Indonesia untuk Dunia: Ketika Pancasila dan Muhammadiyah Bertemu dalam Cita-Cita Peradaban
Oleh : Jufri
Luar biasa sekali tema Hari Lahir Pancasila tahun 2026 ini: “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.” Sebuah tema yang indah, besar, dan penuh harapan. Bayangkan betapa mulianya cita-cita yang terkandung di dalamnya. Bangsa Indonesia bukan hanya ingin menjadikan Pancasila sebagai identitas pemersatu di dalam negeri, tetapi juga sebagai inspirasi bagi terciptanya perdamaian dunia.
Jika seluruh bangsa di dunia melandaskan kehidupan bersama pada nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan berujung pada keadilan sosial, tentu dunia akan menjadi tempat yang lebih damai dan lebih sejahtera. Tidak ada lagi perang yang didorong keserakahan, tidak ada lagi penjajahan dalam bentuk apa pun, dan tidak ada lagi eksploitasi manusia atas manusia. Sebuah cita-cita yang sangat luhur.
Namun ketika membaca tema itu, pikiran saya justru melompat pada tema Muktamar Muhammadiyah ke-49, “Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya.” Entah mengapa ada nuansa yang terasa akrab. Keduanya seperti lahir dari semangat yang sama. Sama-sama berbicara tentang Indonesia yang tidak hanya sibuk mengurus dirinya sendiri, tetapi juga ingin memberi manfaat yang lebih luas bagi kemanusiaan dan peradaban dunia.
Tentu saja Pancasila dan Muhammadiyah berada pada ruang yang berbeda. Yang satu adalah dasar negara, yang lain adalah gerakan Islam. Yang satu bekerja melalui instrumen pemerintahan, yang lain bergerak melalui dakwah, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Namun jika diperhatikan lebih dalam, keduanya bertemu pada sebuah cita-cita yang sama: menghadirkan Indonesia yang maju, berkeadaban, dan mampu memberi inspirasi bagi dunia.
Karena itu saya melihat bahwa baik para pemimpin Indonesia maupun pimpinan Muhammadiyah sesungguhnya memikul tanggung jawab yang sama. Mereka memiliki kewajiban nasional sekaligus global untuk menjadikan Indonesia sebagai model peradaban dunia.
Negara bekerja melalui kebijakan dan tata kelola pemerintahan. Muhammadiyah bekerja melalui pendidikan, kesehatan, dakwah, dan pelayanan sosial. Tetapi keduanya sedang mengerjakan pekerjaan yang sama: membuktikan bahwa Indonesia mampu menghadirkan kehidupan yang adil, cerdas, damai, dan berkeadaban.
Pancasila bukan hanya soal peringatan atau upacara yang sifatnya seremonial. Sebab Pancasila tidak diciptakan untuk dibacakan setahun sekali, melainkan untuk dihidupkan setiap hari. Ia tidak cukup dipasang di dinding kantor atau dihafalkan dalam pidato-pidato resmi. Pancasila baru memiliki makna ketika hadir dalam kejujuran seorang pejabat, keadilan seorang hakim, kebijaksanaan seorang pemimpin, dan kepedulian masyarakat terhadap sesamanya. Jika hanya berhenti pada seremoni, maka Pancasila akan menjadi teks. Tetapi jika diwujudkan dalam kehidupan, ia akan menjadi kekuatan yang mengubah bangsa.
Sayangnya, cita-cita besar sering kali berhadapan dengan kenyataan yang tidak sederhana.
Bagaimana mungkin kita berbicara tentang fondasi perdamaian dunia jika korupsi masih menjadi berita sehari-hari? Bagaimana mungkin kita berbicara tentang keadilan sosial jika kesenjangan ekonomi masih terasa di banyak tempat? Bagaimana mungkin kita mengajarkan persatuan jika politik identitas masih kerap digunakan untuk memecah belah masyarakat demi keuntungan sesaat?
Dunia tidak akan percaya pada slogan. Dunia hanya percaya pada teladan.
Karena itu, jalan menuju perdamaian dunia sesungguhnya dimulai dari kantor-kantor pemerintahan yang bersih, lembaga hukum yang adil, pemimpin yang jujur, dan rakyat yang merasakan kesejahteraan. Perdamaian dunia dimulai dari keberhasilan Indonesia menghadirkan keadilan di dalam negerinya sendiri.
Kalau sekadar membuat tema, tentu tidaklah sulit. Dalam beberapa menit saja, kita bisa menghasilkan puluhan slogan yang terdengar megah dan membangkitkan semangat. Yang sulit adalah memastikan bahwa tema itu tidak berhenti sebagai hiasan spanduk, pidato seremonial, atau unggahan media sosial setiap tanggal 1 Juni.
Karena sesungguhnya sejarah tidak pernah menilai sebuah bangsa dari keindahan kata-katanya. Sejarah selalu menilai bangsa dari keberhasilannya mengubah kata-kata menjadi kenyataan.
Dunia tidak akan datang belajar kepada Indonesia karena kita memiliki tema yang hebat. Dunia akan datang belajar ketika Indonesia berhasil menunjukkan bahwa keberagaman dapat hidup berdampingan secara damai. Dunia akan memperhatikan ketika hukum ditegakkan tanpa pandang bulu. Dunia akan menghormati ketika kesejahteraan dirasakan oleh rakyat banyak, bukan hanya oleh segelintir orang.
Peradaban tidak dibangun oleh pidato. Peradaban dibangun oleh keteladanan.
Karena itu saya tidak pernah mempersoalkan tema-tema besar seperti “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia” ataupun “Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya.” Justru saya bersyukur bangsa ini masih memiliki keberanian untuk bermimpi besar. Sebab bangsa yang kehilangan mimpi besar biasanya akan terjebak dalam urusan-urusan kecil dan lupa pada masa depannya.
Yang harus terus kita jaga adalah keberanian untuk bercermin.
Sebelum menjadi fondasi perdamaian dunia, Indonesia harus menjadi rumah yang damai bagi rakyatnya sendiri. Sebelum menjadi cahaya bagi semesta, kita harus memastikan cahaya itu benar-benar menerangi kehidupan masyarakat di desa-desa, di pasar-pasar, di sekolah-sekolah, di kampus-kampus, di rumah sakit, dan di seluruh ruang kehidupan bangsa.
Pancasila harus hidup dalam kebijakan. Agama harus hidup dalam akhlak. Pendidikan harus hidup dalam kecerdasan. Dan kekuasaan harus hidup dalam pengabdian.
Jika itu berhasil dilakukan, maka Indonesia tidak perlu sibuk mengumumkan dirinya sebagai model peradaban dunia. Dunia akan melihatnya sendiri.
Sebab sejarah tidak pernah mengingat bangsa karena slogan yang dibuatnya. Sejarah mengingat bangsa karena apa yang berhasil diwujudkannya.
Dan jika suatu hari Indonesia benar-benar bersih dari korupsi, rakyatnya sejahtera, hukumnya tegak, demokrasinya matang, Konstitusi nya dihormatu , bukan dipereteli untuk kepentingan seseorang dan kebutuhan sesaat , serta keadilan sosial dirasakan oleh seluruh warga negara, maka pada saat itulah Pancasila tidak lagi sekadar tema tahunan, dan cita-cita “Semesta Bercahaya” tidak lagi hanya menjadi slogan muktamar.
Keduanya akan menjelma menjadi kenyataan: Indonesia hadir sebagai pemersatu bangsanya sendiri dan sekaligus menjadi salah satu cahaya peradaban bagi dunia.
Selamat Hari Lahir Pancasila. Semoga yang kita rayakan bukan hanya bunyi sila-silanya, tetapi keberanian untuk menghidupkannya dalam tindakan. Sebab Indonesia yang dicita-citakan para pendiri bangsa bukan hanya untuk dikenang, melainkan untuk diwujudkan.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni
