• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Toposentrik, Geosentrik, dan KHGT (Tanggapan Kembali atas Tulisan Pakar BRIN & Kemenag RI)

Arwin Juli Rakhmadi Butarbutar

Toposentrik, Geosentrik, dan KHGT (Tanggapan Kembali atas Tulisan Pakar BRIN & Kemenag RI)

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
9 Januari 2026
in Tarjih
0

Toposentrik, Geosentrik, dan KHGT (Tanggapan Kembali atas Tulisan Pakar BRIN & Kemenag RI)

 Oleh : Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar – Dosen FAI UMSU dan Kepala OIF UMSU

 

 Setelah saya merespons dua tulisan sang pakar BRIN dan Kemenag RI (baca: https://oif.umsu.ac.id/tanggapan-atas-klaim-khgt-tidak-cermat-oleh-profesor-brin-dan-anggota-tim-hisab-rukyat-kementerian-agama-ri/), sang pakar kembali merilis tulisan terbaru berjudul: “KHGT Tidak Akurat Merujuk Turki: Beda Ramadhan 1447 karena Tinggi Toposentrik-Geosentrik, Bukan Masalah Alaska”. Tulisan sang pakar ini berupaya mempertahankan dan membenarkan tulisan-tulisan (pernyataan-pernyataan) di dua tulisan sebelumnya, terutama soal “KHGT Tidak Cermat”. Bahkan dalam tulisan ini sang pakar menambah diksi tendensius lagi yaitu “KHGT Tidak Akurat…”.

Jika sebelumnya sang pakar belum membaca penjelasan ilmiah MTT PP Muhammadiyah (baca: https://tarjih.or.id/penjelasan-mtt-pp-muhammadiyah-tentang-penyesuaian-penetapan-1-ramadan-1447-hijriah/), kini beliau telah membacanya dan menganggapnya tidak ilmiah dengan menyatakan penjelasan itu hanya “klaim”. Selain itu, jika dalam perdebatan sebelumnya sang pakar mempermasalahkan soal teknis geografis sebuah wilayah, dalam hal ini Alaska apakah masuk daratan Amerika atau tidak, kini dengan telah membaca penjelasan MTT PP Muhammadiyah beliau beralih mempermasalahkan soal geosentrik-toposentrik. Dalam konteks ini, KHGT sebagai sistem kalender yang baru tentu terbuka untuk diuji dan dikritisi secara berkelanjutan, dan sepenuhnya tidak ada masalah, namun patut dicatat cara dan narasi mempermasalahkan akan menjadi permasalahan pula, yaitu jika tidak ada rasa hormat dan menghargai terhadap sebuah organisasi keislaman yang setara, bahkan lebih tua dari Nahdlatul Ulama yang kerap sang pakar bela. Substansi tanggapan tulisan saya sebenarnya pada aspek ini, adapun aspek ilmiah KHGT secara umum sudah banyak dibahas oleh berbagai pihak. Persatuan Islam dan Nahdlatul Ulama misalnya secara tegas menolak KHGT dengan alasan dan argumen masing-masing. Atas penolakan dua ormas ini Muhammadiyah mengkaji lebih dalam dan menguatkan argumentasinya, dalam perkembangannya respons yang muncul lebih pada ranah argumentasi, bukan tendensi, yang berdampak positif bagi umat.

Namun yang pasti sang pakar telah membaca penjelasan MTT PP Muhammadiyah yang beliau anggap “klaim” itu dengan saksama dan akhirnya beliau menanggapi (mengkritisi secara kritis namun juga terkesan tendensius). Saya sudah terbiasa dan berulang melihat dan mengikuti pola dialog/diskusi beliau, yang adakalanya sebenarnya beliau tidak tau atau belum mendapatkan informasi utuh terhadap suatu hal namun menyimpulkan, dan tatkala informasi itu telah utuh barulah dilakukan klarifikasi dalam bentuk tulisan apologis, tulisan terakhir ini salah satu buktinya. Klarifikasi yang disampaikan lebih banyak berbentuk penjelasan lanjutan, bukan pengakuan eksplisit atas ketidak utuhan data dan informasi sebelumnya.

Sekali lagi, saya sudah paham tipikal beliau dalam berdialog, selain saya juga sudah paham kecenderungan kepakaran beliau yang, maaf, tidak netral, yang tentu hak beliau berkecenderungan demikian. Dalam sebuah persoalan yang bersifat furuk (cabang), fleksibel, dan normatif, sepenuhnya dipahami tidak akan ada kata sepakat, yang ada adalah perbedaan pendapat dengan argumen masing-masing dan saling menghormati. Karena itu penolakan atas KHGT oleh Persis dan NU sepenuhnya dapat dipahami dan dihormati, dan tidak merubah rasa hormat pada dua ormas mulia ini. Menghormati dan menghargai eksistensi pihak lain dan pilihannya adalah prinsip sejati Islam, humanisme universal, dan menjadi ciri bangsa Indonesia.

Kembali ke tulisan sang pakar BRIN & Kemenag RI, tampak KHGT benar-benar dikaji dengan serius oleh sang pakar, KHGT kini telah masuk dalam alam pikiran dan menjadi perrhatian serius sang pakar. Hal yang positif, dalam tulisan ini beliau mulai menunjukkan kepakarannya di bidang astronomi, yang seharusnya seperti itu, dalam menganalisis simpang-siur awal Ramadan apakah tanggal 18 atau 19. Analisisnya atas peta Diyanet maupun KHGT serta kesimpulan atas analisisnya yang berbeda dengan pemahaman dan kesimpulan MTT PP Muhammadiyah sepenuhnya dihormati. Hal menarik, sang pakar intens menganalisis peta KHGT untuk awal Ramadan 1447 H, padahal Ramadan masih sekian puluh hari lagi. Demikian lagi, saya hanya teringat, dulu beliau kerap menanya dan mempertanyakan mana peta KHGT dengan mengunggulkan peta-peta yang sudah ada, kini akhirnya beliau dapat ‘menganalisis’ peta KHGT.

KHGT memang layak diuji dan dikritisi karena memang baru diterapkan pada awal Muharam 1447 H. Dalam tulisan-tulisan sebelumnya saya sudah menegaskan tentang riskan dan rentannya praktik dan implementasi KHGT ini. Selain merupakan tawaran baru, juga karena ada banyak rumusan yang tak biasa, seperti soal awal hari, soal hilal di bawah ufuk, dan soal transfer imkan rukyat.

Adapun peta Diyanet Turki, yang dipermasalahkan sang pakar, yang menurut MTT PP Muhammadiyah juga ‘bermasalah’, memang menjadi catatan bagi pihak yang tidak melihat secara komprehensif. Di WhatsApp group “Kalender Hijri Nasional”, sebuah group yang saya dan sang pakar kerap berdialektika, saya telah mengingatkan dan menyarankan untuk menganalisis peta Diyanet secara keseluruhan (paling tidak setahun atau 12 bulan), bukan semata satu peta awal Ramadan 1447 H itu. Ini penting untuk membuktikan alasan MTT PP Muhammadiyah memilih geosentrik, bukan toposentrik. Bila diperhatikan, sesuai crosscheck informasi yang saya lakukan kepada salah seorang tim IT/Software MTT PP Muhammadiyah didapati ternyata Diyanet Turki tidak konsisten menggunakan toposentrik. Adakalanya menggunakan toposentrik, namun adakalanya juga menggunakan geosentrik, sehingga ini cukup ‘membingungkan’, selain terdapat pula hal-hal unik-problematik lainnya. Dengan analisis dan crosscheck komprehensif tim MTT PP M ini akhirnya mendorong untuk memilih geosentrik. Karena itu, dengan analisis dan crosscheck MTT PP Muhammadiyah sedemikian ini lalu dinyatakan tidak cermat, lalu tidak akurat, sungguh ini sikap tidak terbuka alias tendensius. Sang pakar hanya mengkaji satu peta, satu bulan, yaitu Ramadan 1447 H, sementara MTT PP Muhammadiyah mengkaji komprehensif, dan atas kajiannya ini MTT PP Muhammadiyah tidak pernah merasa paling cermat dan paling akurat.

Lalu, di bagian akhir tulisannya sang pakar menyatakan sebagai berikut: “Mestinya KHGT juga merujuk tinggi toposentrik seperti yang dirumuskan saat konferensi 2016”. Ini pernyataan dan kesimpulan yang jauh, yang coba menerjemahkan putusan Turki 2016 M namun kurang tepat. Sama diketahui baik dalam dokumen putusan, rekomendasi, maupun rekapitulasi muktamar Turki 2016 M tidak ada frasa definitif “toposentrik” maupun “geosentrik”. Hal ini tak ayal menyebabkan interpretasi atas parameter 5-8 beragam. Sementara itu crosscheck dan konfirmasi yang dilakukan oleh tim MTT PP Muhammadiyah maupun pihak lain kepada pihak Diyanet Turki membuktikan baik ketinggian maupun elongasi yang dimaksud adalah geonsentrik, bukan toposentrik. Adapun bahwa dalam astronomi, menurut sang pakar, “ketinggian dari ufuk selalu bermakna tinggi toposentrik, bukan geosentrik”, adalah satu pandangan yang saya yakini ilmiah, namun tetap merupakan satu pendapat, bukan satu-satunya pendapat. Masih segar diingatan kita perbedaan dan perdebatan interpretasi toposentrik dan geosentrik untuk awal Syawal 1443 H di Indonesia, yang amat dinamis waktu itu (baca: https://oif.umsu.ac.id/paradoks-kriteria-mabims-3-6-4/). Karena itu, diksi “Mestinya KHGT…” dari sang pakar adalah pernyataan yang terkesan memaksa.

Karena itu lagi-lagi pernyataan sang pakar yang dalam tulisannya ini kembali menyatakan “MTT PPM tidak cermat merujuk kriteria Turki”, di saat dinamis dan beragamnya interpretasi atas putusan Turki 2016 M tersebut menunjukkan tendensi yang tak pernah padam dari sang pakar. Pada tulisan sebelumnya (baca: https://oif.umsu.ac.id/tanggapan-atas-klaim-khgt-tidak-cermat-oleh-profesor-brin-dan-anggota-tim-hisab-rukyat-kementerian-agama-ri/) secara implisit saya menyarankan beliau menggunakan diksi-narasi yang normatif dengan tetap kritis. Namun tampaknya beliau enggan dan malah mengulang dan bahkan menambah diksi-tendensius baru yaitu “KHGT Tidak Akurat…”. maka kesimpulannya, ini tipikal beliau. Wallahu a’lam[]

 

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Klik untuk mencetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: arwinKHGT
Previous Post

Pesantren Modern Muhammadiyah Kwala Madu Gelar Bimtek Training of Trainer Deep Learning

Next Post

MDMC Perkuat Kapasitas Guru Terdampak Melalui Bimtek Pendidikan Darurat dan Layanan Psikososial

Next Post
MDMC Perkuat Kapasitas Guru Terdampak Melalui Bimtek Pendidikan Darurat dan Layanan Psikososial

MDMC Perkuat Kapasitas Guru Terdampak Melalui Bimtek Pendidikan Darurat dan Layanan Psikososial

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.