• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Kriteria, Otoritas, dan Wilayah Keberlakuan dalam Kalender Islam Global

Keikhlasan atau Ambisi: Mana yang Seharusnya Kita Pilih?

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
17 Maret 2026
in Kolom
0

Keikhlasan atau Ambisi: Mana yang Seharusnya Kita Pilih?

(Tulisan ke-47 dari Beberapa Tulisan Terkait Kaderisasi)

Oleh : Amrizal – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumatera Utara / Dosen Unimed

Sudah cukup lama saya bergumul dengan pertanyaan ini: Apakah kita benar-benar memahami makna dari “di Muhammadiyah, kami tidak pernah meminta jabatan, tetapi pantang menolak ketika diberi amanah?” Sering kali, ungkapan tersebut terdengar mulia dan penuh makna, tetapi tidak jarang ia juga menjadi kalimat yang justru dipakai untuk menutupi ketidakberanian kita menghadapi kenyataan yang lebih dalam. Keikhlasan—yang seharusnya menjadi ruh dari setiap amanah—dalam beberapa kesempatan, bisa menjadi kedok untuk menyembunyikan ambisi yang tak terucap.

Mari kita bicara tentang kenyataan di lapangan. Di banyak kesempatan, saya sering mendengar ungkapan ini diulang-ulang oleh orang-orang yang sama yang, ketika diberi amanah, kemudian terjebak dalam pola pikir bahwa jabatan adalah tujuan. Mereka mengatakan, “Saya menerima ini karena amanah,” namun tindakan mereka terkadang mencerminkan hal yang sebaliknya—seolah mereka memanfaatkan posisi tersebut sebagai batu loncatan untuk kekuasaan lebih besar atau untuk memperoleh pengakuan lebih luas. Di sini kita harus bertanya dengan jujur: apakah benar kita telah menerima amanah, atau sebenarnya kita sedang menerima kesempatan untuk menguasai lebih banyak ruang?

Muhammadiyah mengajarkan kita untuk tidak mengejar jabatan, dan seharusnya itu diterima sebagai prinsip yang mendalam, bukan sekadar slogan kosong. Namun, kenyataannya, dalam beberapa situasi, kita lebih sering menemukan orang yang menginginkan posisi tertentu lebih daripada yang ingin berkontribusi. Mengapa? Karena di balik penolakan yang penuh kemasan, ada ketakutan akan kehilangan kontrol, kekuasaan, atau status sosial. Ini adalah penyakit laten yang sudah menggerogoti banyak gerakan, bukan hanya Muhammadiyah. Banyak yang berlindung di balik kalimat ini untuk menutupi ketakutan mereka kehilangan pengaruh.

Saya berpikir, bagaimana kita bisa meyakinkan diri bahwa kita tidak termakan ambisi ketika kita menerima amanah, ketika dalam hati kita yang terdalam kita tahu bahwa kita juga berharap mendapat penghargaan atau posisi yang lebih tinggi setelahnya? Keikhlasan itu bukan hanya tentang mengatakan “ya” pada amanah yang datang, tetapi tentang menyingkirkan segala macam ambisi yang bersembunyi di balik kata-kata tersebut. Keikhlasan adalah tentang seberapa jauh kita mampu menahan diri dari pengaruh duniawi yang sering kali datang bersama jabatan. Tidak cukup hanya dengan berkata, “Saya siap mengemban amanah ini,” jika di balik kata-kata tersebut ada keinginan untuk mengambil lebih banyak daripada yang seharusnya.

Tentu saja, tak ada yang salah dengan menginginkan untuk berkembang dan memperoleh kesempatan. Tetapi mari kita lihat fakta yang ada: bagaimana kita memperlakukan amanah itu setelah kita memegangnya? Apakah kita fokus pada penyelesaian tugas dan pencapaian tujuan organisasi? Ataukah kita mulai lebih sering berbicara tentang kepentingan pribadi, mencoba menjaga posisi, atau membangun jaringan yang menguntungkan kita secara pribadi? Di situlah ujian sebenarnya—bukan di saat kita mengangkat tangan menerima jabatan, tetapi di saat kita mulai mengelola apa yang sudah diberikan kepada kita.

Amanah dalam Muhammadiyah tidak bisa dipisahkan dari konsep tanggung jawab yang utuh. Ini bukan hanya tentang siap atau tidak siap memimpin, tetapi lebih kepada bagaimana kita memanfaatkan kesempatan untuk berbuat lebih banyak. Ini bukan soal ketakutan akan penolakan, melainkan kesadaran akan potensi yang bisa kita bawa kepada umat. Tanggung jawab bukan sekadar memberikan jawaban atas apa yang sudah ada, tetapi menggali lebih dalam lagi, memikirkan lebih jauh, dan merancang perubahan yang lebih besar bagi kebaikan umat.

Masalahnya, dalam banyak kasus, kita terlalu sering terjebak dalam rutinitas organisasi tanpa ada upaya serius untuk memikirkan arah yang lebih jelas. Di sinilah letak krisis dalam Muhammadiyah saat ini—banyak yang menerima amanah, tetapi tidak cukup memiliki keberanian untuk merombak struktur yang sudah usang. Banyak yang lebih nyaman dengan keadaan yang ada, memilih untuk bertahan di zona nyaman daripada mengambil risiko untuk melakukan perubahan. Dan di situlah organisasi ini mulai kehilangan relevansinya. Mungkin kita sudah terlalu lama terjebak dalam sejarah yang gemilang tanpa benar-benar memahami apa yang harus dilakukan untuk menghadapinya dengan cara yang lebih cerdas.

Muhammadiyah adalah gerakan yang besar, namun besar bukan berarti sempurna. Dalam banyak hal, kita harus mengakui bahwa organisasi ini pun mengalami stagnasi—bukan karena kurangnya niat baik, tetapi karena kurangnya kesadaran untuk melakukan evaluasi diri yang menyeluruh. Kami, sebagai bagian dari Muhammadiyah, sering kali terlalu mudah merasa puas dengan pencapaian-pencapaian kecil. Padahal, perubahan yang dibutuhkan tidak sekadar pada level internal, tetapi juga pada cara kita menyikapi tantangan zaman. Menjadi bagian dari Muhammadiyah bukan hanya soal mengulang kalimat “bagi Muhammadiyah jiwa raga kami,” tetapi juga soal bertanggung jawab untuk meletakkan gerakan ini pada jalur yang benar dan relevan dengan tantangan masa depan.

Salah satu ujian terbesar yang dihadapi organisasi ini adalah bagaimana menjaga kemurnian niat di tengah berbagai godaan. Keikhlasan itu hanya bisa diuji dengan keberanian untuk terus-menerus mengkoreksi diri dan bertanya: Apakah saya benar-benar mengerjakan ini untuk umat, ataukah saya hanya mengejar pencapaian pribadi dalam wujud jabatan atau pengaruh?

Pada titik ini, Muhammadiyah membutuhkan lebih dari sekadar pengakuan bahwa kita tidak memanfaatkan jabatan. Kita membutuhkan kader yang berani menyatakan, “Saya siap melepaskan kenyamanan pribadi demi kemajuan umat.” Kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya pandai berkata, tetapi juga berani bertindak, berani memperbaiki dan bahkan menggugat hal-hal yang sudah lama dianggap benar tapi sebenarnya tidak lagi relevan dengan kebutuhan zaman.

Kita tak boleh menutup mata dari kenyataan bahwa saat ini banyak sekali orang yang menginginkan amanah bukan sebagai bentuk pengabdian, melainkan sebagai pintu masuk menuju kemapanan atau pengaruh yang lebih besar. Seringkali kita lupa bahwa amanah yang diterima harusnya menjadi sarana untuk melakukan sesuatu yang lebih besar, bukan untuk memperbesar diri kita sendiri. Dan di sini, kita harus berhenti bertanya hanya pada orang lain—“Apakah mereka ikhlas mengemban amanah ini?”—dan mulai bertanya pada diri kita sendiri, “Apakah saya ikhlas dalam menjalankan tugas ini tanpa embel-embel apapun selain untuk Allah dan umat?”

Maka pertanyaan yang akhirnya harus kita jawab bukan hanya soal menerima atau menolak amanah, tetapi bagaimana kita bisa memastikan bahwa amanah itu dilaksanakan dengan integritas, kejujuran, dan kesungguhan yang penuh, tanpa terpengaruh oleh godaan-godaan duniawi yang sering kali menyelubungi setiap jabatan yang ada.

Jika kita tidak bisa menjawab pertanyaan ini dengan jujur, maka wajar jika kita mulai meragukan keberlanjutan gerakan ini. Muhammadiyah adalah tentang komitmen untuk umat, bukan tentang berapa banyak jabatan yang kita raih. Saatnya kita refleksikan dengan benar: apakah kita siap untuk mengabdi tanpa pamrih, ataukah kita hanya ingin menikmati hasil dari sebuah proses panjang yang kita klaim sebagai pengabdian?

Wallahu a’lam bish shawab

 

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: amrizalkeikhlasan atau ambisiopini
Previous Post

Hadirkan Senyum Bahagia, Lazismu Kota Medan Fasilitasi 170 Anak Yatim Belanja Baju Lebaran

Next Post

Silaturahmi Ramadhan: Ketika Kader Mencari Persyarikatan dan Kebersamaan Menjadi Energi Peradaban

Next Post
Menata Dakwah Berbasis Data: Pelatihan SiCARA dan SiMasMu LPCR PM PWM Sumut di Tebing Tinggi

Silaturahmi Ramadhan: Ketika Kader Mencari Persyarikatan dan Kebersamaan Menjadi Energi Peradaban

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.