Penertiban Tambang Setengah Hati dan Berolok-olok
INFOMU.CO| Banda Aceh – Dengan bukti banjir bandang serta kerusakan ekosistem dan ekologi lingkungan hidup, secara realitas bahwa praktik pertambangan baik legal maupun ilegal telah meluluhlantakkan, menghancurleburkan Aceh. Maka 18 daerah terdampak kerusakan langsung dari 23 Kabupaten/Kota di Aceh, meskipun secara keseluruhannya Aceh terdampak dari periswa dan musobah banjir bandang serta kerusakan ekosistem dan ekologi linfkungan hidup.
Demikian dijelaskan Taufiq A. Rahim, Pengantar Sosial dan Politik Aceh, kepada redaksi infomu.co. Namun adanya usaha penertiban dari pihak keamanan gabungan yang dieksposer ke media massa, terkesan pilih-pilih, setengah hati dan berolok-olok. Karena yang diperlihatkan serta perlakuan penertiban hanya tenda bekas dan kayu penyangga. Sementara itu, orang yang melakukan praktik pertambangan ghaib, tidak nampak. Jadi antara penertiban serius atau hanya pencitraan.
Jelas Taufiq, terbukti secara empirik sejak 26 November 2025, sampai dengan saat ini nenjelang puasa Ramadhan 1447H rakyat korbannya kucar-kacir, hancur lebur, tidak berdaya, bahkan bantuan tanggap darurat-pun tidak jelas, banyak hanya dapat bantuan seadanya, beras 5 kg, minyak goreng, telur, mie instan, baju bekas berla gsung 2 kali.
Karenanya, penyelesaian dan nasibnya tidak jelas, akses masih sulit, kesehatan hanya diatasi relawan dan vanyak hal lagi yang mendasar belum tertangani, meskipun nyaring terdengar uang bantuan pada Pemerintah Aceh Rp 132 miliar, juga terdengar terakhir Menteri Keuangan RI melakukan transfer Rp 1.279 triliun. Kemana dan bagaimana kejelasan dan penggunaannya tidak transparan. Jangan-jangan ini juga terus menjadi sumber kegaduhan dan tetindikasi korupsi baru di Aceh, ini mesti ditertibkan juga.
Terkait dengan penertiban yang dilakukan, jelas Taufiq, maka penertiban tambang legal jelas dilakukan termasuk Analisis Manajemen Dampak Lingkungan (AMDAL) serta kawasan, luasan eksploitasi. Disamping praktik eksploitasi ilegal yang perlu ditertibkan dan diperhatikan, jangan hanya sekedar eksposer penertiban, tetapi orang serta alat beratnya “gjaib”.
Sehingga rerkesan setengah hati dan berolok-olok terhadap rakyat Aceh danbrakyat terdampak langsung tidak jelas masa depannya, apalagi menjelang puasa Ramadhan 1447H yang sudah di depan mata, kata Taufiq (Syaifulh)

