Carlo Alfonso Nallino (w. 1938 M) : Orientalis Italia Pengkaji Sejarah Astronomi Peradaban Islam dan Pentahkik “Zij al-Battani”
Oleh : Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar – Dosen FAI UMSU dan Kepala OIF UMSU
Carlo Alfonso Nallino adalah orientalis, filolog, sejarawan sains, dan pakar bahasa Arab asal Italia yang punya kontribusi besar terhadap kajian manuskrip, khususnya dalam bidang astronomi Arab klasik. Di kalangan akademisi Timur dan Barat, Nallino dikenal sebagai salah satu sarjana Eropa yang memiliki kemampuan tinggi dalam membaca, mengedit dan menganalisis naskah-naskah Arab secara kritis. Karya dan pemikirannya tidak hanya berpengaruh dalam dunia orientalisme, tetapi berperan penting dalam membuka kembali warisan intelektual Islam kepada dunia modern.

Carlo Alfonso Nallino (w. 1938 M)
Nallino lahir di Turin, Italia, pada 18 Februari 1872 M. Sejak muda dia sudah menunjukkan minat dan ketertarikan besar terhadap bahasa, sastra, dan peradaban Timur (Arab). Ia menempuh pendidikan di Universitas Turin, Italia, di bawah bimbingan Italo Pizzi, seorang pakar bahasa Persia dan studi Timur yang sangat berpengaruh di masa itu. Di bawah arahan gurunya ini Nallino mulai mendalami bahasa Arab, Persia, sejarah Islam, dan manuskrip Arab.
Keunggulan Nallino tampak dari kemampuannya membaca manuskrip Arab kuno yang sulit diakses oleh banyak sarjana lain waktu itu. Kemampuan filologisnya menjadikannya cepat dikenal dalam dunia literatur dan orientalisme. Nallino tercatat pernah mengajar di Naples dan Palermo. Pada awal abad ke-20 M, ia pernah diundang ke Mesir untuk mengajar di “Universitas Fuad Awal” (Sekarang Universitas Cairo). Dia mengajar sejarah sastra Arab dan sejarah astronomi Arab. Salah satu murid terkenalnya adalah Taha Husein. Adapun materi-materi sejarah astronomi yang ia sampaikan sangat mendalam dan informatif yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul “’Ilm al-Falak Tarikhuhu ‘Inda al-‘Arab fi al-Qurun al-Wustha” (Ilmu Falak Sejarahnya di Kalangan Arab Abad Pertengahan). Buku ini waktu itu, bahkan hingga kini, menjadi salah satu referensi penting dalam kajian sejarah astronomi Arab-Islam. Buku dapat diakses disini : https://archive.org/details/GEO4u15/page/n1/mode/2up.

Buku “’Ilm al-Falak Tarikhuhu ‘Inda al-‘Arab fi al-Qurun al-Wustha” karya Carlo Alfonso Nallino (w. 1938 M)
Secara umum, buku “’Ilm al-Falak Tarikhuhu ‘Inda al-‘Arab fi al-Qurun al-Wustha” ini membahas perkembangan ilmu falak di kalangan Arab-Islam sejak masa awal penerjemahan sains Yunani hingga perkembangan astronomi pada era kejayaan Islam. Nallino menunjukkan bahwa ilmuwan Muslim bukan sekadar penerjemah warisan Yunani, tetapi juga melakukan kritik, revisi, dan inovasi terhadap teori astronomi sebelumnya. Nallino juga menjelaskan bagaimana karya-karya astronomi dari Yunani, India, dan Persia diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada masa Al-Ma’mun. Pada fase ini muncul pusat-pusat penerjemahan dan observasi astronomi di Baghdad. Lalu perkembangan observatorium dan penyusunan tabel astronomi (zij) yang digunakan untuk menghitung posisi Matahari, Bulan, dan planet. Tokoh-tokoh seperti Al-Battani, Al-Biruni, dan Ibn Yunus mendapat perhatian besar dalam buku ini. Nallino juga menunjukkan bagaimana astronom Muslim mulai mengkritik model geosentris Ptolemeus dan mengembangkan model matematika yang lebih akurat.
Tak ayal buku ini sangat penting karena menggunakan pendekatan filologis dan historis. Nallino meneliti manuskrip-manuskrip Arab asli, membandingkan berbagai versi naskah, lalu merekonstruksi perkembangan ilmu falak secara sistematis. Karena itu, buku ini bukan hanya sejarah umum, tetapi juga kajian akademik berbasis literatur (manuskrip).
Setelah kembali ke Italia, Nallino menjadi profesor di Universitas Roma dan ikut mendirikan sebuah lembaga kajian Timur yaitu “Istituto per l’Oriente” atau “Istituto per l’Oriente Carlo Alfonso Nallino” atau sering disingkat IPOCAN, yaitu sebuah lembaga riset orientalisme dan studi dunia Arab-Islam tertua di Italia. Lembaga ini didirikan pada 13 Maret 1921 M oleh sejumlah diplomat, akademisi, dan pakar studi Timur, termasuk Carlo Nallino. Nama lembaga ini awalnya hanya “Istituto per l’Oriente”, kemudian pada tahun 1982 M nama Nallino ditambahkan sebagai penghormatan atas kontribusinya sebagai pendiri dan direktur lembaga tersebut.
Lembaga ini memiliki posisi penting karena fokus penelitiannya mencakup studi bahasa Arab dan filologi manuskrip Islam, sejarah peradaban Islam secara umum, kajian Timur Tengah modern dan klasik, katalogisasi manuskrip Arab, Persia, Turki, dan Islam, lalu sejarah sains Arab-Islam, termasuk astronomi. Nallino sendiri menjadikan lembaga ini sebagai pusat penelitian manuskrip Arab di Eropa. Dalam praktiknya waktu itu ada banyak kajian filologi, edisi kritis (tahqiq), dan publikasi akademik tentang astronomi Islam lahir dari lembaga ini.
Carlo Nallino wafat di Roma pada 25 Juli 1938 M. Kontribusi Nallino secara garis besar berada dalam tiga bidang yaitu filologi Arab, sejarah astronomi Islam, dan kajian sastra Arab. Dalam bidang astronomi, Nallino termasuk pelopor yang memunculkan bahwa ilmuwan Muslim tidak hanya menerjemahkan ilmu Yunani, tetapi juga mengembangkan teori-teori astronomi secara mandiri dan presisi. Selain itu, ia juga memberikan kontribusi dalam studi bahasa Arab modern, dialek Arab Mesir, serta sejarah sastra Arab. Pendekatannya dikenal kritis, historis, dan berbasis literatur (manuskrip).
Salah satu kontribusi terbesar Nallino dalam dunia filologi dan astronomi adalah tahqiqnya atas manuskrip karya astronom Muslim Jabir al-Battani (w. 317 H/929 M) yaitu “az-Zaij al-Battany” (Zij al-Battani) atau “Al-Battānī sive Albatenii Opus Astronomicum” (dapat diakses disini: https://archive.org/details/albattanisivealb00batt/page/120/mode/2up). Karya tahqiqnya ini diterbitkan dalam 3 jilid antara tahun 1899 M-1907 M. Dalam proses penyuntingannya, Nallino membandingkan berbagai salinan manuskrip, menelaah variasi teks, mengoreksi kesalahan penyalin, dan memberikan komentar ilmiah. Dalam perkembangannya karya ini menjadi standar akademik dalam studi manuskrip astronomi Arab hingga hari ini.

Edisi tahqiq kitab “az-Zaij al-Battany” yang diedit (tahqiq) oleh Carlo Alfonso Nallino (w. 1938 M) dengan judul “Al-Battānī sive Albatenii Opus astronomicum”.
Zij al-Battani sendiri adalah karya astronomi monumental dari Al-Battani yang disusun sekitar akhir abad ke-9 M hingga awal abad ke-10 M di Raqqah, Suriah. Karya ini menjadi salah satu tabel astronomi paling berpengaruh yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Latin. Karya ini berisi pembahasan teori astronomi, tabel matematika, dan petunjuk observasi, lalu perhitungan gerak Matahari dan Bulan, data posisi bintang, dan lain-lain. Data-data tersebut digunakan dalam navigasi, kalender, dan perhitungan waktu. Lalu tabel trigonometri dalam penggunaan sinus, tangen, dan kotangen dalam astronomi yang menggantikan metode chord Yunani. Lalu penggunaan instrumen astronomi seperti sundial (mizwala), kuadran, dan instrumen observasi langit lainnya.
Selain itu, Nallino juga menulis katalog manuskrip Arab, Persia, Suriah, dan Turki yang tersimpan di perpustakaan Turin. Katalog ini sangat penting dalam dunia filologi karena membantu para peneliti menemukan dan mengidentifikasi naskah-naskah yang sebelumnya belum terdokumentasi secara sistematis. Nallino juga banyak mengkaji manuskrip sejarah Arab, termasuk naskah-naskah Yaman dan literatur klasik Arab. Dalam semua karyanya, pendekatan Nallino selalu menekankan kritik teks, perbandingan manuskrip, dan rekonstruksi sejarah.
Demikian sekilas tentang Carlo Alfonso Nallino, salah satu orientalis dan filolog besar dalam sejarah. Melalui penelitian manuskrip, tahqiq teks, dan kajian sejarah astronomi yang ia lakukan, ia berhasil menunjukkan kekayaan tradisi intelektual Islam kepada dunia. Kontribusinya dalam mengedit manuskrip astronomi, khususnya karya Al-Battani, menjadikannya sarjana sentral dalam sejarah filologi Arab dan sejarah astronomi Islam secara umum. Warisan intelektualnya terus dikaji dan menjadi rujukan penting bagi para peneliti manuskrip, sejarah sains, dan studi astronomi Islam hingga hari ini. Wallahu a’lam[]
Referensi :
- Najib al-‘Aqiqy, Al-Mustasyriqun: Mawsu‘ah fi Turats al-‘Arab, ma‘a Tarajim al-Mustasyriqin wa Dirasatihim ‘Anhu Mundzu Alf ‘Am Hatta al-Yaum, j. 1, Cairo: Dar al-Ma’arif, 2006 M.
- Carlo Nallino, ‘Ilm al-Falak Tārīkhuhu ‘Inda al-‘Arab fī al-Qurūn al-Wusthā (Cairo: Maktabah ats-Tsaqāfah ad-Diniyyah, t.t.).

