Donald Trump Umumkan Rencana Penarikan Pasukan AS dari Kawasan Konflik
INFOMU.CO | Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana penarikan pasukan AS dari kawasan konflik dengan Iran, menyatakan tidak akan lagi terlibat dalam pengamanan Selat Hormuz. Pernyataan tersebut seperti yang dikutip dari laporan The Wall Street Journal pada Senin (30/3) waktu setempat dan dilansir oleh detikNews, dengan Trump menyampaikan, “Saya akan segera mundur dari perang, tidak peduli lagi dengan Hormuz dan tak akan terlibat, silahkan masuk saja sendiri-sendiri tanpa AS ya!!”.
Trump menegaskan bahwa tujuan operasi militer AS telah tercapai setelah melemahkan kekuatan militer dan persediaan rudal Iran, sebagaimana dikutip dari laporan Reuters pada 10 Maret 2026 dan dirangkum oleh detikNews. Penarikan dilakukan tanpa menunggu kesepakatan damai, dengan harapan dapat menurunkan lonjakan harga minyak dunia yang saat ini berkisar antara $90 hingga hampir $120 per barel – naik dari $73 sebelum permulaan konflik. Raksasa perbankan investasi JPMorgan bahkan memprediksi harga bisa melonjak hingga $150 per barel jika penutupan selat berlanjut selama sebulan ke depan, seperti yang dilaporkan oleh investor.id.
AS juga tidak lagi akan bertindak sebagai “polisi dunia” untuk jalur pelayaran yang membawa sekitar 20% pasokan minyak global. Tanggung jawab keamanan diserahkan kepada negara-negara konsumen minyak seperti China, Prancis, dan negara lain yang berkepentingan, sesuai dengan pernyataan Trump yang sebelumnya disampaikan melalui media sosial dan dilaporkan oleh kontan.co.id pada 14 Maret 2026.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mendukung keputusan ini, menyatakan beban pengamanan harus dipikul bersama. Namun, ahli seperti Suzanne Maloney dari Brookings Institution – yang telah lama menganalisis kebijakan AS di Timur Tengah seperti yang terlihat dalam tulisannya di Foreign Affairs pada Oktober 2025 – mengkritik langkah tersebut sebagai “tidak bertanggung jawab”, karena pasar energi global akan tetap terdampak jika selat yang saat ini terkunci efektif tidak segera dibuka.
Menurut laporan viva.co.id pada 1 April 2026, Iran telah menerapkan sistem seperti “gerbang tol” untuk kapal yang ingin melewati kawasan tersebut dan bahkan mengajukan tuntutan pengakuan kedaulatan penuh atas Selat Hormuz sebagai syarat perdamaian, yang ditolak oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. (***)

