PADANGSIDIMPUAN, INFOMU.CO – Pernikahan sejatinya bukanlah pencarian sosok yang sempurna, melainkan sebuah proses belajar untuk mencintai dengan cara yang sempurna. Di dalamnya, tidak ada tempat bagi ego tentang siapa yang paling benar, melainkan ruang untuk saling menenangkan saat ujian datang dan saling menguatkan dalam perjalanan hidup yang panjang.
Pesan mendalam tersebut disampaikan oleh Sekretaris PWM Sumut, Irwan Syahputra, MA, saat memberikan nasehat pernikahan pada prosesi akad nikah Sarah Madaniah, SE., M.Si (putri dari Ketua PDM Tapanuli Selatan, Dr. Lazuardi Harahap, M.Ag) dengan Aflaha Zuhri, ST.
Acara yang berlangsung khidmat di Gedung Auditorium Syekh Ali Hasan Ahmad Addary, Padangsidimpuan, pada Sabtu (28/3) ini turut disaksikan oleh tokoh-tokoh penting seperti Bendahara PWM Sumut Prof. Dr. H. Muhammad Qorib, MA, Prof. Ibrahim Gultom, M.Pd, serta Wakil Sekretaris PWM Sumut Drs. Mutholib, MM.
5 Pilar Kokoh Membangun Rumah Tangga Harmonis
Dalam nasehatnya, Irwan Syahputra menekankan bahwa kebahagiaan rumah tangga bukanlah sebuah kebetulan yang datang tiba-tiba, melainkan sebuah “bangunan” yang harus dirancang dan dirawat dengan sadar di atas lima pilar utama:
1. Cenderung pada Agama
Menjadikan nilai-nilai spiritual bukan sekadar formalitas ibadah, melainkan sebagai penunjuk arah dalam setiap pengambilan keputusan. Ketika pasangan menyandarkan urusan rumah tangga kepada Allah, maka setiap perselisihan akan kembali pada aturan-Nya, sehingga ego pribadi tidak lagi menjadi pemandu utama dalam menyelesaikan masalah.
2. Saling Hormat-Menghormati
Pilar ini menekankan pentingnya menjaga martabat pasangan, baik saat sedang berdua maupun di depan orang lain. Rasa hormat berarti menghargai pendapat, menjaga rahasia satu sama lain, dan memastikan bahwa tidak ada kata-kata atau tindakan yang merendahkan pasangan meski dalam kondisi emosi yang tidak stabil.
3. Diberi Rezeki yang Cukup
Cukup tidak selalu berarti melimpah secara angka, namun cukup secara keberkahan. Dengan menanamkan rasa syukur terhadap berapapun rezeki yang Allah titipkan, pasangan akan terhindar dari rasa haus materi yang berlebihan. Sikap qanaah (merasa cukup) inilah yang menghadirkan ketenangan batin dalam rumah tangga.
4. Hemat Cermat dalam Nafkah
Mengelola ekonomi keluarga dengan hemat dan cermat adalah bentuk kasih sayang untuk menjamin masa depan. Dengan pola hidup yang bersahaja, rumah tangga akan memiliki daya tahan yang kuat dalam menghadapi permasalahan ekonomi di masa depan.
5. Introspeksi Diri
Alih-alih menyibukkan diri dengan “kaca pembesar” untuk mencari cacat dan kekurangan pasangan, pilar ini mengajak setiap individu untuk menggunakan “cermin” guna melihat kekurangan diri sendiri. Rumah tangga akan jauh dari konflik jika suami dan istri lebih sibuk memperbaiki perilaku pribadi daripada menuntut kesempurnaan dari pihak lain.
5 Pilar ini, tidak bisa dicapai jika tidak diawali dengan fondasi yang kuat.
Menurut Sekretaris PWM Sumut ini, 5 pilar ini bisa dibangun jika memiliki 5 T, yakni Taaruf, Tafahum, Tarohum, Takaful dan Taawun.

Fondasi 5T: Transformasi Cinta dari Pengenalan hingga Sinergi Nyata
Irwan Syahputra menjelaskan bahwa lima pilar rumah tangga tersebut memerlukan pondasi operasional yang kuat agar tidak goyah diterjang badai kehidupan.
Fondasi tersebut dirangkum dalam konsep 5T, sebuah perjalanan transformasi hubungan dari sekadar kenal hingga menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Taaruf (Saling Mengenal)
Proses ini tidak berhenti di pelaminan. Taaruf yang sesungguhnya adalah upaya berkelanjutan untuk mendalami karakter, memahami latar belakang keluarga, hingga mengenali lingkungan sosial pasangan. Dengan pengenalan yang mendalam, celah-celah kesalahpahaman dapat ditutup rapat, sehingga tidak ada ruang bagi prasangka buruk (su’udzon) untuk tumbuh di tengah hubungan.
Tafahum (Saling Memahami)
Jika Taaruf adalah pengumpulan informasi, maka Tafahum adalah pengolahannya. Ini adalah seni membuka ruang dialog yang jujur dan empati. Dalam pilar ini, pasangan belajar menjembatani perbedaan karakter, sudut pandang, dan kebiasaan. Tanpa rasa saling memahami, perbedaan kecil bisa menjadi pemicu keretakan; namun dengan Tafahum, perbedaan justru menjadi warna yang memperkaya dinamika rumah tangga.
Tarahum (Saling Menyayangi)
Kasih sayang dalam Islam melampaui sekadar rasa suka. Tarahum menghidupkan sifat Rahmah—sebuah cinta yang tulus dan tidak bersyarat. Rahmah bukan berarti mengasihani pasangan karena kelemahannya, melainkan dorongan spiritual untuk saling memperbaiki diri tanpa rasa benci. Ia adalah tangan yang merangkul saat pasangan terjatuh dan lisan yang menasihati tanpa melukai, demi perubahan yang lebih baik.
Takaful (Saling Membebani)
Pada tahap ini, ego individu mulai melebur. Takaful adalah komitmen untuk saling menanggung beban hidup. Masalah yang dihadapi istri bukan lagi beban sepihak, melainkan menjadi tanggung jawab suami, begitu pula sebaliknya. Terciptanya ikatan batin yang kuat membuat pasangan merasa bahwa mereka berada di “kapal” yang sama; jika satu sisi bocor, keduanya bekerja sama menambalnya.
Ta’awun (Sinergi dan Gotong Royong Menuju Takwa)
Inilah puncak dari segala interaksi dalam rumah tangga. Ta’awun adalah bentuk kerja sama nyata dalam kebaikan dan ketaqwaan. Bukan lagi tentang siapa yang bekerja paling keras, melainkan bagaimana keduanya saling memberdayakan dan melengkapi kekurangan satu sama lain. Melalui Ta’awun, suami dan istri berkolaborasi sebagai tim yang solid untuk mencapai tujuan mulia yakni membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Momen pernikahan juga menandai titik balik tanggung jawab orang tua. Irwan mengingatkan bahwa pernikahan adalah puncak di mana orang tua secara hukum mengakhiri kewajiban nafkah dan perlindungan mereka.
“Jika sebelumnya ketaatan seorang anak adalah kepada Allah dan orang tua, maka setelah akad ini, prioritas ketaatan sang istri berubah menjadi ketaqwaan kepada Allah dan bakti kepada suaminya,” pungkas Irwan.
Prosesi pernikahan Sarah dan Aflaha ini berlangsung dengan penuh haru dan doa, dihadiri oleh jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan kerabat kedua mempelai. (bess)

