Muhammadiyah Digoda, dan Partai Politik yang Menggoda
Oleh : Jufri
Dalam pusaran politik, selalu ada dua arus yang saling mendekat dengan cara yang tidak pernah benar-benar sederhana: organisasi masyarakat sipil yang memiliki basis massa kuat, dan partai politik yang membutuhkan legitimasi sosial. Di titik itulah Muhammadiyah sering “digoda”, bukan dalam arti yang dangkal, tetapi dalam konteks relasi kepentingan, nilai, dan pengaruh.
Muhammadiyah sejak awal menegaskan dirinya bukan organisasi politik praktis. Ia lahir sebagai gerakan dakwah, tajdid, dan pendidikan. Namun, dalam realitas kehidupan berbangsa, sulit membayangkan sebuah organisasi sebesar Muhammadiyah bisa steril sepenuhnya dari politik. Bukan karena ia ingin masuk ke dalamnya, tetapi karena politiklah yang kerap datang mengetuk pintu.
Godaan itu hadir dalam berbagai bentuk. Ada yang halus melalui pendekatan personal—tokoh-tokoh Muhammadiyah yang dianggap potensial diajak masuk dalam struktur kekuasaan. Ada pula yang lebih struktural—dukungan terhadap kebijakan, endorsement tersirat, hingga harapan agar basis warga Muhammadiyah bisa “diarahkan” secara politik. Di sinilah partai politik memainkan peran sebagai pihak yang menggoda, dengan segala kepentingan elektoralnya.
Namun persoalannya bukan sekadar siapa menggoda dan siapa digoda. Yang lebih penting adalah bagaimana Muhammadiyah merespons godaan itu. Sebab di satu sisi, keterlibatan kader dalam politik adalah keniscayaan. Banyak kader Muhammadiyah yang hari ini menjadi menteri, wakil menteri, anggota legislatif, hingga pejabat publik lainnya. Itu bagian dari kontribusi kebangsaan. Tetapi di sisi lain, ada garis etik yang tidak boleh dilampaui: Muhammadiyah sebagai institusi tidak boleh terseret menjadi alat kepentingan politik praktis.
Pasca kepemimpinan Amien Rais di Partai Amanat Nasional misalnya , peta kader Muhammadiyah dalam politik mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Kader-kader Muhammadiyah semakin menyebar ke berbagai partai politik, tidak lagi terkonsentrasi pada satu kanal politik tertentu. Meski demikian, kader-kader Muhammadiyah di PAN tetap terasa memiliki kedekatan emosional dan historis yang lebih kuat dengan Muhammadiyah. Sejarah relasi antara Muhammadiyah dan kelahiran PAN tidak serta-merta bisa dilupakan, walaupun dalam perkembangan terakhir hubungan itu mulai terasa lebih pragmatis, mengikuti dinamika politik yang berubah cepat.
Di sinilah letak kedewasaan organisasi diuji. Muhammadiyah bukan organisasi politik, tetapi ia adalah organisasi yang berkepentingan dan pasti bersentuhan dengan politik. Ia berkepentingan pada kebijakan publik, pada arah pembangunan bangsa, pada keadilan sosial, dan pada pendidikan yang mencerahkan. Maka sikapnya terhadap politik bukan menjauh, tetapi menjaga jarak yang sehat.
Partai politik, di sisi lain, seringkali melihat Muhammadiyah sebagai “ladang subur” yang menjanjikan. Basis warga yang terdidik, struktur organisasi yang rapi, serta citra moral yang kuat menjadi daya tarik tersendiri. Namun di sinilah tantangan bagi partai politik: apakah mereka datang dengan niat membangun kemitraan nilai, atau sekadar memanfaatkan momentum?
Masyarakat Muhammadiyah yang dikenal kritis—sebagai gambaran dari masyarakat berkemajuan—tidak mudah ditundukkan oleh narasi politik sesaat. Mereka cenderung menilai berdasarkan rasionalitas, bukan sekadar loyalitas. Karena itu, pendekatan politik yang transaksional justru seringkali tidak efektif, bahkan kontraproduktif.
Relasi antara Muhammadiyah dan partai politik harus diletakkan dalam kerangka yang jernih: bukan relasi kooptasi, tetapi relasi dialog. Bukan relasi kepentingan sempit, tetapi relasi kebangsaan. Muhammadiyah menjaga independensinya, sementara partai politik belajar menghormati kemandirian itu.
Godaan akan selalu ada. Dan mungkin, akan semakin kuat seiring meningkatnya peran Muhammadiyah dalam kehidupan publik. Tetapi sejarah panjang organisasi ini menunjukkan satu hal penting: ia tidak dibangun untuk menjadi alat kekuasaan, melainkan menjadi penyeimbangnya.
Di situlah kekuatan Muhammadiyah, ketika ia tidak larut dalam godaan, tetapi tetap hadir sebagai suara moral yang jernih di tengah riuhnya kepentingan politik.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

