1 Muharram 1448 H: Saatnya Berhijrah dari Nostalgia Menuju Peradaban
Oleh : Ust.Talkisman Tanjung
Setiap kali bulan Muharram datang, umat Islam kembali memasuki lembaran tahun yang baru. Angka kalender berubah dari 1447 menjadi 1448 Hijriah. Banyak yang saling mengucapkan selamat tahun baru Islam, mengadakan pengajian, tabligh akbar, pawai obor, dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya. Semua itu tentu baik dan patut disyukuri.
Namun ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan bersama: apakah pergantian tahun Hijriah hanya akan menjadi peristiwa rutin yang berulang tanpa meninggalkan jejak perubahan dalam kehidupan umat?
Sesungguhnya, kalender Hijriah lahir bukan dari peristiwa kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, bukan pula dari kemenangan perang besar, melainkan dari sebuah peristiwa bersejsrah yaitu HIJRAH. Sebuah perjalanan yang penuh risiko, pengorbanan, dan keberanian untuk berubah.
Karena itu, makna terdalam Tahun Baru Islam bukanlah pergantian waktu, melainkan pergantian kualitas diri.
Hijrah adalah keberanian meninggalkan keadaan lama yang menghambat kemajuan menuju keadaan baru yang lebih baik.
Ketika Nabi Muhammad ﷺ hijrah dari Makkah ke Madinah, yang beliau bangun bukan sekadar tempat tinggal baru, tetapi beliau membangun sebuah peradaban.
Di Madinah, Nabi membangun masjid sebagai pusat spiritualitas, membangun persaudaraan sebagai fondasi sosial, membangun pasar sebagai kekuatan ekonomi, dan membangun pendidikan sebagai sarana mencerdaskan umat.
Dalam waktu yang relatif singkat, lahirlah masyarakat yang mampu mengubah arah sejarah dunia.
Di sinilah pelajaran penting bagi umat Islam masa kini.
Hijrah bukan hanya berpindah tempat. Hijrah adalah berpindah cara berpikir. Hijrah adalah perubahan dari budaya mengeluh menuju budaya bekerja.
Hijrah adalah perubahan dari sikap menyalahkan keadaan menuju keberanian memperbaiki keadaan.
Hijrah adalah perubahan dari sekadar menjadi penonton sejarah menjadi pelaku sejarah.
Kita harus jujur mengakui bahwa sebagian umat Islam hari ini masih terlalu sering hidup dalam romantisme masa lalu.
Kita bangga menceritakan kejayaan Baghdad, Cordova, Damaskus, dan berbagai pusat peradaban Islam. Kita mengagumi ilmuwan-ilmuwan Muslim seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Biruni, dan Ibnu Khaldun.
Semua itu memang membanggakan.
Tetapi kebanggaan terhadap masa lalu tidak akan mengubah masa depan jika tidak melahirkan semangat untuk berkarya pada masa kini.
Tidak ada gunanya terus menerus menceritakan betapa hebatnya umat Islam dahulu jika kita tidak berusaha menjadi umat yang hebat hari ini.
Generasi terdahulu dikenang bukan karena mereka sibuk mengenang leluhurnya, tetapi karena mereka menghasilkan karya yang dikenang oleh generasi sesudahnya.
Pertanyaannya sekarang adalah : apa yang sedang kita wariskan kepada generasi yang akan datang?
Tahun Baru Islam 1448 H seharusnya menjadi momentum kebangkitan baru. Kebangkitan ilmu pengetahuan.Kebangkitan pendidikan. Kebangkitan ekonomi umat. Kebangkitan akhlak.
Hijrah adalah keberanian meninggalkan keadaan lama yang menghambat kemajuan menuju keadaan baru yang lebih baik.
Dalam waktu yang relatif singkat, lahirlah masyarakat yang mampu mengubah arah sejarah dunia.
Hijrah adalah perubahan dari budaya mengeluh menuju budaya bekerja.
Hijrah adalah perubahan dari sikap menyalahkan keadaan menuju keberanian memperbaiki keadaan.
Hijrah adalah perubahan dari sekadar menjadi penonton sejarah menjadi pelaku sejarah
Semua itu memang membanggakan kita semua.
Generasi terdahulu dikenang bukan karena mereka sibuk mengenang leluhurnya, tetapi karena mereka menghasilkan karya yang dikenang oleh generasi sesudahnya.
Pertanyaannya sekarang, apa yang sedang kita wariskan kepada generasi yang akan datang ?
Umat Islam tidak boleh puas hanya menjadi konsumen teknologi. Kita harus menjadi pencipta teknologi.
Tidak cukup hanya menjadi pengguna ilmu. Kita harus menjadi pengembang ilmu.
Tidak cukup hanya mengelola masa kini. Kita harus menyiapkan masa depan.
Dalam Al-Qur’an, Allah berulang kali mengajak manusia untuk berpikir, membaca, meneliti, memperhatikan alam semesta, dan mengambil pelajaran dari sejarah. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mendorong kemajuan.
Keimanan dan kemajuan bukanlah dua hal yang bertentangan.
Justru iman yang benar akan melahirkan kerja keras, disiplin, kejujuran, kreativitas, dan tanggung jawab.
Bagi Muhammadiyah dan seluruh gerakan Islam berkemajuan, semangat hijrah harus diterjemahkan dalam tindakan nyata.
Masjid tidak boleh hanya ramai ketika shalat Jumat, tetapi harus menjadi pusat pemberdayaan umat.
Sekolah tidak boleh hanya meluluskan siswa, tetapi harus melahirkan generasi pemimpin.
Pengajian tidak boleh hanya menambah pengetahuan agama, tetapi juga membangun kesadaran sosial dan semangat perubahan.
Organisasi Islam harus mampu menjadi motor penggerak kebangkitan dakwah yang mencerahkan.
Umat Islam tidak boleh puas hanya menjadi konsumen teknologi. Kita harus menjadi pencipta teknologi.
Tidak cukup hanya menjadi pengguna ilmu. Kita harus menjadi pengembang ilmu.
Tidak cukup hanya mengelola masa kini. Kita harus menyiapkan masa depan.
Dalam Al-Qur’an, Allah berulang kali mengajak manusia untuk berpikir, membaca, meneliti, memperhatikan alam semesta, dan mengambil pelajaran dari sejarah. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mendorong kemajuan.
Keimanan dan kemajuan bukanlah dua hal yang bertentangan.
Justru iman yang benar akan melahirkan kerja keras, disiplin, kejujuran, kreativitas, dan tanggung jawab.
Bagi Muhammadiyah dan seluruh gerakan Islam berkemajuan, semangat hijrah harus diterjemahkan dalam tindakan nyata.
Masjid tidak boleh hanya ramai ketika shalat Jumat, tetapi harus menjadi pusat pemberdayaan umat.
Sekolah tidak boleh hanya sekedar meluluskan siswa/mahasiswa, tetapi harus melahirkan generasi pemimpin.
Pengajian tidak boleh hanya menambah pengetahuan agama, tetapi juga membangun kesadaran sosial dan semangat perubahan.
Organisasi tidak boleh hanya sibuk dengan rutinitas administrasi, tetapi harus menjadi mesin penggerak kemajuan masyarakat.
Hijrah harus tampak dalam kualitas amal.
Hijrah harus terlihat dalam karya.
Hijrah harus terasa manfaatnya bagi umat dan bangsa.
Pada akhirnya, Tahun Baru Islam 1448 H mengingatkan kita bahwa waktu terus berjalan. Umur semakin berkurang. Kesempatan tidak akan datang dua kali dengan cara yang sama.
Maka jangan biarkan Muharram berlalu hanya sebagai pergantian angka kalender.
Jadikan 1 Muharram sebagai titik awal untuk memperbarui niat, memperkuat tekad, memperluas wawasan, dan meningkatkan kontribusi.
Umat Islam tidak dilahirkan untuk menjadi penonton peradaban. Umat Islam dipanggil untuk membangun peradaban.
Hijrah yang sesungguhnya bukan sekadar berpindah tempat, melainkan berpindah dari kelemahan menuju kekuatan, dari keterbelakangan menuju kemajuan, dari ketergantungan menuju kemandirian, dan dari mimpi menuju karya nyata.
Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.
Saatnya berhijrah.
Saatnya bergerak.
Saatnya membangun masa depan umat yang lebih berkemajuan.
WALLAAHU A’LAM
Batahan, malam 1 muharram 1448 H.

