Kesalehan Sosial Bukan Sekadar Retorika, Tapi Kerja Nyata
INFOMU.CO | Yogyakarta – Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Arief Barata Al Huda, S.Psi., M.M., menegaskan bahwa kesalehan tidak berhenti pada ritual personal. Dalam Kajian Ifthar di Masjid Al Musannif Tabligh Institute Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Senin (23/2), ia mengangkat tema “Manifestasi Kesalehan Sosial”—sebuah ajakan untuk menerjemahkan iman ke dalam kerja-kerja kemanusiaan.
Di hadapan jamaah yang memadati masjid, Arief menyampaikan bahwa kesalehan sosial adalah perwujudan konkret dari iman ritual dalam bentuk perilaku yang berdampak. “Kesalehan tidak boleh berhenti pada hubungan vertikal dengan Allah (hablum minallah), tetapi harus menjalar kuat dalam hubungan horizontal dengan manusia (hablum minannas),” ujarnya.
Arief mengkritik kecenderungan sebagian umat yang terjebak pada simbol. Menurut dia, masjid tidak cukup dinilai dari kemegahan arsitekturnya.
“Percuma masjid megah jika masih ada tetangganya yang lapar,” katanya.
Ia menekankan bahwa masjid harus memiliki fungsi sosial yang nyata: mengelola zakat, infak, dan sedekah secara terstruktur, lalu mendistribusikannya kepada jamaah yang membutuhkan. Dana sosial, kata dia, bukan pelengkap administrasi, melainkan instrumen pemberdayaan ekonomi dan solusi atas kesulitan warga sekitar.
Masjid, dalam perspektif kesalehan sosial, harus menjadi pusat distribusi kebermanfaatan. Ia bukan sekadar ruang salat, melainkan ruang solidaritas.
Dalam bagian lain ceramahnya, Arief menyinggung soal ujian hidup. Ia mengingatkan kembali prinsip teologis bahwa Allah tidak membebani hamba di luar batas kemampuannya.
“Kalau Anda merasa berat, itu karena Allah tahu Anda kuat,” ujarnya.
Menurut dia, ujian bukan instrumen penghukuman, melainkan mekanisme peningkatan derajat. Perspektif ini, katanya, penting agar umat tidak larut dalam keputusasaan ketika menghadapi tekanan ekonomi, masalah keluarga, atau persoalan sosial.
Kesadaran bahwa ujian adalah bagian dari proses pematangan spiritual, lanjutnya, akan melahirkan ketangguhan dan empati. Orang yang teruji dan sabar biasanya lebih peka terhadap penderitaan orang lain.
Arief juga menyoroti prinsip kemudahan dalam Islam. Ia menolak pemahaman yang menyempitkan ibadah hanya pada ritual formal di masjid.
“Ibadah bukan hanya salat. Bekerja mencari nafkah, menolong sesama, menjaga kejujuran dalam profesi—itu semua bagian dari ibadah,” katanya.
Menurut dia, Allah tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga kesungguhan usaha. Dalam konteks sosial, bekerja keras untuk keluarga dan masyarakat adalah ekspresi iman yang tidak kalah nilainya dibanding aktivitas ritual.
Pesan ini, kata Arief, penting agar umat tidak terjebak pada dikotomi antara kehidupan spiritual dan kehidupan sosial. Keduanya harus berjalan beriringan.
Di akhir kajian, Arief merumuskan kembali gagasannya: kesalehan sejati adalah ketika ketaatan kepada Allah melahirkan kepedulian terhadap manusia.
Ritual yang tidak berbuah empati, menurutnya, perlu dievaluasi. Sebab, tujuan akhir dari ibadah adalah pembentukan karakter yang bermanfaat.
“Semakin taat kepada Allah, seharusnya semakin lembut kepada sesama,” ujarnya.
Melalui tema “Manifestasi Kesalehan Sosial”, kajian ifthar sore itu bukan sekadar penguatan spiritual menjelang berbuka. Ia menjadi pengingat bahwa Ramadhan—dan ibadah secara umum—baru menemukan maknanya ketika iman menjelma tindakan, dan masjid menjadi pusat kebermanfaatan bagi masyarakat sekitarnya. (tabligh)

