatan di Maros

Salat Ashar Perdana Tandai Babak Baru Masjid Batak Dalihan Na Tolu Sulawesi Selatan di Maros

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
7 Juni 2026
in Opini
0
Salat Ashar Perdana Tandai Babak Baru Masjid Batak Dalihan Na Tolu Sulawesi Selatan di Maros
Oleh : Haidir Fitra Siagian
Tulisan ini saya adaptasi dari status sahabat saya, Nasuha Gultom, Sekretaris Panitia Pembangunan Masjid Batak Dalihan Na Tolu, yang diposting di media sosial. Ia menulis bahwa untuk pertama kalinya Masjid Batak Dalihan Na Tolu digunakan untuk salat berjamaah. Kalimat sederhana itu mungkin terlihat biasa, tetapi bagi kami yang mengikuti proses pembangunannya sejak awal, peristiwa tersebut memiliki makna yang sangat mendalam.
Jumat sore, 5 Juni 2026, saya bersama beberapa sahabat berkumpul secara sederhana di lokasi masjid yang berada di Dusun Mangempang, Desa Moncongloe Lappara, Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Selama proses pembangunan berlangsung, saya cukup sering berkunjung ke lokasi, baik sendiri maupun bersama teman-teman.
Biasanya, ketika datang ke sana, saya membawa makanan ringan atau gorengan untuk para tukang yang sedang bekerja. Nilainya memang tidak besar, tetapi saya selalu melihat kebahagiaan di wajah mereka ketika menikmatinya bersama secangkir kopi. Di tengah pekerjaan yang berat dan cuaca yang panas, kebersamaan sederhana seperti itu menjadi bagian dari perjalanan pembangunan masjid ini.
Namun, suasana pertemuan kali ini berbeda. Tidak ada lagi suara tukang bekerja karena pemasangan atap telah selesai. Kami berkumpul untuk membicarakan kelanjutan pembangunan sekaligus mensyukuri satu hal penting: sejak peletakan batu pertama oleh Bupati Maros, H. Chaidir Syam, sekitar setahun yang lalu, pembangunan masjid ini tidak pernah benar-benar berhenti. Meskipun berjalan perlahan karena keterbatasan dana, prosesnya terus bergerak maju.
Masjid ini lahir dari sebuah gagasan yang sangat sederhana. Ide awalnya muncul dari percakapan ringan beberapa kali warga Batak Muslim di sebuah bengkel knalpot di Makassar. Dari obrolan tersebut, muncul keinginan untuk menghadirkan sebuah masjid yang dapat menjadi simbol kebersamaan dan identitas warga Batak Muslim di Sulawesi Selatan. Gagasan itu kemudian dibahas dalam forum yang lebih resmi hingga akhirnya disepakati pembentukan panitia pembangunan. Pada September 2024, saya dipercaya untuk mengemban amanah sebagai ketua panitia.
Sejak saat itu, dukungan mulai berdatangan. Ada warga yang menawarkan bantuan dana, ada yang mewakafkan tenaga, dan ada pula yang membantu mencarikan lokasi pembangunan. Salah satu warga Batak bermarga Siregar yang beristrikan orang Soppeng, bahkan berniat mewakafkan tanahnya untuk pembangunan masjid. Dalam perkembangannya, dukungan tersebut diwujudkan dalam bentuk bantuan dana. Tidak lama kemudian, seorang warga Batak lainnya juga bermarga Siregar, menawarkan sebidang tanah di kawasan Moncongloe yang akhirnya menjadi lokasi pembangunan masjid saat ini.
Pembangunan Masjid Batak Dalihan Na Tolu pada dasarnya merupakan hasil gotong royong. Sebagian besar dana yang digunakan berasal dari usaha mandiri panitia dan dukungan masyarakat. Kami menghubungi banyak pihak, mulai dari masyarakat umum, pengusaha, pemerintah daerah, BUMN, alumni Unhas, alumni UIN Alauddin, pengurus Muhammadiyah, warga NU, lembaga sosial, hingga para dermawan. Namun harus diakui bahwa kekuatan utama pembangunan ini berasal dari swadaya warga Batak Muslim yang tersebar di berbagai daerah. Ada yang menyumbang dalam jumlah besar, ada pula yang memberi sesuai kemampuan. Semuanya memiliki nilai yang sama karena didasari oleh keikhlasan.
Pada awal pembangunan, kami berharap masjid ini dapat selesai dalam waktu sekitar enam bulan. Namun kenyataannya, keterbatasan dana membuat proses pembangunan membutuhkan waktu lebih panjang. Kini, setelah hampir satu tahun berjalan, progres pembangunan diperkirakan telah mencapai sekitar   75 persen. Untuk sebuah masjid yang dibangun hampir sepenuhnya dari semangat gotong royong masyarakat dan bermodalkan nol Rupiah, capaian tersebut merupakan hal yang patut disyukuri.
Di tengah proses yang masih berlangsung itulah Allah SWT memberikan kebahagiaan yang istimewa. Untuk pertama kalinya kami melaksanakan salat berjamaah di dalam bangunan utama masjid. Sebelumnya, setiap kali berkumpul di lokasi pembangunan, kami biasanya salat di gazebo yang berada di sekitar area masjid. Namun kali ini kami sepakat melaksanakan Salat Ashar berjamaah di dalam ruang utama masjid sebagai penanda dimulainya fungsi utama bangunan tersebut sebagai rumah ibadah.
Kondisi masjid saat itu sebenarnya masih sangat sederhana. Lantainya masih berupa tanah, dindingnya belum diplester, listrik belum terpasang, dan fasilitas wudhu serta kamar mandi masih dalam tahap pengerjaan. Bahkan kami harus menggunakan tripleks bekas sebagai alas untuk bersujud. Namun justru dalam kesederhanaan itulah tersimpan kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Salat perdana tersebut bukan sekadar pelaksanaan ibadah berjamaah. Ia menjadi simbol bahwa cita-cita yang dahulu hanya berupa percakapan sederhana kini perlahan berubah menjadi kenyataan. Ia juga menjadi bukti bahwa kebersamaan, kerja keras, dan keikhlasan dapat melahirkan sesuatu yang besar dan bermanfaat bagi umat.
Pada kesempatan ini, kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi. Terima kasih kepada panitia pembangunan, masyarakat Batak Muslim, Pemerintah Kabupaten Maros, Bulog Peduli, Kalla Group, para tokoh masyarakat, para sahabat, dan seluruh donatur yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Setiap bantuan yang diberikan telah menjadi bagian penting dari sejarah berdirinya masjid ini.
Meskipun demikian, perjalanan belum selesai. Masih banyak pekerjaan yang harus dituntaskan agar masjid ini dapat berfungsi secara optimal dan nyaman bagi jamaah. Karena itu, salat perdana ini hendaknya tidak dipandang sebagai akhir dari perjuangan, melainkan sebagai awal dari semangat baru untuk menyelesaikan pembangunan hingga tuntas.
Kami berharap seluruh elemen masyarakat terus menjaga semangat gotong royong yang telah mengantarkan pembangunan masjid ini hingga tahap sekarang. Dengan kebersamaan, ketulusan, dan pertolongan Allah SWT, kami optimistis Masjid Batak Dalihan Na Tolu akan segera berdiri sempurna.
Lebih dari sekadar bangunan fisik, masjid ini diharapkan menjadi simbol persatuan dan persaudaraan, menjadi pusat ibadah, dakwah, pendidikan, dan kegiatan sosial yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Semoga Allah SWT menerima setiap amal, pengorbanan, dan niat baik yang telah dicurahkan dalam pembangunan masjid ini. Dan semoga suatu hari nanti, kita dapat mengenang Salat Ashar sederhana di atas lantai tanah dan tripleks bekas itu sebagai salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan Masjid Batak Dalihan Na Tolu.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Samata Gowa, 06 Juni 2026

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: maros sulawesi selatanmasjid dalihan natolu
Previous Post

PLN lakukan perbaikan 12 tower transmisi akibat cuaca ekstrem di Sumut

Next Post

Tauhid Harus Melahirkan Kesalehan Individual, Sosial, dan Publik

Next Post
Tauhid Harus Melahirkan Kesalehan Individual, Sosial, dan Publik

Tauhid Harus Melahirkan Kesalehan Individual, Sosial, dan Publik

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.